Max Arifin

Nama :
Mohammad Arifin
 
Lahir :
Sumbawa Besar,
Nusa Tenggara Barat,
18 Agustus 1939
 
Wafat :
Mojokerto, Jawa Timur,
1 Maret 2007
 
Pendidikan :
SD dan SMP
Sumbawa Besar (NTB),
SMA di Yogyakarta
Hubungan Internasional UGM (Yogyakarta)
IKIP Mataram jurusan Bahasa dan Sastra Inggris (NTB)
 
Karier :
PNS Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,
 Mataram Lombok, NTB
 
Aktivitas Lain :
Pembina seni drama/teater pada beberapa SMA dan Fakultas di Mataram,
Pemimpin dan Sutradara Teater Gugus Depan Mataram,
Rdaktur Harian Media,
Redaktur Budaya Harian Suara Nusa (Lombok Post),
Koresponden Tempo untuk Lombok (1975-1979),
Juri dan Kurator
 Festival Teater,
Penulis
 
Karya Naskah/buku :
Putri Mandalika
 (naskah drama),
Matinya Demung Sandubaya
Petunjuk Teknis Penilaian/Pengamatan Lomba/Festival Teater, Bidang Kesenian, Depdikbud NTB (1985),
Tumbal Kemerdekaan (naskah drama, 1987),
Badai Sepanjang Malam (naskah drama, 1988)
Teknik Penyutradaraan (stensilan FKIP Unram, Mataram)
Teknik Baca Puisi, sebuah Pengantar, BKKNI, NTB (1990),
Teater, Sebuah Pengantar (1990),
Balada Sahdi Sahdia
(naskah drama1992),
Antonin Artaud, Ledakan dan Bom (2006),
 
Karya buku/puisi/cerpen Terjemahan :
Nyanyian Laut
(The Sound of Waves, 1976),
Seribu Burung Bangau (Thousand Cranes, 1978),
Pengembaraan
(Walkabout, 1978),
Orang Aneh
(The Stranger, 1980)
Kecantikan dan Kesedihan (The Beauty and Sadness, 1983),
Pemberontak
(The Rebel, 2000)
Seratus Tahun Kesunyian (One Hundred Years of Solitude, 2003),
The Shifting Point – Teater, Film dan Opera (2002),
Menuju Teater Miskin
(Towards a Poor Theatre 2002)
Teori-teori Drama Brecht
Kemelut (The Blind Owl),
Suatu Salah Paham,
Oedipus Sang Raja,
Sasmita-Larasmara,
Mawar Dalam Taman,
Puisi dan cerpen dari Timur Tengah
 


