Maria Darmaningsih

Maestro Tari Jawa Klasik
Maria Darmaningsih
 
 
 
Mengawali karirnya sebagai seniman saat rumah tinggalnya di Bandung menjadi ajang pelatihan seni budaya. Di rumah tua itulah berbagai ragam kesenian dari mulai seni tari, seni rupa, musik gamelan, piano, teater dan lain-lain, menyemarakan suasana sehari-hari. Berangkat dari rumah seni itulah peraih gelar akademis, Master of Education, University of Lethbridge, AB-Canada ini, menjelajahi berbagai kota besar di Indonesia hingga mancanegara untuk urusan pertunjukan kesenian. Berawal dari sebuah arloji mewah hadiah dari Pak de, Prof. Prijono, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, di zaman pemerintahan Bung Karno.
 
Arloji ini dijual dan uangnya untuk membeli seperangkat gamelan. Karena ibundanya tahu persis ia sangat menggandrungi kesenian khususnya tari. Tetapi juga dua saudara kandungnya yang waktu itu masih berumur belasan tahun pun menggemari kesenian. Di antaranya anak-anaknya ada yang suka menari, musik, menyanyi, drama, seni rupa, menabuh gamelan, main piano dan lain-lain. Setelah mereka meningkat remaja dan keluarga tinggal di kota Bandung bersama saudara-saudara kandungnya belajar kesenian. Beberapa mahasiswa Seni Rupa ITB Bandung, diundang ke rumah untuk melatih melukis. Dan juga seniman tari asal Bali, Bulan Trisna Djelantik yang waktu kuliah di ITB diundang untuk melatih tari Bali.
 
Sejumlah besar anak tetangga bahkan anak-anak dari kampung lainnya ikut berlatih. Mereka belajar bersama-sama. Sehingga tiap hari sejak pagi hingga menjelang petang rumahnya selalu ramai. Rumah seni yang dilengkapi garasi mungil menjadi ajang terbuka olah seni. Keruan terdengar musik Gemelan Jawa, Sunda dan Bali bertalu-talu. mengiringi puluhan anak-anak belajar menari. Garasi di rumah tua itu juga penuh sesak dipadati anak-anak lainnya yang belajar melukis. Boleh dikatakan rumah tinggal di Bandung menjadi semacam sentra kesenian bagi anak-anak dan remaja Selepas SMA di Bandung, ia mendapat kesempatan mengikuti program pertukaran pelajar di Queenwood School, Sydney, Australia.
 
Di Australia, ia bolak-balik tampil di panggung mempertunjukan kebolehan menari Jawa klasik, Sunda dan Bali. Waktu itu ia belum menguasai betul seluk beluk filsafat tari. Sebab itu ia menggelengkan kepala jika ada orang asing menanyakan ikhwal tarian yang dibawakannya Ia dengan jujur mengatakan waktu itu betul-betul belum tahu  simbol dan filsafati yang terkandung dalam tarian yang sering dibawakan. Termotivasi oleh ketidak tahuannya, ia berharap bisa belajar lebih jauh.tentang seni tari. Oleh karenanya sepulang dari Australia, langsung menuju Yogyakarta. Di kota budaya itu memperdalam ilmu kesenian khususnya tari klasik Yogyakarta pada ASTI (Akademi Seni Tari Indonesia) Yogyakarta. Menyelesaikan program D3 tahun 1979. Meraih Sarjana Seni jurusan Dance Etnologi pada Institut Kesenian Jakarta berkolaborasi dengan Universitas Indonesia pada tahun 1987. 
 
‘Sri Tanjung’, merupakan salah satu dari belasan karya koreografinya yang paling menonjol, Dipentaskan di Bandung tahun 1982.  Sejumlah besar karya lainnya banyak dipentaskan di luar negeri. Antara lain karya berlabel ‘The Lotus Blossom I, II dan III’, ‘Love and Life’, ‘Beginning and End’ digelar di Kanada. Karya berikutnya ‘Ruwatan’, dipentaskan di Amsterdam, Belenda dan digelar di Bandung, Yogyakarta dan Makassar. Menikah dengan Hutomo, yang memberinya tiga orang anak. Tetapi sejak 18 tahun silam, tepatnya 1988 biduk rumah tangganya kandas di tengah jalan. Sambil mengasuh anak-anaknya, ia sibuk pula dengan karirnya sebagai pengajar di IKJ. Mengikuti berbagai seminar dan diskusi kesenian, baik di dalam maupun diluar negeri. Dan juga memanajeri rombongan kesenian ke luar negeri, dan sejuta kegiatan lainnya.
 
