Mustika

Nama :
Mustika
 
 Lahir :
Pemalang, Jawa Tengah
2 Desember 1937
 
Wafat :
21 Juli 2002
 
Pendidikan :
SMA bagian B
kursus wartawan dan latihan melukis,
kursus bahasa Belanda, Inggris dan Perancis di lembaga kebudayaan Negara tersebut
 
Aktifitas Lain :
Magang menjadi tenaga pembantu korektor pada redaksi malam harian Indonesia Raya,
Loper koran Indonesia Raya,
Pendiri Organisasi Seniman Indonesia (1958),
Karyawan PKJ-TIM
(1968-1983),
Project Officer Senirupa Dewan Kesenian Jakarta (1968-1977),
Pembentuk dan Pemimpin Sanggar Krida Jakarta (1970),
 Pendiri dan Ketua Bidang Organisasi Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia/PUTRI (1977)
Pembentuk Kelompok Senirupawan Indonesia (1979),
 Anggota Dewan Kesenian Jakarta untuk komite seni rupa (1985 – 1990)
 
Karya Tulis :
Percakapan dari hati ke hati Pelukis Indonesia (Sanggar Krida Jakarta, 1983),
Kumpulan Cerita Anak-Anak ‘Sang Bango’
 (Wijaya, 1962, 1974, 1984)  
 
 


Seniman Lukis
Mustika
 
 
 
 
Lahir pada hari Kamis, 2 Desember 1937 disebuah dusun kecil, kelurahan Benjaran Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Ia adalah putra bungsu dari lima bersaudara, 2 laki-laki dan 2 lainnya perempuan dari pasangan suami-istri Sumadio Sastrodimulyo dengan Mas Ayu Ruminah, yang mempunyai hobi membatik, menyulam, merenda serta menenun. Sedangkan ayahnya adalah seorang pensiunan pegawai negeri sipil.
 
Pada awalnya Mustika sangat tertarik mata pelajaran menggambar bebas dengan kapur warna di atas papan tulis, ataupun menggunakan grip (anak batu tulis) di atas sabak (batu tulis). Di awal hidupnya, Mustika tidak bermaksud untuk menjadi seorang seniman seni rupa. Bahkan cita-citanya ingin menjadi seorang cerdik pandai atau seorang wartawan lewat koran atau majalah tidak terlaksana.
 
Selepas dari bangku SMA bagian B, tak mampu melanjutkan keperguruan tinggi karena faktor biaya disamping biaya hidup sehari–hari yang harus dicarinya sendiri, mulailah pemuda Musika mengarungi samudera kehidupan secara mandiri seperti nasib banyak pemuda di Indonesia.
 

 
 
Lapangan kerja yang pertama dialaminya adalah magang menjadi tenaga pembantu korektor pada redaksi malam harian Indonesia Raya, membantu Rustam Effendi di percetakan de UniJaya Bode yang terletak di jalan Hayam Wuruk, pada pagi  harinya menjadi loper koran Indonesia Raya yang berkantor di Jalan Pintu Air kebeberapa langganan sub loper, sore harinya ia berlatih melukis di Balai Budaya yang di selenggarakan oleh Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN) sekitar tahun 1955-1960.
 

 
Dari pengalaman kursus wartawan dan latihan melukis yang intensif, akhirnya Mustika terseret serta jatuh ‘cinta’ pada kegiatan kreatif untuk mengajukan permohonan berhenti dari pekerjaannya. Kemudian seluruh waktunya digunakan hanya untuk melukis dan melukis sambil mengembara kemana-mana memburu ilmu kesenian  tanpa menyisakan waktu untuk mencari nafkah seperti saat sebelumnya, untuk hidup sehari-harinya diperoleh dari honorarium membuat cerita anak-anak serta membuat ilustrasinya sekaligus, atau diperoleh honorarium sket-sketnya yang dimuat oleh koran atau majalah sastra serta buku-buku cerita pengarang lain.

 

 
 

 
Untuk mengembangkan ilmu seni rupa serta memperluas wawasan apresiasi seni rupa dunia, Mustika disamping kesibukannya berlatih melukis menyelipkan kursus bahasa Belanda, Inggris dan Perancis di lembaga kebudayaan negara yang bersangkutan, dari manfaat tersebut kemudian mengenal kehidupan para pelukis besar dunia seperti : Leonardo da Vinci, Michael Angelo, Rembrandt Van Rijn, Henry Rouseu, Paul Degas, Modigliani, Piet Mondrian, Jackson Polock, Karl Apel, Kathe Kolwich, Dunchamp Tamayo, John Miro, Salvador Dali, Pablo Picasso, Albrech Durer, Kockoska Kandeski serta pelukis besar dunia lainnya.
 