Max Arifin
 
Terlahir dengan nama Mohammad Arifin di Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat, 11 Agustus 1939. Menempuh pendidikan SD dan SMP-nya di Sumbawa Besar, NTB dan melanjutkan ke jenjang SMA di Yogyakarta. Setamat dari SMA, melanjutkan ke Jurusan Hubungan Internasional di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pindah ke IKIP Mataram mengambil jurusan bahasa dan sastra Inggris namun tidak ia tamatkan.
Bekerja di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Nusa Tenggara Barat pada Bidang Kesenian, seksi drama dan sastra (tradisional dan modern). Selama masa tugasnya, pernah tiga kali ia mengikuti penataran seni drama di Cisarua dan Cipayung yang diselenggarakan oleh Depdikbud. Pernah menjadi redaktur harian Media (terbitan IPMI Cabang Mataram), redaktur budaya di harian Suara Nusa (sekarang Lombok Post) sekaligus merangkap koresponden majalah Tempo untuk Lombok (1975-1979). Memimpin serta menyutradarai kelompok Teater Gugus Depan Mataram. Di saat yang sama, ktif membina seni drama/teater pada beberapa SMA dan fakultas di Mataram.
Banyak mengikuti berbagai pertemuan dan seminar yang berkaitan dengan kesenian dan teater, diantaranya : Pertemuan Teater Penyusunan Materi Ketrampilan Seni Teater di Ambarawa (1977) yang diadakan oleh Direktorat Kesenian, Depdikbud, Jakarta, Seminar Teater di Bandung (1978), juga diadakan oleh Direktorat Kesenian, Depdikbud. Peserta Art Summit 1997 di Jakarta, Peserta Seminar Pendekatan Kebudayaan dalam Pembangunan Jawa Timur, 8 Juli 2003 di Jember, Peserta Temu Sastrawan se-Jatim, September 2003.
Menjadi pembawa berbagai makalah dan menjadi nara sumber untuk teater dan kebudayaan umumnya di Jakarta, Bandung, Surabaya, Mojokerto, Jember seperti pada Seminar dan Pertemuan Teater di Bandung (1996). Tahun 2004 dan 2005, menjadi kurator bidang teater pada Festival Seni Surabaya serta menjadi pembicara dalam forum diskusi yang digelar oleh Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) (2006). Pernah pula ditunjuk menjadi juri pada beberapa festival teater di Jawa Timur, di tingkat nasional (2000), se-Jawa Timur (2004), dan Jember (2004).
Selain dikenal sebagai penggiat teater, Max, juga dikenal sebagai penerjemah buku, berawal sekitar tiga puluh tahun yang lalu ketika seorang wartawan Kompas bernama Trees Nio yang datang mengunjungi Dirman Toha, sahabat Max Arifin, yang merupakan koresponden Kompas di Mataram. Saat itulah Trees Nio melihat dua naskah novel terjemahan karya Max Arifin, Walkabout, karya James Vance Marshall dan The Sound of Waves, karya Yukio Mishima. Trees Nio langsung tertarik membawanya ke Jakarta dan dijadikan Cerita Bersambung (Cerber) di Kompas (1976 dan 1978).
Karya-karya naskah/ buku yang pernah ditulis Max Arifin banyak yang dijadikan cerber di sejumlah koran harian yang terbit di negeri ini. Selain dua karya yang telah disebut tadi, masih ada Kecantikan dan Kesedihan (terjemahan dari naskah The Beauty and Sadnes, karya Yasunari Kawabata) yang juga menjadi cerber di Kompas pada tahun 1984.
 
Selain itu, masih ada lagi, Matinya Demung Sandubaya yang menjadi cerber di harian Suara Nusa (Mataram), Kemelut (naskah terjemahan dari The Blind Owl, karya Sadeq Hedayat) yang menjadi cerber di Surabaya Post; serta Seratus Tahun Kesunyian (naskah terjemahan dari One Hundred Years of Solitude, karya Gabriel Garcia Marques) yang menjadi cerber di Jawa Pos (1997). Kendati demikian, telah banyak karya yang dihasilkannya, Max Arifin tidak mau disebut sebagai sastrawan. “Saya ini orang teater, bukan sastrawan”, ujarnya. Karena kebanyakan karyanya, baik itu yang terjemahan maupun tidak, sebagian besar adalah tentang drama/teater.
Sampai hari ini, sedikitnya Max arifin telah menghasilkan 34 karya buku. Jumlah itu belum termasuk beberapa puisi dan cerpen dari timur tengah yang juga sempat diterjemahkannya. Memang, sebagian besar dari total karyanya itu, 26 di antaranya adalah karya terjemahan, termasuk tujuh karyanya yang belum diterbitkan, Suara yang Lain (dari buku The Other Voice, karya Octavio Paz), Surat-surat Negro (The Fire Next Time, karya James Baldwin), Teater Politik (Political Theatre, karya David Goodman), Teater dan Kembarannya (Theatre and it’s Double, karya Antonin Artaud), Masalah-masalah Seni (The Problems of Art, karya Susanne K. Langer), Kapal Orang-orang Bodoh (Ship of Fool, dari karya Christiana Perri Rossi) dan Hidupku dalam Seni (My Life in Art, karya Konstantin Stanislavsky).
Penggiat teateryang sudah aktif di dunia teater sejak masih duduk dibangku SMa ini meninggal dunia karena sakit di Rumah sakit Sido Waras, Bangsal, Kabupaten Mojokerto, 1 Maret 2007.
(Dari Berbagai Sumber)


 

You may also like...

Leave a Reply