Mutiara Sani


Mutiara Sani
 
 
 
Setelah dua tahun mengurung diri di dalam rumah, sepeninggalan suaminya Asrul Sani, belakangan disadari sebagai tindakan bodoh. Namun, siapakah yang bisa memutar kembali waktu ? Karena itulah, Mutiara Sarumpaet Sani, yang lahir di Medan, 24 Juli 1948, memilih bangkit dan membuang rasa sesal.
 
Setelah menata kembali batin, pikiran dan kepercayaan dirinya, ia rangkul kawan-kawannya di teater maupun pemerintahan untuk menyiapkan dua pergelaran sekaligus Mahkamah dan Husni Thamrin, diangkat dari naskah terbaik Asrul Sani. Sekaligus menghidupkan kembali Sanggar Pelakon, yang ia dirikan tahun 1984. Sanggar Pelakon aktif sampai tahun 1990 setelah itu vakum karena suaminya sakit hingga meninggal tahun 2004, dan dia harus merawatnya, serta menghidupi ketiga putranya.
 
Semasa muda, Muti, panggilan akrabnya, terjun ke dunia teater, dibawah asuhan Sutopo HS, kemudian tahun 1970-an bergabung dengan Teater Populer pimpinan Teguh Karya. Sempat ikut main dalam judul Perkawinan Berdarah. Di TVRI Stasiun Pusat Jakarta ketika masih berjaya, ia dipercaya mengasuh Apresiasi Seni Budaya. Acaranya itu, memungkinkan dia bersentuhan dengan berbagai kesenian dan tokoh-tokoh kesenian terkemuka. Sambil kuliah di UKI, dia giat mengasuh acara tersebut, sehingga nama dan wajahnya popular di masyarakat. Berkat acara itu pula, ia kenal Asrul; semula hanya sebagai nara sumber, lalu mereka saling jatuh cinta, kemudian menikah pada akhir tahun 1972.
 

 
Bagi Muti ini perkawinan pertama, sedangkan bagi Asrul, merupakan perkawinan kedua setelah 15 tahun menduda, dengan tiga orang anak. Sejak Sanggar Pelakon berdiri, drama-drama Asrul Mengalir di TVRI, dan Muti sebagai pemain, antara lain berjudul Mahkamah, Gersang, Gerhana Terpanjang, Sebuah Ruang Yang Bersedih dan Terang, Antara Hari Kemarin dan Esok, Istri Pilihan, Yang Hitam Yang Putih, Apa yang Kau Cari Adinda, Persinggahan Terakhir, Orang-orang Kerasukan, Monumen, Arus Bawah, Sang Ayah, dan Husni Thamrin.

 

 
Menurut Muti, Sanggar Pelakon adalah sanggar yang menitik beratkan permainan dan pengembangan permainan aktor. Ini berbeda dengan film, dimana faktor sutradara dominan, dan pertimbangan utama justru selalu menutupi kekurangan pemain. Sanggar Pelakon tanpa sutradara.
 
Dalam aksi perdana setelah kematian suaminya tersebut, Mutiara Sani memerankan tokoh Murni dalam drama berjudul Mahkamah adi karya suaminya, yang pernah diputar di TVRI tahun 1984 dan dimainkan di Gedung Kesenian Jakarta tahun 1988 . “Kemunculan perdana saya sangat lengkap, karena memerankan tokoh Murni dalam Mahkamah karya suami saya dan yang dulu pernah disutradarai oleh suami saya,” kata Pimpinan Sanggar Pelakon tersebut.
 
Tahun 2007, kembali “Mahkamah” dipentaskannya di Graha Bhakti Budaya TIM, dan cukup sukses. Para pelaku antara lain; Ray Sahetaphy, Meritz Hendra, dan Mutiara Sani.
 
Perempuan yang pernah singgah di teater Populer asuhan Teguh Karya tersebut mengatakan sebagai orang yang dibesarkan di panggung kesenian, kembalinya dia tersebut sangat ia nikmati bagaikan menemukan kembali sesuatu yang selama ini hilang, dan tidak ada rasa khawatir untuk menikmati seni peran. “Tidak ada rasa grogi bila di atas panggung,” kata perempuan yang telah merambah dunia teater sejak 1970-an tersebut diikuti senyuman.
 
 (Berbagai Sumber)
 

Nama :
Mutiara Sarumpaet Sani
 
Lahir :
Medan, Sumatera Utara,
24 Juli 1948
 
Pendidikan :
Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta
 
Profesi :
Pekerja Teater
 
Pentas Teater yang Pernah dimainkan :
Perkawinan Berdarah,
Mahkamah,
Gersang,
Gerhana Terpanjang,
Sebuah Ruang Yang Bersedih dan Terang,
Antara Hari Kemarin dan Esok,
Istri Pilihan,
Yang Hitam Yang Putih,
Apa Yang Kau Cari Adinda,
Persinggahan Terakhir,
Orang-orang Kerasukan,
Monumen,
Arus Bawah,
Sang Ayah,
Husni Thamrin
 
 
 
 
 

You may also like...

Leave a Reply