M. Saleh

Nama :
Mohamad Saleh
 
Lahir :
Pandeglang, Jawa Barat,
12 Oktober 1929
 
Pendidikan :
Pendidikan Fakultas Bahasa dan Seni Jurusan Seni Rupa Negeri Medan,
ASRI Yogyakarta
 
Profesi :
Kepala SR Negeri di Padang Bulan (1956),
Guru Honorer SMA Kenanga (1956),
Guru SMP Negeri II Medan (1960),
Staf Teknis bidang kesenian Kantor Wilayah P dan K Propinsi Sumatera Utara (1975),
Kepala Seksi Penyajian, Direktorat Pendidikan dan Kebudayaan Taman Budaya Medan Propinsi Sumatera Utara (1981),
Dosen luar biasa Fakultas Bahasa dan Seni jurusan Seni Rupa IKIP Negeri  Medan (1985)
 
Penghargaan :
Meraih Piala sebagai peran pembantu utama pada Festival Teater pertama tingkat propinsi Sumatera Utara,
Meraih piala sebagai dekorator terbaik pada Festival Teater propinsi Sumatera Utara,
Meraih 6 piala sebagai Pembaca Puisi Terbaik


Pelukis
M. Saleh
 
 
 
Mohamad Saleh merupakan salah seorang pelukis yang sempat mengenyam pendidikan di ASRI Yogyakarta, kemudian hidup sebagai guru dan menetap di kota Medan, Sumatera Utara, hingga saat ini. Dia termasuk satu diantara sekian banyak pelukis Medan yang menjadi dinamisator dalam kegiatan seni lukis di sana termasuk di kalangan generasi pelukis yang lebih muda, di pulau Sumatera khususnya Padang dan Medan.
 
Sejak usia 7 tahun ia telah gemar melukis, awalnya melalui mata pelajaran menggambar saat di bangku sekolah. Mata pelajaran menggambar memang suatu mata pelajaran yang lebih disenangi dari pada mata pelajaran lainnya, hal ini terjadi mungkin oleh pengaruh lingkungan, boleh juga dikarenakan rangsangan buku-buku contoh menggambar yang diberikan oleh orang tua.
 


Sigale-gale, 100 x 150 cm (1992)

Kendatipun mata pelajaran ini bukan merupakan mata pelajaran khusus, untuk menambah pengetahuan di bidang itu orang tuanya menyerahkan kepada salah seorang sahabat yang memiliki pengetahuan menggambar sekalipun pengetahuan dasarnya lebih menjurus pada menggambar teknik. Pengetahuan lainnya, ia dapatkan dari kiriman buku-buku penuntun dasar-dasar ilmu pengetahuan menggambar dari rekan orang tuanya tuan T.F. Teuler seorang pelukis yang dikenal di Apel Doren, Belanda.

 
M. Saleh lebih dominan menggunakan cat air dan cat minyak dalam membuat karyanya. Sampai dengan tahun 1988 terhitung sudah 8 kali ia melakukan pameran tunggal, dihitung dari bilangannya 8 kali pameran tunggal yang telah terlaksana bukanlah suatu bilangan yang cukup untuk dijadikan ukuran atas keberhasilan yang dicapai dalam arti kemampuan berpameran,oleh karenanya pameran tunggal yang telah diselenggarakan itu tidak lebih sekedar untuk menambah pengalaman belaka. Dari segi manfaatnya, melalui pameran tunggal itu mendorongnya lebih kreatif, dan mencari kemungkinan-kemungkinan yang baru disamping mencoba untuk memantapkan corak yang lebih komplit.
 
Menurut M. Saleh ada beberapa hal yang menyebabkan mengapa ia lebih cenderung menggarap seni rupa ethnis khususnya di Sumatera Utara, terutama dikarenakan oleh adanya pemikiran bahwa kebudayaan Nasional perlu dipelihara serta dilestarikan. Di lain hal oleh banyaknya ragam kesenian dari 8 etnis yang masih ada di Sumatera Utara belum tergarap secara keseluruhan. Barangkali inilah yang menyebabkan timbulnya keinginan untuk menggarapnya dari beberapa etnis yang masih ada melalui penulisan dan lukisan.
 
 
(Dari Berbagai Sumber) 

You may also like...

Leave a Reply