Kesadaran melukis diperoleh sejak tahun 1955, kemudian tertarik mempelajari seni patungpahat tahun 1962, diselingi membuat cerita anak-anak dalam bentuk dongeng pengantar tidur berjudul ‘Sang Bangau’ diterbitkan oleh PT. Wijaya mengalami 3 kali cetak ulang serta terpilih sebagai buku inpres. Tahun 1958 ikut mendirikan Organisasi Seniman Indonesia (OSI) dan tercatat sebagai anggota termuda Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional, sejak tahun 1960-1992 acap kali menyelenggarakan pameran tunggal sebanyak 25 kali, dan pameran kolektif yang tak terhitung jumlahnya. Tahun 1970 mendirikan Sanggar Krida Jakarta yang dipimpin hingga akhir hayatnya, pada tahun yang sama ikut pula mendirikan Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI) menjabat selaku Ketua Bidang Organisasi kemudian melalui Munas I dikukuhkan selaku Ketua Bidang Sosial Budaya pada Pimpinan Pusat, hingga Munas II tahun 1989 dipercayakan lagi untuk Ketua Bidang Sosial Budaya pada Pimpinan Daerah Jakarta Raya hingga akhir hayatnya.
 
Sejak tahun 1972 selalu menyertai pameran besar seni lukis Indonesia kemudian diganti dengan sebutan ‘Biennale’ yang diprakarsai oleh Dewan Kesenian Jakarta dalam 2 tahun sekali, juga ikut dalam pameran Triennali I yang diselenggarakan di Bali tahun 1987 yang lalu, terpilih sebagai anggota Dewan Kesenian Jakarta untuk komite seni rupa masa bhakti tahun 1985-1988 kemudian diperpanjang hingga awal tahun 1990.
 
Mulai bulan April tahun 1969-1994 aktif bekerja di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki, tugas dipercayakan antaranya : Manajer Pameran, Ka. Humas, Ka. Unit Pameran, Ka. Bidang Pengawasan dan Ka. Bidang Produksi’. Tahun 1972 sebuah lukisan yang berjudul ‘Kampung Jakarta’ bersama karya pelukis Indonesia lainnya di beli oleh pemerintah RI dan kemudian dihadiahkan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada ulang tahunnya yang ke-25, kini lukisan tersebut menghias kantor PBB pusat di New York, Amerika Serikat. Karya patungnya yang berjudul ‘Suka Duka’ di beli oleh Gubernur DKI Ali Sadikin dan kemudian dihadiahkan kepada Bapak Soeharto Presiden RI pada ulang tahun beliau. Karya patung lainnya berjudul ‘Wanita Indonesia’ di beli oleh seorang kolektor ternama dari Amerika Serikat dan kini berada disana. Pada tahun 1980 lukisan berjudul ‘Danau Kintamani’ dikoleksi oleh Perdana Menteri Jepang, Suzuki.
 

 
Awal tahun 1991 bersama pelukis Sapto Hudoyo,  Hening, Swasono dari Yogyakarta, Pande Gede Supada dari Bali, Hatta Hambali dari Jakarta mewakili pelukis Indonesia, diundang pameran Biennale Negara-negara ke-3 sedunia bergabung dengan 215 pelukis kontemporer dari berbagai negara-negara selatan : Amerika Latin, Afrika, Timur Tengah, India, Asia Tenggara dan Oceania, koleksi tersebut kemudian dipamerkan keliling ke beberapa negara Eropa Barat selama 1 tahun.
 

 
Sejak bulan Juni 1989 terpilih masuk sebagai salah satu anggota kelompok kerja seni rupa dalam Panitia Pelaksana Pameran Kebudayaan KIAS tahun 1990-19’91 sebagai mata rantai diplomasi kebudayaan, disamping bekerja dikantor, melukis, memahat dan menulis juga membina serta membimbing latihan melukis bagi anak-anak, remaja dan masyarakat umum yang mempunyai keinginan kuat untuk terjun dalam kegiatan seni rupa disanggarnya yang terletak di Jalan Martapura Dalam No. 7A Jakarta Pusat, selebihnya acapkali ditunjuk untuk menjadi juri dalam berbagai kegiatan lomba  seni rupa yang diselenggarakan baik tingkat daerah maupun nasional. 

