Marga T

Nama :
Margaretha Harjamulia
(Tjia Liang Tjoe)Lahir :
Jakarta, 27 Januari 1943Pendidikan :
 SD
 SMP
 SMA
 Fakultas Kedokteran Universitas Res Publica (Universitas Trisakti)
1975 Profesi :
 Novelis dan dokter
 
Karya-karyanya :
Kamar 27,
Rumahku Adalah Istanaku,
 Karmila,
 Karmila II,
 Badai Pasti Berlalu,
 Sebuah Ilusi,
Sepotong Hati Tua,
Gema Sebuah Hati,
Edelweis
 
Penghargaan :
Penghargaan Kebudayaan Kategori Pencipta, Pelopor dan Pembaharu (2015)

Novelis
Marga T
 
 
 
Ia pernah dianggap sebagai salah seorang penulis terbaik untuk jenis cerita hiburan sehat. Bahasanya sederhana dan lincah. Adegan-adegan asmara yang diungkapkannya tak tergelincir menjadi cengeng dan murahan. Bahkan sampai kepada pelukisan hubungan biologis pria-wanita, ia berhasil menyuguhkan cara yang tak membuat pembaca jijik atau bergidik. Tapi berbeda dengan buku-bukunya, Marga seperti jauh dari publisitas. Ia selalu menolak permintaan beberapa koran dan majalah yang ingin berwawancara dipotretpun, ia kerap mengelak.
 
Ia gemar menulis sejak kecil, dan karangannya pertama kali dimuat dalam majalah sekolah. Pada tahun 1964, terbit cerpennya yang pertama, Kamar 27. Sejak itu karangannya bermunculan di berbagai koran dan majalah Jakarta. Ia sendiri sudah tak ingat jumlah yang pasti. Novel pertama yang ditulisnya adalah Karmila di tahun 1971. Dengan novel ini, nama Marga melonjak naik. Marga sendiri berhasil menyelesaikan kuliah di Fakultas Kedokteran, Universitas Trisakti, Jakarta. Ia senang membaca, mendengarkan musik, dan bisa bermain piano sedikit. Ia suka membaca buku-buku detektif, Marga sendiri pernah berniat menulis cerita tentang spionase.
 
Ia enggan terkenal. “Khawatir kalau tidak lagi bebas naik bis atau nonton bioskop. Kalau sudah tidak bebas, habislah semua sumber cerita saya”, katanya. Sejak kecil ia gemar menulis. Mula-mula tulisannya banyak dimuat dalam majalah sekolah. Cerpennya yang pertama, Kamar 27, terbit saat Marga berusia 21 tahun. Kemudian disusul buku pertamanya, Rumahku Adalah Istanaku, bacaan anak-anak yang terbit tahun 1969. Namanya jadi melonjak ketika novel pertamanya Karmila di tahun 1971 dipublikasikan. Karmila kemudian difilmkan, dengan sutradara Ami Priyono. Novel Badai Pasti Berlalu kian membuat nama Marga T. melejit. Sukses kedua novel ini merangsang Marga untuk terus menulis. Karya-karyanya yang lain adalah Sebuah Ilusi, Gema Sebuah Hati, Sepotong Hati Tua dan banyak lagi.
 
Sebagai penulis, Marga sangat berdisiplin. Ia bisa mengarang selama empat sampai lima jam dalam sehari. Di sela-sela waktunya ia gemar membaca apa saja. “Masyarakat berhak memilih bacaan yang disukainya, tapi penulis tidak. Ia harus membaca tulisan siapa pun”, ujarnya. Ia tidak sayang menghabiskan puluhan ribu untuk membeli novel.  Berkat novelnya, Karmila, yang telah dicetak ulang sembilan kali, Marga bisa mewujudkan keinginannya untuk menjelajah Eropa. “Ingin mencari pengalaman sebelum terikat pada pekerjaan sebagai dokter”, katanya.
 
Ternyata, Eropa tidak sekadar tempat untuk mencari pengalaman. Sebab, di sana, hati Marga terpaut pada seorang insinyur teknik kimia, sesama alumnus Usakti. Berbicara tentang kedudukannya sebagai dokter, penulis dan juga seorang istri, Marga berpendapat, “Bila seorang wanita sudah memilih untuk menikah, maka seharusnya kedudukan sebagai istrilah yang paling membahagiakan”.
 
(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...

Leave a Reply