Mohamad Sunjaya

Seniman Teater
Mohamad Sunjaya
 
 
Anak ketujuh dari 112 bersaudara, lahir di Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, 28 Agustus 1937. Tampil pertama kali di atas pentas pada tahun 1955 dalam lakon ‘Di Langit Ada Bintang’ karya Utuy Tatang Sontani, yang dipentaskan di Gedung YPK Bandung. Ketika itu Sunjaya masih bersekolah SMA A Bandung (sekarang SMA 1 Bandung). Pentas tersebut merupakan tonggak awalnya di dunia seni teater. Tahun 1958, bersama-sama teman-temannya mendirikan STB (Studiklub Teater Bandung).
 
Lahir dari ayah yang berprofesi sebagai aparatur pemerintah dimasa Kolonial Belanda Raden Memet Bratasuganda dan beribukan Nyi Mas Alniyah. Di masa kecil, ia bermukim bersama ayah-ibunya di Maja, Kabupaten Majalengka dan menjadi saksi ketika ayahnya ditangkap tentara Belanda pada tahun 1949 dan ditahan di Cirebon dan Majalengka tanpa pernah diadili, walaupun akhirnya dibebaskan dan meninggal dunia di tahun yang sama. Ibunya bekerja keras menghidupi keluarganya dan Sunjaya mencari uang dengan melukis potret. Pengalaman hidup inilah yang membentuk keteguhan dan kekeras-kepalaan Sunjaya.    
 
Jalan hidup Sunjaya pun hampir tidak ada bedanya dengan jalan hidup kelompok-kelompok teater yang ada di Bandung pada umumnya, jalan panjang dan sepi. Lebih banyak menuntut pengorbanan “Ongkos produksinya tinggi, namun tidak laku dijual,” katanya tentang panggung teater. Hebatnya, dalam situasi seperti itu, Sunjaya masih mau mendirikan kelompok teater yang secara komersial sudah pasti bakal merugikan dirinya.
 
Tepat pada usianya yang ke-62, aktor yang masa SMP-nya di Majalengka satu kelas dengan Ajip Rosidi ini, mendirikan Actors Unlimited (AUL) pada 28 Agustus 1995bersama Wawan Sofwan, IGN Arya Sanjaya, Diana G Leksanawi, Fathul A. Husein dan Sonny Soeng, dia AUL ia menjadi direkturnya. Awal tahun 1961, ia rela meninggalkan pekerjaan tetapnya sebagai karyawan swasta hanya untuk mendukung kegiatannya dalam rangka latihan pagelaran Paman Vanya karya Anton Chekov yang membutuhkan waktu sekitar empat bulan.
 
Adik kandung dari Yogie S. Memet (alm), Menteri Dalam Negeri era pemerintahan Soeharto ini, juga pernah menulis kumpulan puisi ‘Sketsa-sketsa yang Tersisa’.   Dalam kumpulan 28 puisinya itu, Sunjaya mempresentasikan kegelisahan dirinya. Hidupnya tetap melajang. Hidupnya yang diibaratkan seperti air mengalir itu, dikatakannya sendiri, ternyata tidak selamanya berlangsung tenang. Sesekali riak airnya gelisah, memunculkan perasaan gamang yang tidak bisa disembunyikan.
 
Itulah Mohamad Sunjaya, atau yang biasa dipanggil ‘Kang Yoyon’ yang sampai-sampai hampir tak bisa dibedakan mana ia tengah bermain teater dan mana ia tengah hidup senyatanya.
 
(Dari Berbagai Sumber)  

Nama :
Mohamad Sunjaya
 
Lahir :
Cikalong Wetan,
 Kabupaten Bandung,
Jawa Barat,
28 Agustus 1937
 
Pendidikan :
SMP Majalengka,
 Jawa Barat,
SMA A Bandung,
Jawa Barat,
(sekarang SMA 1 Bandung) 
 
Aktifitas lain:
Pemimpin Redaksi Lembaga Produksi Siaran ,
Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia/PRSSNI
Jawa Barat
(diberhentikan tahun 1979),
Penyiar Radio Mara
(sejak 1971)
Pendiri dan anggota Studiklub Teater Bandung (1958),
Pendiri  dan direktur Actors Unlimited
 
Karya Tulis :
Sketsa-sketsa yang Tersisa (kumpulan puisi) ,
Gumam (puisi) 
 
Pencapaian :
Anugerah Budaya  dan penghargaan 2 Abad Kota Bandung

You may also like...