 

 

 
Alam semesta dan seisinya, merupakan lahan yang tak akan pernah habis untuk dipahami serta dicermati, segala masalah dan peristiwa ada didalamnya, serta satohewan (flora dan fauna) merupakan bagian dari alam semesta yang memiliki permasalahan dan peristiwanya masing-masing, kondisi saling berkait dalam proses kehidupan didunia fana. Berbagai masalah atau peristiwa yang menyentuh hati, sanubari, fikiran dan kalbuku sebagai seorang pelukis. Selanjutnya terpicu semangatku untuk segera merealisir berbagai ide yang kutemukan dalam penyelenggaraan hidup sehari-hari. Lahirlah lukisan-lukisan sebagai catatan berbagai masalah dan peristiwa yang benar-benar kukenali dan kuhayati.”
 

 
Ia juga aktif mengamati serta menulis berbagai masalah seni rupa yang dimuat pada surat kabar : Terbit, Suara Pembaruan, Berita Yudha,  Merdeka, Pelita,  Bisnis Indonesia, Media Indonesia,  Bandung Pos,  Majalah ASRI, Horison dan Bulletin Seni Rupa yang diterbitkan oleh Dewan Kesenian Jakarta tahun 1990, kumpulan kliping selama tahun 1970 – 1992 yang diterbitkan dalam bentuk buku ‘bunga rampai’, dalam upaya ikut serta mengisi perpustakaan dan penerbitan buku seni rupa khususnya seni lukis yang selama ini dirasakan sangat langka. Dengan demikian diharapkan dengan terbitnya bunga rampai penulisan seni rupa ini, dapat memberikan inspirasi kepada para pengamat dan penulis membukukan artikel-artikel yang telah dibuat selama ini, dengan pertimbangan bahwasanya masih sangat banyak masyarakat pecinta seni rupa mengembang persepsi seni rupa melalui buku tersebut, sehingga menjadi luas pula kesadaran berseni rupa dikalangan masyarakat Indonesia.
 
Pengetahuan ilmu seni rupa yang kini dimiliki Mustika, diperolehnya dengan cara memburu kemana-mana seperti : Bandung dari lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB), Yogyakarta dari lingkungan Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) yang kini berganti menjadi  ISI, Surakarta dari lingkungan Himpunan Budaya Surakarta (HBS) dan ke Bali pada lingkungan sentra-sentra seni rupa yang bertebaran di Bali, kegiatan yang menyangkut seni rupa sepanjang waktu yang diburunya baik praktek maupun teori disamping itu, tak henti-hentinya ia membuat berbagai catatan serta sketsa juga membuat foto dokumentasi kegiatannya. Dari ketekunannya kemudian lahir dari tangannya dua buah buku : “Tokoh-tokoh Pelukis Indonesia”, selain buku tersebut, telah tersusun pula buku pelajaran seni rupa termasuk seni kriya untuk murid kelas I sampai dengan VI serta buku panduan untuk orang tua dan guru, penulisan dilakukan bersama rekannya  Ibu Tartila Tartusi dan Ibu Nino N. Riphat yang diterbitkan oleh Yayasan Bina Pembangunan dan dilaksanakan oleh PT. Binarena Pariwara tahun 1991.
 
Kegiatan seni rupa Mustika terus tumbuh berkat pengalaman bekerja mengurus Balai Budaya dan di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki selama 25 tahun. Sehingga pengalaman keseniannya menjadi lengkap. Dengan bekerja di TIM, ia mengutamakan kerja kreatif seperti : membuat sketsa, memahat, menulis, menggrafis, membatik serta mengunjungi berbagai pameran seni rupa dan ceramah-ceramah seni rupa yang diselenggarakan di berbagai tempat.
 
Seluruh aktifitas kesenian yang dilakukan oleh Mustika, pada dasarnya karena hal yang sangat sederhana. Yaitu karena Mustika merasa “ada” dan ingin berbuat sesuatu walaupun sekecil biji ‘sawi’, ia berhasrat memberikan arti bagi nusa dan bangsanya, bangsa Indonesia. Ingin berbuat secara kongkrit untuk ikut serta ‘mencerdaskan’ manusia Indonesia agar setaraf dengan bangsa-bangsa lain.
 
(Seni Rupa Indonesia Modern Dalam Kritik dan Esei)
 
 
 
 
 

You may also like...

Leave a Reply