Mimi Tiweng

Seniman Tari
Mimi Tiweng
 
 
 
Lahir di Dusun Tlakop, Desa Telagasari, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, 1941. Ia tidak pernah merasakan bangku sekolah karena sejak berusia 10 tahun sudah menjadi penari ronggeng ketuk di Dusun Tlakop. Bisa dikatakan, hampir sepanjang usianya di curahkan menjadi penari ronggeng. Jadi tidak mengherankan jika namanya menyatu dengan ronggeng ketuk di Dusun Klakop. Bahkan ia mendapat julukan ‘Mimi’ yang menunjukan bahwa ia merupakan seseorang yang dituakan karena kepiawaiannya pada salah satu bidang kesenian. 
 
Ronggeng ketuk sendiri merupakan kesenian tradisional yang bentuknya tidak banyak berbeda dengan kesenian sejenis yang menampilkan penari ronggeng. Didaerah lain kesenian ini dinamakan ketuk tilu karena salah satu instrumennya atau waditra berupa cemplon yang dinamakan ketuk yang terdiri dari tiga buah, dimana para penari nantinya menari di atas alat musik ketuk tersebut (gerakan bata roboh), yang merupakan identitas tersendiri dari tari ronggeng ketuk. Selain alat musik ketuk, kesenian ini juga menggunakan instrumen lainnya seperti rebab, gendang dengan kulanter, gong, serta kecrek.
 
Namun, meskipun namanya tari ronggeng, tari ronggeng ketuk dari Dusun Tlakop Desa Telagasari Kecamatan Lelea Kabupaten Indramayu, Jawa Barat ini jauh dari kesan erotis, apalagi vulgar. Ronggeng yang satu ini lebih cenderung memperlihatkan gerakan tarian dinamis yang enerjik dengan enerji penuh ketimbang kegemulaian gerakan tubuh tarian erotis.
 
Hal itu mungkin berkaitan dengan momen penyajian tarian tersebut dalam kegiatan ritual tertentu yang sakral seperti nguras sumur keramat dan ngarot yang digelar setahun sekali. Setidaknya ada empat sumur keramat di Kec. Lelea yakni sumur Tugu, Jatisura, Tela-gadua, dan Jambak yang dalam ritusnya wajib menyajikan tarian ronggeng ketuk yang bertujuan sebagai penggugah semangat sehingga mendatangkan berkah. Di luar acara berbau spiritual, tarian ronggeng ketuk sering pula di tanggap untuk memeriahkan upaca pernikahan, khitanan, dan lainnya.
 
Kelompok Ronggeng Ketuk Pacar Sari yang dipimpinnya pernah mengalami masa-masa keemasan, “Waktu itu, dalam sebulan bisa penuh sehingga sering ada permintaan di tolak”, ujarnya. Akan tetapi masa keemasan tersebut perlahan mulai sirna, ketika ronggeng Ketuk harus bersaing dengan orkes dangdut dan organ tunggal. Sehingga satu persatu kesenian tradisional ronggeng Ketuk mulai berguguran. Ronggeng dan nayaganya (awak gamelan) mencari sumber kehidupan lain. Sebagian lagi hilang dari peredaran karena usia lanjut dan lainnya meninggal.
 
Regenerasi kesenian tradisional yang biasanya berlangsung melalui anak atau anggota keluarga lain sudah tidak mungkin terjadi pada ronggeng ketuk. “Saat ini jangankan cucu, anak saya saja lebih memilih dangdut ketimbang menari ronggeng,” tuturnya. Praktis ia merupakan satu-satunya penari ronggeng ketuk yang masih bertahan.
 
Di tempat kelahirannya, Dusun Tlakop, Desa Telagasari, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, sang Primadona itu tetap gigih mempertahankan keberadaan Ronggeng Ketuk Pacar Sari walau hanya seorang diri. Dalam kesendiriannya, ia masih bersyukur karena ronggeng ketuk tidak hanya merupakan kesenian yang bertujuan menghibur publik penontonnya, tetapi juga memiliki nilai spiritual ketika kelompok kesenian tersebut di panggil untuk memenuhi nazar atau kaul seseorang di daerahnya.
 
Menikah dengan Waryim dan di karuniai dua orang anak Surono dan Yus Idayani.
 
(Dari Berbagai Sumber)

Nama :
Kartiwen
 
Pendidikan :
Tidak Sekolah
 
Pekerjaan :
Pimpinan Ronggeng Ketuk Pacar Sari  Dusun Tlakop, Desa Telagasari, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

You may also like...

Leave a Reply