Marianne Katoppo


Marianne Katoppo
 
 
Dikenal sebagai Marianne atau Yetty. Dengan nama apa pun, ia adalah seorang penulis yang memikat. Penggunaan bahasanya secara indah adalah salah satu kunci keberhasilannya. Lagi pula, Marianne fasih dalam 10 bahasa, termasuk bahasa Skandinavia.
 
Ayahnya, Elvianus, berpendidikan guru dan pernah turut dalam tim penyempurnaan ejaan Bahasa Indonesia, bekerja sebagai pegawai tinggi di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan serta Departemen Agama, juga turut mendirikan Universitas Kristen Indonesia. Kakaknya Aristides Katoppo, adalah wartawan yang terkenal, yang pernah menjabat Pemimpin Redaksi Sinar Harapan. Sebagai anak bungsu, Marianne mendapat perhatian khusus dari ayahnya. Ia menganjurkan Marianne untuk menulis tentang apa saja yang dia baru alami atau selesai dibaca.
 
Sejak tahun 1951, ketika baru berusia delapan tahun, Marianne sudah dikenal sebagai penulis. Dia mengisi halaman rubrik anak-anak pada majalah Nieuwsgier, sebuah majalah berbahasa Belanda. Selain itu, tulisannya dapat ditemukan di pelbagai majalah, seperti Mutiara, Ragi Buana, Femina, dan Harian Sinar Harapan. Setelah menyelesaikan pendidikan sekolah menengah atas, Marianne masuk Sekolah Tinggi Teologi (STT), sambil kuliah, ia menulis beberapa karya fiksi. Setelah lulus, Marianne tidak banyak menulis karya fiksi lagi dan lebih fokus sebagai pengajar di STT dan menulis tentang posisi perempuan. Setelah melanjutkan studi di Institut Oecumenique Bossey, Swiss, untuk mengambil Licenciaat Theologia, ia kembali dan memulai perjuangannya untuk mengangkat harkat perempuan.
 
Namanya terkenal juga di Afrika karena perhatiannya untuk nasib kaum perempuan di dunia ketiga. Di bidang sastra, Marianne menerjemahkan beberapa karya yang berhubungan dengan perempuan. Disamping itu, dia juga berjuang agar Pramoedya Ananta Toer mendapat penghargaan selayaknya. Ketika Pram dianugerahi Magsaysay di Manila dan dilarang menerimanya karena masih dalam status tahanan kota dan tahanan Negara, Marianne lah yang mewakilinya. Demi prinsip, Marianne tak peduli pada popularitas. Ia tak peduli dipandang sebagai musuh”Kartini karena kekritisannya pada Kartini. Padahal, ia sangat menghargai pikiran-pikiran Kartini, dan karenanya menolak perjuangan mengejar simbol.
 
Sampai akhir hayatnya, Marianne tenggelam dalam proses kreatifnya meski belakangan tak lagi mengajar. Sebagian waktunya dipakai untuk merawat 30-an kucingnya di sebuah rumah kontrakan berukuran 45 meter persegi di bilangan Ciputat, Jakarta Selatan. Pada Jumat sore, 12 Oktober 2007, novelis Henriette Marianne Katoppo wafat, terkena serangan jantung. Keesokan harinya, 13 Oktober 2007, Marianne dikremasi di Oasil Lestari, Tangerang Barat, diantarkan oleh kakak-kakanya termasuk Aristides Katoppo.
 (Dari Berbagai Sumber)

 

Nama :
Henriette Marianne Katoppo
 
Lahir :
Tomohon, Sulawesi Utara,
9 Juni 1943
 
Wafat :
Bogor, Jawa Barat,
12 Oktober 2007
 
Pendidikan :
Sekolah Tinggi Teologi (1977),
International Christina University, Tokyo (1964),
Shingakuhbu Doshisha Daigaku (Sekolah Theologia) Kyoto, Jepang (1965),
Program Pascasarjana Institut Oecumenique Bossey, Swiss (1978-1979)
 
Profesi :
Penulis,
Pengajar STT,
Staff Yayasan Obor Indonesia
 
Aktivitas lain :
Pendiri Ecumenical Association of Third World Theologians (EATWOT),
Bekerja pada British and Foreign Bible Society, London (1966-1969),
Anggota MPH-PGI 1984
 
Karya :
Supiyah,
Dari Jodoh Sampai Supiyah (antologi),
Raumanen (1975),
Compassionate and Free (Tersentuh dan Bebas),
Terbangnya Punai (1978),
Compassionate and Free (1979),
Anggrek Tak Pernah Berdusta (1980),
Rumah di Atas Jembatan (1981),
Dunia Tak Bermusim (1984),
 
Penghargaan :
Hadiah Hiburan Sayembara Kincir Emas Radio Nederland Wereldommmroep (1975),
Hadiah Harapan Sayembara Mengarang Roman DKJ (1975),
Hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P&K (1977),
Hadiah Sastra ASEAN (1982)

You may also like...

Leave a Reply