Marzuki Hasan

Nama :
Marzuki Hasan
 
Lahir :
Blang Pidie, NAD,
3 Mei 1943
 
Pendidikan :
SD di Blang Pidie (NAD),
SMP di Blang Pidie (NAD),
SMA di Tapak Tuan (NAD),
Sekolah Guru Olahraga,  Yogyakarta (1965-1970)
 
Aktifitas Lain :
Pengajar  Tari di IKJ
 (1975 s/d sekarang)
 
Penghargaan :
Penghargaan dari Duta Besas Austria dalam acara Budaya Nusantara
Outsatnding Artistic Contribution to Festival of Indonesia,
Anugerah Budaya dari Pemerintah DI Nangroe Aceh Darussalam
 


Seniman Tari
Marzuki Hasan
 
 
 
Lahir di Blang Pidie, NAD, 3 Mei 1943, dibesarkan di lingkungan yang menyukai syair dan pantun. Selain dua hal itu, Marzuki juga menyaksikan perkembangan cikal bakal tari duduk dari kampungnya yang bernama tari Rateb Meuseukat. Rateb Meuseukat merupakan nama yang benar untuk tari Saman. “Nama tari Saman sudah salah kaprah karena sebenarnya hanya untuk menyebut tarian yang dibawakan laki-laki. Kalau dibawakan perempuan bernama Rateb Meuseukat,” ujar pak Uki, nama panggilan Marzuki.
 
Tradisi tari duduk Rateb Meuseukat yang dibawakan perempuan banyak berkembang di Meudang Ara Rumoh Baro. Sedangkan tari duduk oleh laki-laki yang disebut Saman banyak dilakukan oleh orang Gayo. Dalam perkembangannya, ketika tari duduk diperkenalkan di luar Aceh, orang tetap menyebut tari Saman walau dibawakan perempuan. Asal-usul penamaan Saman di luar Aceh ini masih belum diketahui pasti, tetapi Marzuki mengaitkannya dengan penyebar tari duduk yang didominasi laki-laki.
 

Ia pandai menari, bersyair dan berpantun. Bagi orang Aceh, berpantun secara spontan sudah menjadi tradisi. Tiap saat ada kompetisi dalam berbagai situasi. Tarian Aceh, syair, dan pantun juga telah menjadi penyeimbang setiap konflik yang sering terjadi di Aceh. Ketika menamatkan Sekolah Guru Olahraga di Yogyakarta (1970), Marzuki yang seharusnya mengajar pendidikan olahraga tetap memilih berkesenian. Walaupun sempat menjadi pelatih fisik pada sebuah klub bulu tangkis, Marzuki merasa tidak cocok. Maka tahun 1975 ia mengajar budaya Aceh dan seni tari di kampus yang dikenal sebagai Institut Kesenian Jakarta (IKJ) hingga kini.
 
 


Rampai Aceh (2012)

Di sela-sela mengajar, ia tetap aktif berkesenian. Tahun 1978 di bawah kelompok Cakra Donya, bersama almarhum Nurdin Daud, dia menciptakan tari Rampa yang di dalamnya memuat berbagai ragam tari Aceh. Tari inilah yang dikenal sekarang sebagai tari Rampai Aceh yang aslinya berdurasi 75 menit. Sejak 1977, Marzuki mengaku menjadi penari di istana. Dia membawakan tari Aceh yang dia buat sendiri dan selalu merubah sesuai tema dengan menggabungkan gerakan Saman, Ratoh, Seudati, Laweut, dan masih banyak lagi tari Aceh. Pernah menjadi peneliti budaya dan mendampingi peneliti Jerman, Prof Dr. Margaret dari Munich University, yang meneliti Rateb Meuseukat. Ia juga pernah berkolaborasi dengan Dwiki Dharmawan, Guruh Sukarno Putra, dan Gilang Ramadhan.
 
Marzuki adalah salah seorang yang beruntung menyaksikan seni daerahnya punya pamor melebihi yang pernah dia pikirkan. Sudah puluhan kali Marzuki diundang ke berbagai belahan dunia, mulai dari Amerika, Afrika, Australia, Eropa, apalagi Asia. Biasanya Marzuki dibawa untuk misi dagang, misi pariwisata atau atas undangan negara sahabat. Pengalaman yang membanggakan dan mengharukan bagi Marzuki adalah ketika ia diminta mengajar tari Rateb Meuseukat di Namibia kepada anak-anak lokal di Namibia untuk acara konferensi Asia Afrika. Telah puluhan kali ia diundang ke berbagai negara untuk melalukan workshop tari Saman.
 
Hingga kini, berbagai undangan menari, menjadi juri atau menjadi koreografer terus mengalir. Satu hal yang diharapkan Marzuki dari generasi penerus adalah menyukai budaya lokal. “Kalau generasi muda kita suka, maka budaya lokal kita, identitas kita, tak akan direbut oleh Negara tetangga,” tegas Marzuki. Terakhir, ia berkolaborasi dengan mahasiswa menampilkan tari kontemporer Meusaboh Hatee (Menyatukan Hati) untuk peringatan bencana tsunami Aceh.            
 
(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...