M. Daryono

Nama :
Muhammad  Daryono
 
Lahir :
Jakarta 26 Januari 1933
 
Wafat :
Surabaya, Jawa Timur, 1992
 
Aktifitas lain :
Pendiri Akademi Seni Rupa Surabaya (AKSERA),
Ketua Lembaga Pengembangan Seni Rupa AKSERA (1969-1973),
Dosen Seni Lukis AKSERA (1969-1973),
Dosen STKW Surabaya (1972-1973),
Ketua Dewan Kesenian Surabaya (1972-1973)
 
Karya Lukis, antara lain :
Sumur Tua,
Pelabuhan Minyak Balikpapan (1974)
 
Karya Patung, antara lain :
Patung Gubernur Soeryo


Pelukis
M. Daryono
 
 
 
Pelukis bohemian ini lahir di Jakarta 26 Januari 1933, dari keluarga ningrat. Tahun 1957 meninggalkan lingkungan keluarga untuk secara otodidak menjadi pelukis. Selama periode 1960-1962 ia tinggal di Bali. Pengagum Chairil Anwar dan Affandi yang pernah melakukan gerakan membendung pengaruh komunisme yang sempat merajalela pada tahun 1960 an ini tercatat mengikuti pameran lukisan bersama di Surabaya pada tahun 1963. Sesudah itu ia mulai aktif menjadi peserta pada pameran-pameran lukisan yang diadakan di beberapa kota di Indonesia. Ikut juga bergabung dalam kelompok Sanggar Angin bersama Krishna Mustadjab, dan Karyoso Ys. Selain mengadakan kegiatan melukis bersama dan berdiskusi, mereka juga mengadakan pameran lukisan bersama.
 
Lukisan-lukisan karyanya bermula dari bentuk-bentuk ekspresif dari obyek yang digambar secara realis, kemudian berkembang dalam teknik seni kubistis. Tema-tema yang dilukisnya sebagian besar menggambarkan kehidupan masyarakat bawah, para pedagang kecil, tetangga di sebelah rumah, istrinya maupun sahabat-sahabatnya. Seperti katanya, “Saya melukis apa saja yang menyentuh nurani saya, terutama segala masalah manusia, kalo toh saya melukis dengan tema protes sosial,maka hal itu saya lakukan dengan berpaling dari tendensi politiknya”. Puluhan lukisannya tercatat dari tahun ketahun hanya di beri judul ‘Humanika’.
 
Seringnya ia mengikuti pameran bersama, membuat pelukis yang pernah mengikuti sejumlah seperti Pameran Bienalle Seni Lukis Indonesia dan Pameran Lukisan Dunia Minyak Indonesia pada tahun 1974 di Taman Ismail Marzuki ini jarang mengadakan pameran tunggal. Pameran tunggalnya bisa dibilang amat langka dan bisa di hitung jari. Terakhir ia mengadakan pameran tunggal pada tahun 1987.
 
Pelukis yang memilih tinggal di Surabaya dan menjadi salah satu ‘penjaga’ dari kubu seni lukis Surabaya bersama Amang Rahman, Khrisna Mustadjab dan Rudi Isbandi ini ikut berjasa mendirikan Akademi Seni Rupa Surabaya (AKSERA). Di AKSERA ia menjabat sebagai ketua Lembaga Pengembangan Seni Rupa (LPSR) AKSERA dan menjadi dosen seni lukis AKSERA (1969-1973). Ia juga pernah menjadi dosen di STKW Surabaya serta ketua Dewan Kesenian Surabaya (1972-1973)
Selain pelukis, ia juga di kenal sebagai seorang penulis, kritikus seni, dan pematung. Sebagai pematung, Karya-karya patungnya yang bertema kepahlawanan banyak menghiasi beberapa sudut kota Surabaya. Termasuk, patung Gubernur Soeryo yang terletak persis di depan Gedung Grahadi Surabaya.  Wafat tahun 1992, dalam usia 59 tahun dirumah, di kawasan Perumnas Manukan Surabaya, Jawa Timur, ketika sedang menyelesaikan belasan lukisan yang telah dipesan orang lain, meninggalkan seorang istri dan seorang puteri
(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...

Leave a Reply