Mohamad Yamin

Nama :
Muhammad Yamin

Lahir :
Talawi, Sawah Lunto,
Sumatera Barat, 23 Agustus 1903

Wafat :
Jakarta, 17 Oktober 1962

Pendidikan :
Sekolah Desa HIS (1918),
Sekolah Pertanian dan Sekolah Dokter Hewan di Bogor,
AMS di Yogya (1927),
Rechtshogeschool (sekolah tinggi hukum) di Jakarta tahun 1932

Karier :
Ketua Pengurus Besar Partindo (1932-1938),
Advocaat dan Procureur di Jakarta (1942),
Penasehat Sendenbu-Sendenka di Jakarta,
Anggota Parlemen Indonesia,
Anggota Dewan Konstituante,
Menteri Kehakiman (1951),
Menteri P dan K (1953-1955),
Menteri Sosial Kulturil (1959),
Menteri Ketua Dewan Perancang Nasional (1960-1962),
Wakil Menteri Pertama sebagai Koordinator Bidang Khusus dan merangkap Menteri Penerangan (1962-1963),

Karya Tulis :
Sang Merah Putih 6000 tahun,
Tanah Air (1922),
Indonesia Tumpah Darahku (1928),
Menantikan Surat dari Raja  (1928),
Di dalam dan Di luar Lingkungan Rumah Tangga
(1933)
Ken Arok dan Ken Dedes (1934),
Gajah Mada (1945),
Tan Malaka (1946),
Revolusi Amerika (1951),
Proklamasi dan Konstitusi Republik Indonesia (1951),
Pembentukan dan Pembubaran Uni (1954),
Kebudayaan Asia Afrika (1955),
Konstitusi Indonesia dalam Gelanggang Demokrasi (1956)

Penghargaan :
Bintang Mahaputra Kelas I
 


Muhammad Yamin

Prof. Mr. Muhammad Yamin dikenal sebagai pengarang, politikus, tokoh pergerakan nasional, sastrawan dan penggali sejarah Indonesia. Ia masih keturunan kepala adat di Minangkabau. Semasa kecil mendapat pendidikan adat dan agama, hingga tahun 1914. Sangat memperhatikan hukum adat Indonesia, sosiologi dan hukum international. Juga bahasa, sejarah dan kebudayaan Timur.

Yamin pernah menjadi Guru besar PTPG Bandung. Ia aktif dalam berbagai organisasi, antara lain sebagai Ketua Pengurus Besar Jong Sumatera Bond (1926-1928). Ketua Besar Indonesia Muda (1928), Ketua Pengurus Besar Partindo (1932-1938) dan Ketua Pengurus Besar Parpindo (Partai Persatuan Indonesia) tahun 1942. Atas jasa-jasanya di masa revolusi kemerdekaan, ia dianugerahi Bintang Mahaputra kelas I. Dalam kalangan pergerakan nasional waktu itu Yamin terkenal sebagai pemecah persatuan. Oleh karena itu kedudukannya terpencil. Ia termasuk salah satu anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia yang menyusun naskah UUD.

Pada masa Indonesia merdeka kegiatan-kegiatannya dalam berbagai bidang sangat menonjol. Bintang pribadinya terus naik sampai akhir hayatnya. Pada masa permulaan RI, Muhammad Yamin termasuk golongan persatuan Perjuangan pimpinan Tan Malaka yang beroposisi keras terhadap diplomasi Kabinet Sutan Sjahrir. Ia ikut memimpin percobaan coup d’’’etat yang terkenal sebagai Peristiwa Tiga Juli (1946). Dalam sidang Mahkamah Agung Tentara ia dijatuhi hukuman 4 tahun penjara. Pada hari kemerdekaan 17 Agustus 1948, ia memperoleh grasi dan dibebaskan. Kemudian diangkat sebagai penasihat Delegasi RI dalam KMB di Negeri Belanda.

Yamin seorang pengarang yang sangat produktif. Banyak diantara karangannya mengandung unsur sejarah dan kenegaraan. Dalam sejarah kesusastraan Indonesia, khususnya untuk bidang puisi, ada dua kepeloporan penting yang telah ditanamkan Muhammad Yamin. Pertama, dalam hal tema yang dikedepankan. Dan kedua, dalam hal bentuk yang digunakan.

Yamin pada mulanya mengangkat tema kedaerahan yang kemudian secara jelas bergerak menuju tema kebangsaan. Dari sudut ini, ia telah menempatkan puisi tidak sekedar alat untuk mengekspresikan perasaan pribadi dirinya sendiri, melainkan juga ekspresi gagasannya selaku warga bangsa. Ia menempatkan alam kedaerahan (Minangkabau-Sumatera) dalam hubungannya dengan keIndonesiaan. Selain itu, bentuk pantun dan syair yang sering lebih banyak menggunakan kalimat-kalimat pernyataan, melalui Yamin nada itu menjadi bentuk ungkapan ekspresif yang lahir dari gejolak perasaan dan pikiran.

Dari sudut pemakaian bahasa Melayu, apa yang telah dilakukan Yamin telah membuka peluang bagi pemanfaatan bahasa Melayu secara kreatif. Bahasa Melayu menjadi bahasa budaya yang modern, dan tidak lagi terkungkung oleh kata-kata klise. Yamin dikebumikan dengan upacara kenegaraan di samping kubur ayahandanya, Usman gelar Baginda Khatib di Pekuburan Punding, Desa Talawi, dekat Sawahlunto, Sumatera Barat.

(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...

Leave a Reply