Mak Wok


Mak Wok
 
 
 
Nama aslinya Wolly Sutinah, tapi lebih dikenal dengan nama Mak Wok. Sering memerankan nenek yang bawel dan cerewet justru di senangi oleh masyarakat. Mak Wok adalah anak seorang pemain biola, karena Wolly Sutinak sering menonton kegiatan panggung, akhirnya ia pun ikut naik panggung. Di masa gemilang Dardanela, ia mendirikan group sendiri yakni Miss Wolly Opera.
 
Pertama kali ia main film Pat Tian Hoat (Delapan Pendekar), tahun 1933. Mak Wok dipakai, karena ia bisa bermain silat. Dalam film ini ia bermain toya. Semenjak itu banyak film yang di bintanginya. Memang sejarah keluarga harus menjadi seniman, buktinya Aminah Cendrakasih, anakanya, cuma jebolan SKKP terus main film. Mak Wok adalah orang yang sangat disiplin ia selalu berusaha datang lebih awal di gedung pertunjukan. “Saya Kalau sakit justru nggak enak tinggal di rumah, enggak enak kalau sakit itu dirasa-rasain”, katanya. Itu sebabnya Mak Wok tetap bergiat dalam pementasan sandiwara atau tampil di depan kamera film.
 
Postur tubuhnya yang gemuk dan lincah, menghapus dugaan ekonomi rumah tangganya selalu pas-pasan. Tetapi apa pun keadaan yang di hadapi, selalu ditanggapi dengan sikap kesehariannya yang tenang dan menunjukkan kebahagiaan bathin. Barangkali diantara sejumlah artis tua di Indonesia, tercatat nama Wolly Sutinah, sebagai seniman panggung yang patut memperoleh penghargaan. Mengingat seniman tiga jaman ini berkiprah tanpa henti-hentinya.
 
Tercatat sekitar 100 judul film nasional yang pernah dibintangi, dan sudah puluhan kali tampil diatas panggung. Sebagai seniman alam yang tak pernah secara formil belajar teknik drama, ia mampu memainkan peran apa saja. Dari mulai peran wanita cerewet, peran kocak, sampai dengan tragedi yang dapat menimbulkan rasa haru penonton. Kekuatannya dalam seni peran, justru terletak pada improvisasinya yang luar biasa. Lebih dari itu, sikapnya yang toleran terhadap tanggung jawabnya sebagai seniman panggung, mendukung sosoknya yang utuh. Sebagaimana yang pernah ia ucapkan pada suatu sore di teras Teater Terbuka Taman Ismail Marzuki. Ia mencatat karirnya sebagai manusia panggung yang luar biasa.
 
Dari pernikahannya dengan Husin Nagib membuahkan seorang putri, Aminah Cendrakasih yang juga mengikuti jejak ibunya. Sampai menjelang akhir hayatnya, Mak Wok menunjukkan sikapnya yang tenang dan damai. Sikap ini pun tergambar jelas tatkala ia di panggil Tuhan. Ia meninggal pada usia 72 tahun di RS Cikini Jakarta, almarhumah terserang sesak nafas, tetapi menurut dokter Mak Wok meninggal akibat serangan jantung. Almarhumah tidak saja dicintai oleh anak-anak, karena peran-peran yang dibawakannya, tetapi juga idola para kaum ibu karena selalu menampilkan diri sebagai orang tua yang memiliki kewibawaan dengan petunjuk-petunjuknya yang mulia.
 
(Dari Berbagai Sumber)

Nama :
Wolly Sutinah
 
Lahir :
Magelang, Jawa Tengah
17 Juli 1915
 
Wafat :
Jakarta,
14 September 1987
 
Filmografi :
Darah (1941)
Keseberang (1944),
Tirtonadi (1950),
Selamat Berdjuang Masku (1951),
Rahasia Suku Domas (1954),
Klinting Kuning (1954),
Kasih Ibu (1955),
Terang Bulan Terang di Kali (1956),
Serodja (1958),
Darah Tinggi (1960),
Pesan Ibu (1961),
Bermalam di Solo (1962),
Terpesona (1966),
Kutukan Dewata (1970),
Pendekar Sumur Tujuh (1971),
Ilusia (1971),
Samtidar (1972),
Biang Kerok Beruntung (1973),
Takdir (1973),
Dimadu (1974),
Syahdu (1975),
Buaye Gile (1975),
Zoro (1976),
Kemayoran (1976),
Karena Penasarab (1977),
Yuli Buah Hati Kekasih Mama (1978),
Duyung Ajaib (1978),
Pelajaran Cinta (1979),
Kisah Cinderella (1979),
Bunga-Bunga SMA (1980),
Bayi Ajaib (1982),
Sama Gilanya (1983),
Asmara Dibalik Pintu (1984),
Melacak Primadona (1985)
 
Sinetron :
Serial Rumah Masa
(1982-1984)
Mega-Mega Perkawinan,
Orang-Orang Asing,
Dr. Krisna,
Yang Lepra,
Yang Terhina,
Mereka yang Terpisah,
Orang-Orang Terbuang,
Orang Di Atas Angin,
Anak Pertama,
Pak Marmo

You may also like...

Leave a Reply