Martin Aleida

Penulis
Martin Aleida
 
Lebih dari 40 tahun usianya di Jakarta sebagai wartawan, penulis cerita pendek dan novel. Lahir di Tanjung Balai, Sumatera Utara, 31 Desember 1943. Pendidikan formalnya di tempuh di SD (1965), SMP (1959), SMA Tanjung Balai (1963), Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara (tidak tamat) serta Studi Linguistik, George Town University, Washington DC, Amerika Serikat (1982).
 
Gemar menulis cerpen sejak kelas 2 SMA (1962), setelah membaca karya Hamka dan juga karya Pramoedya Ananta Toer. Cerpen karyanya tersebut ia kirimkan ke koran Indonesia Baru di Medan. Ia juga mengirimkan cerpennya ke Harian Indonesia di Jakarta. Meskipun tidak mendapatkan honor, ia tetap mengirimkan cerpen-cerpennya ke koran tersebut dikarenakan seleksinya tidak ketat.
 
Tahun 1963, pindah ke Jakarta, sempat aktif di teater, ketika sebuah grup teater datang ke Jakarta dan ikut bermain di Gedung Kesenian Jakarta dan PGRI (1964), membawakan Naskah Si Nandang, ditulis oleh Ebrahim Hamid yang di ambil dari cerita rakyat.
 
Sempat menjadi anggota redaksi majalah kebudayaan Zaman Baru, namun tidak sampai setahun. Setelah itu ia bekerja serabutan, sebelum akhirnya kembali menjadi wartawan Harian Rakyat. Hampir setengah tahun ia meng-cover kegiatan Presiden Sukarno. Setelah meliput Presiden, ia mengikuti pelatihan Jurnalistik di Semarang, namun kemudian terjadi peristiwa G30/S, yang mengakibatkan pendidikannya tidak selesai, dan kemudian bubar. Ia masuk lagi ke Jakarta setelah tanggal 2 Oktober 1965. Namun korannya tempatnya bekerja sudah ditutup.
 
Awal tahun 1966, ia ditangkap bersama enam orang kawannya dan di bawa Markas Komando Distrik Militer 0501, di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, karena aktivitasnya sebagai anggota redaksi jurnal Zaman Baru terbitan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) dan sempat di tahan selama hampir satu tahun. Akhir tahun 1966 ia dibebaskan.
 
Setelah bebas, ia kembali bekerja serabutan antara lain menjadi penjual bensin di pinggir jalan, berdagang di Pasar Baru, serta menjadi pelayan di restoran Padang. Bekerja dengan JS Hadis (Sekretaris Jenderal PWI Pusat dan wartawan Berita Yudha pada waktu itu) ditokonya di pasar Jembatan Lima.
 
Bulan Juli 1969, majalah sastra Horison memuat cerpennya yang berjudul ’Jangan Kembali Lagi, Juli’. Sejak saat itu, Nurlan mengubah namanya menjadi Martin Aleida. ’Martin’ adalah wujud penghargaan terhadap kegemaran sang ayah bercerita tentang tokoh Martin Luther King. Sedangkan ’Aleida, semacam kata seru sebagai penanda kekaguman yang sering digunakan di kalangan penduduk Melayu di pesisir Sumatera Timur.
 
Tahun 1970, sempat menjadi reporter majalah Ekspres. Ketika Goenawan Mohammad membuka majalah Tempo, ia mencoba melamar dan di terima. Menjadi wartawan Tempo sejak 15 Januari 1971 sebelum majalah ini terbit 6 Maret 1971. Setelah berhenti dari Tempo, sempat menjadi wartawan mingguan olahraga Bola di Jakarta (1984). Kemudian menjadi wartawan di TV NHK milik Jepang (1984–1985). Dipanggil oleh kantor penerangan PBB untuk bekerja di sana (1985-2001). Pensiun dari kantor PBB, ia kembali menulis. 
 
