Nanny Somanegara

Nama :
Nanny Sumarni Somanagara
 
Lahir :
17 Juli 1937
                          
Penghargaan :
The Best Supporting Actress(1991)

Filmografi :
Cas Cis Cus (1989),
Potret (1991)
 
Sinetron :
Rumah Kami (1994),
Sahabat Pilihan (1994),
Singgasana Brama Kumbara (1995),
Anakku Terlahir Kembali (1996),
Si Kabayan (1996-1997),
Cinta Di Awal Tiga Puluh (1997)
 


 Nanny Somanagara
 
 
Ditengah kesibukannya mondar-mandir Bandung-Jakarta, keluarga di Bandung Pekerjaan di Jakarta. Nenek dari 4 cucu dari 5 orang anak tidak pernah sekolah tinggi, hampir tidak pernah memperoleh pelajaran teori seni peran yang bersifat akademis. Ia menjadi orang teater hanya karena Allah dan alam yang mengantarkan dirinya ke dalam keluarga dan rumahbernama STB (Studiklub Teater Bandung).
 
Ketika Paman Vanya karya Anton Chekhov dipentaskan di gedung Tabungan Pos, Jalan Jawa, Bandung tahun 1961, ia jatuh sakit, demam berat disertai batuk-batuk dan suara hampir hilang. Sudah barang tentu tidak ada  pemain cadangan. Maka ia pun main dalam keadaan sakit berat. Dalam babak tertentu, selesai ia mengucapkan dialog yang agak panjang, ia keluar dari panggung di luar skenario. Ia terbirit-birit menuju kamar rias hanya untuk batuk-batuk dan mengeluarkan dahak yang sanggat menganggu, badannya pun terus demam, panas dingin. Tentu saja teman-teman lain yang sedang tampil itu merasa sangat kaget, meskipun pada adegan tersebut ia kebagian diam, tapi kepergiannya ke belakang layar menimbulkan dampak yang tidak biasa. Pemain-pemain lain tahu bahwa ia sedang dalam keadaan sakit lumayan keras. Entah bagaimana bisa terjadi, karena ia sendiri saat itu sudah merasa sangat payah, ia muncul kembali di atas pentas tepat saat adegan itu mengharuskannya bicara. Meskipun blocking jadi berubah. Selesai babak dan adegan terakhir, di belakang layar, ia setengah sadarkan diri.
 
Sakit tenggorokan yangt disertai demam itu iaalami lagi ketika bermain dalam Romulus Agung karya F. Durrenmatt (tahun 1967 disutradarain Jim Lim) di Bandung. Selain demam suaranya hampir hilang. Apa boleh buat, ia tampil dengan pengucapan dialog dalam volume suara minim sekali, kecuali untuk beberapa kata atau kalimat yang ia anggap harus diucapkan dengan nyaring, dengan resiko batuk-batuk atau bahkan bisa muntah. Tapi alhamdulilah, penonton bisa menangkap apa yang ia katakan dan suasana cerita tidak terlampau terganggu, barangkali karena ia juga berusaha dengan berbagai improvisasi bahkan menambah beberapa kata serta acting, yang justru tidak merusak keseluruhan arti drama itu. Selesai main, malam itu, iadi gotong lagi, diperiksa dokter yang mendadak didatangkan. Tapi esok malamnya ia tetap ikut main lagi meskipun suaminya terlihat cemas, namun suaminya tidak ngomel atau melarang karena dia tahu panggung adalah dunianya.
 
Entah sudah berapa banyak pementasan drama STB yang ia ikuti sejak tahun 1958. Setiap ia ikut dalam produksi STB ia hanyalah pemain, sebab hanya itu yang mungkin ia tangani dengan sepenuhnya dan dengan kecintaan yang mendalam.
 
Di sela-sela kesibukannya dalam suasana dan dunia yang jauh berbeda dengan dunia teater, yakni dunia sinetron atau film, Ia merasa tidak mau meninggalkan panggung teater dengan STB-nya. Ia sering merasakan kerinduan pada panggung, karena dunianya ada disitu. Dunia sinetron atau film belum tentu identik denga dunia yang gemerlap dan glamour. Dalam dunia tersebut seseorang dapat menyaksikan atau mengalami hal-hal yang aneh, mungkin karena dunia tersebut sudah merupakan dunia industri. Yang cukup membesarkan hati, dalam dunia film yang belum begitu lama ia masuki, ialah ketika film Cas Cis Cus karya Putu Wijaya diikutsertakan dalam festival film Asia Pasifik di Taipei pada tahun 1991. Dewan juri festival tersebut menetapkannya sebaga The Best Supporting Actress untuk peran yang ia bawakan, lucunya, ia mengetahui hal itu hanya dari beberapa teman, setelah beberapa media cetak memberitakannya, karena ia tidak ikut ke Taipei waktu itu.
 
Suatu waktu nanti, ia harus ikut main drama lagi dalam produksi STB. Ia berpikir, orang-orang STB yang saat ini masih muda usia mungkin ada perlunya mengalami main drama bersama orang sepertinya.
 
(Teater Untuk Dilakoni, Kumpulan Tulisan Tentang Teater)
 

You may also like...

Leave a Reply