Ia tengah mengendapkan ide-idenya. Ia merencanakan kembali ke pangkalan utamanya, Mangkunegaran. Istilahnya kembali ‘nyantrik’ untuk mematangkan ilmu berkesenian. Seusai nyantrik akan memantapkan perannya sebagai pendidik dibidang seni budaya. Cita-cita luhur ini sesungguhnya sudah lama ia mimpikan. Ia berpendapat menejemen kesenian maupun karya-karya koreografer muda kita belum bersinar. Hal ini dapat dilihat dari berbagai ajang festival tari modern kontemporer, yang diikuti oleh sejumlah koreoghrafer muda. Dari sekian peserta yang datang dari kota-kota kantong budaya, layaknya baru Solo dan Jakarta yang bisa dicatat.
 
Ia berharap seni tari khususnya koreografi, pada kesempatan lain akan lebih banyak menyandang kualitas. Tentulah keterpurukan masa lalu menjadi pengalaman berharga. Dalam kaitan ini ia beralasan bahwa keterpurukan bisa jadi karena benturan biaya dan juga persiapan. Mengingat di negeri ini urusan kesenian masih ditempatkan dibagian kursi paling belakang. Ditambah lagi masalah kesponsoran seni budaya, kayaknya masih jauh diharapkan. Hingga saat ini baru satu dua gelintir sponsor yang mau tahu. Lainnya baru melirik dengan sebelah mata.
 
(Dari Berbagai Sumber)
 

Nama :
Maria Darmaningsih
 
Lahir :
Jakarta, 24 Maret 1956
 
Pendidikan :
SD Taruna Bhakti, Bandung, Jawa Barat (1969),
SLTP Taruna Bhakti, Bandung, Jawa Barat (1971),
SMA Negeri 3, Bandung,
Jawa Barat (1974),
Queenwood School, Sydney, Australia (1975),
ASTI Yogyakarta (1979),
IKJ Jurusan Tari Tradisional, (1987),
University of Lethbridge, Kanada, (2002)
 
Karier :
Dosen Tari  ASTI Bandung, (1980-1992),
Sekretaris Jurusan Tari  IKJ, (1991-1993),
Produser dan Manager grup Tari Padnecwara,
(1997-1998),
Ketua Komite Tari DKJ
(1998-1999),
Pengajar Tari di Alberta, Kanada, (2001),
Ketua Administrasi dan Keuangan DKJ (2003-2006),
Pengajar Tari IKJ
(1987-sekarang),
Direktur Executive
 Yayasan Joglosemar (2002)
 
Koreografi Tari :
Langen Kusuma Warasthra (Yogyakarta, 1979),
Manglung Sekar
(Yogyakarta, 1980),
Sri Tanjung ( Bandung, 1982),
Tarian Anak-anak  (Makassar, 1983),
Bedaya Dewabrata (Jakarta,1987),
Manggon (1995),
Ruwatan (Belanda, 1996),
Celebration of Life
(Jakarta, 1998),
The Lotus Blossom II
(Kanada, 2000),
The Circle of Life
(Kanada, 2000),
Beginning and End
 (Kanada, 2001),
The Lotus Blossom II
(Kanada, 2001),
Love and Life
(Kanada, 2002),
The Lotus Blossom III, (Kanada, 2002)
 
Buku :
Seni Tari (PT Gramedia Pustaka Utama 1990)
 
Pencapaian :
Mendapat Penghargaan dari Kementerian Pariwisata Republik Indonesia sebagai Penyelenggara Festival Terbaik d Indonesia bersama dengan Nungki Kusumastuti dan Ina Suryadewi (2014)  

You may also like...

Leave a Reply