Karya yang pernah di terbitkannya antara lain: kumpulan cerpen ’Malam Kelabu, Ilyana dan Aku’ (1998), Perempuan Depan Kaca’ (2000) dan ’Leointin Dewangga’ (2003). Sedangkan karya novel yang di terbitkannya yaitu, ’Layang-layang Itu Tak Lagi Mengepak Tinggi-tinggi’ (1999) ’Jamangilak Tak Pernah Menangis’ (2003) dan ’Mati Baik-Baik Kawan’ (2009).
 
Telah beberapa kali meraih penghargaan, antara lain: kumpulan cerpennya yang berjudul ’Liontin Dewangga’, meraih penghargaan dari Departeman Pendidikan Nasional (2004). Mendapat penghargaan Dokarim 2005 dari Sekolah Menulis Dokarim Banda Aceh, yang diberikan kepada penulis non-Aceh yang karya-karyanya dianggap menyampaikan sisi kemanusian selama berlangsungnya perang dan konflik politik di Aceh. Terjemahan cerita pendeknya ‘Leontin Dewangga’ dalam bahasa Inggris disertakan dalam antologi cerita pendek Asia-Pasifik, terbit di Boston, Amerika Serikat, berjudul ‘Another Kind of Paradise’.
 
Cerpen-cerpen karyanya kerap mengangkat tema tentang kejadian-kejadian tahun 1965 dengan penekanan pada pengalaman-pengalaman para korbannya. Kini Martin Aleida menjadi salah satu anggota dari Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta periode 2009-2012.
 
Lebih memilih menulis karya-karyanya di PDS HB Jassin di kompleks TIM yang telah menjadi rumah kedua baginya, karena ia merasa lebih kondusif untuk berkarya. Ia mengaku kalau dirinya bukanlah pengarang yang mampu fokus terus-terusan, melainkan mudah teralihkan saat menulis. Ia juga bisa amat lambat menyelesaikan cerita. Bahkan ia pernah menghabiskan waktu hingga tiga tahun untuk menyelesaikan satu cerpen.  
 
Bermukim di kawasan Jati Padang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, sejak tahun 1981. Menikah dengan Sri Sulasmi, dikaruniai 3 orang anak Agung Sukmana, Dian Sukmawati dan Teguh Nugroho. 
 
(Dari Berbagai sumber)
 
 

Nama :
Nurlan
 
Lahir :
Tanjung Balai,
 Sumatera Utara,
31 Desember 1943
 
Pendidikan :
SD (1965),
SMP (1959),
SMA Tanjung Balai (1963), Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara (tidak tamat),
Studi Linguistik, George Town University, Washington DC, Amerika Serikat (1982)
 
Karier :
Anggota redaksi majalah kebudayaan Zaman Baru,
Wartawan Harian Rakyat,
Reporter najalah Ekspres (1970),
Wartawan mjalah Tempo (1971-1984),
Wartawan mingguan olahraga Bola ((1984),
Wartawan TV NHK Jepang (1984-1985),
Karyawan kantor penerangan PBB (1985-2001),
Anggota Komite sastra DKJ (2009-2012)
 
Pencapaian :
Kumpulan cerpen Liontin Dewangga meraih penghargaan dari Departeman Pendidikan Nasional (2004,)
Penghargaan Dokarim dari Sekolah Menulis Dokarim Banda Aceh (2005),
Penghargaan Kesetian Berkarya dari Kompas (2013) ,
Anugerah Kebudayaan Kategori Anugerah Seni dari Kementerian Kebudayan dan Pariwisata (2014)
 
Karya :
Jangan Kembali Lagi, Juli (cerpen, 1969),
Malam Kelabu, Ilyana dan Aku (kumpulan cerpen, 1998)
Layang-layang Itu Tak Lagi Mengepak Tinggi-tinggi (novel, 1999)
Perempuan Depan Kaca (kumpulan cerpen , 2000)
Leointin Dewangga
(KOMPAS, kumpulan cerpen, 2003)
Jamangilak Tak Pernah Menangis (novel, 2003),
Mati Baik-Baik Kawan
(AKAR, novel, 2010),
Langit Pertama Langit Kedua
(cerita pendek, catatan perjalanan, esei, kritik, perdebatan, 2013)
 

You may also like...