Maskirbi

Nama :
Mazhar
 
Lahir :
Tarutung, Tapanuli Utara, Sumatera Utara,
9 Oktober 1952
 
Wafat :
Banda Aceh, NAD,
24 Desember 2004
 
Karier :
PNS Taman Budaya
Banda Aceh,
Pengajar Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry Banda Aceh
 
Kegiatan lain :
Sekretaris Umum Dewan Kesenian Aceh (1995-2000),
Pemrakarsa lahirya Lembaga Penyair Aceh (LEMPA),
Pendiri Teater Mata
 
Karya :
Matahariku Matanya (buku kumpulan puisi Tunggal, 1990)
Bumi Mulai Bengkak-Bengkak (Puisi),
POMA/Luka Ibu Kita
(Naskah Drama),
Keliru (Puisi),
Gagap (Puisi),
Wahai (Puisi)


Penulis
Maskirbi
 
 
 
Bernama lahir Mazhar. lahir di Tarutung, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, 9 Oktober 1952. Meski di lahirkan di tanah Batak, namun ia masih keturunan Aceh Selatan. Ketika ia tinggal di Sumatera Utara, ia banyak mengirimkan puisi-puisinya dan cerpennya ke berbagai harian yang terbit di Medan. Selanjutnya ia menetap di Banda Aceh. Buku kumpulan puisi tunggal karyanya berjudul Matahariku Matanya di terbitkan pada tahun 1990. Sajak-sajaknya di muat dalam Antologi Riak (1972), Kami Koma Kamu (1977), Kande (1982), Ranub (1982), Antologi Penyair Aceh (1986), Puisi Indonesia (1987), Sosok I (1993), Sosok II (1994), dan Seulawah: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (1995).
 
Selain di kenal sebagai penyair Aceh, ia juga bekerja sebagai PNS di Taman Budaya Banda Aceh, pengajar di Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry Banda Aceh dan pernah menjadi Sekretaris Umum Dewan Kesenian Aceh (1995-2000). Bersama Hasyim KS (alm), Nurgani Asyik (alm), Nani HS dan Doel CP Allisah, ia memprakarsai lahirnya Lembaga Penyair Aceh (LEMPA). Dalam konteks budaya, tercatat Maskirbi juga pernah beberapa kali ke Malaysia.
 
Dalam keseharian Maskirbi dikenal sebagai sosok yang bersahaja, tidak neko-neko dan taat beragama Keperdulian Maskirbi terhadap lingkungan juga begitu tinggi. Hal tersebut dapat dilihat dalam beberapa puisinya yang bertema lingkungan seperti puisi yang berjudul Bumi Mulai Bengkak-Bengkak. Selain aktif di bidang sastra, ia juga di kenal aktif di teater, bahkan di kenal sebagai salah satu tokoh teater Aceh. Ia merupakan pendiri Teater Mata, yang tercatat beberapa kali tampil dibeberapa kota di Indonesia.
 
Pada saat terjadi musibah Tsunami di Aceh, tahun 2004 lalu, Maskirbi dan keluarga termasuk dalam korban yang tewas hilang di terjang Tsunami. Untuk mengenang jasa-jasanya dalam memajukan kesenian di Daerah Istimewa Aceh, beberapa organisasi kesenian seperti Aliansi Sastrawan Aceh (ASA) bekerjasama dengan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Sumut-NAD, menerbitkan tentang karya-karya Maskirbi. Dalam buku Luka POMA Maskirbi, termuat sebuah naskah drama yang boleh dikatakan sangat populer kala itu yang berjudul POMA (Luka Ibu Kita), berdurasi 1 jam lebih, bercerita tentang heroisme dan nilai-nilai perjuangan dan kejuangan. Dalam buku ini, termuat pula 33 buah puisinya yang terbagi dalam tiga bagian. Bagian pertama Puisi-puisi Maskirbi (AHK) terdiri dari 17 puisi dan bagian kedua Puisi-puisi Maskirbi (Ananda) terdiri dari 16 puisi. Ditambah 3 buah puisi terakhirnya yang pernah dimuat di Koran, yang ditemukan kemudian, berjudul Keliru, Gagap, Wahai.
 
Satu yang tak bisa dilupakan dari Maskirbi adalah kesederhanaannya, sikapnya yang sangat bersahabat terhadap siapa saja dan sangat akomodatif terhadap pendapat temannya.
(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...