Matu Mona

Nama :
Hasbullah Parinduri
 
Lahir :
Medan, Sumatera Utara,
21 Juni 1910
 
Wafat :
Jakarta, 8 Juli 1987
 
Pendidikan :
St. Anthony’s Boys School Medan
 
Profesi :
Wartawan Pewarta Deli
(1931-1938),
Pemimpin Mingguan Penyebar (1941),
Pendiri Koran Perjuangan Rakyat Garut (1946),
Pemimpin Harian Tegas
(1950-1953),
Pemimpin Mingguan Penyebar (1954-1959),
Pemimpin Redaksi majalah Selecta (1960-1987)
 
Kegiatan Lain :
Pimpinan sandiwara amatir Ratu Timur (1932-1938),
Anggota rombongan sandiwara Cahaya Timur dan Dewi Mada (1943-1944),
Anggota Badan Penerangan Divisi XII Surakarta (1946)
  
Karya Tulis :
Hatta Terpendam (1931),
M. Yussyah Journalist (1932),
Panggilan Tanah Air (1934),
Rol Pacar Merah Indonesia (1934),
Spionnage Dienst (1935),
Zaman Gemilang (1936),
Dja Umenek Jadi-jadian (1937),
Rol Pacar Merah Indonesia cs (1938),
M. Husni Thamrin (b.1940),
Akibat Perang (1950),
Putera Dja Umenek (1961)


Penulis
Matu Mona
 
 
 
Bernama lengkap Hasbullah Parinduri. Lahir di Medan, Sumatera Utara, 21 Juni 1910. Berlatar belakang pendidikan St. Anthony’s Boys School Medan. Setelah lulus, di tahun 1930, ia menjadi guru bantu di sekolah tersebut.
 
Dikenal sebagai penulis yang produktif di jamannya. Karya tulisnya banyak bercerita tentang tokoh kepahlawanan, pemberontakan dan perang, antara lain, Hatta Terpendam (1931), M. Yussyah Journalist (1932), Panggilan Tanah Air (1934), Rol Pacar Merah Indonesia (1934), Spionnage Dienst (1935), Zaman Gemilang (1936), Dja Umenek Jadi-jadian (1937), M. Husni Thamrin (b. 1940), Akibat Perang (1950) dan Putera Dja Umenek (1961).
 
Karyanya, Rol Pacar Merah Indonesia (1934) adalah sebuah kisah yang menggabungkan antara fakta dan fiksi. Roman petualangan yang mengambil latar kejadian antara tahun 1930-1932 ini menampilkan beberapa fakta sejarah tentang gerakan komunis dan kiri radikal di Hindia Belanda dan fiksi spionase, politik, dan percintaan. Tokoh utama cerita ini, Pacar Merah, adalah julukan untuk Tan Malaka yang sering kali dianggap sebagai tokoh misterius dalam pergerakan Indonesia. Roman ini juga mendapat sambutan hangat di Hindia Belanda dicetak sampai 3 ribu eksemplar. Atas permintaan pembacanya, pada akhir tahun 1938, terbitlah lanjutan cerita itu, Rol Pacar Merah Indonesia cs (Peranan Pacar Merah cs).
 
Beragam profesi pernah ia geluti antara lain menjadi wartawan Pewarta Deli (1931-1938), pemimpin mingguan Penyebar (1941), Pembantu Panji Pustaka (1943), pendiri koran Perjuangan Rakyat di Garut (1946), pemimpin harian Tegas di Banda Aceh (1950-1953), pemimpin mingguan Penyebar di Medan (1954-1959), dan wakil pemimpin redaksi majalah Selecta di Jakarta (1960-1987).
 
Pernah aktif dalam dunia seni pertujukan dengan menjadi pimpinan sandiwara amatir Ratu Timur (1932-1938), dan aktif dalam rombongan sandiwara Cahaya Timur dan Dewi Mada (1943-1944). Di samping itu, ia juga pernah bergabung dalam Badan Penerangan Divisi XII Surakarta (1946) dan turut bergerilya di Jawa Timur (1948). Tahun 1941-1944 ia di penjarakan di Sukamiskin, Bandung. Matu Mona Wafat pada tanggal 8 Juli 1987 di Jakarta.
 
(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...