Nano Riantiarno

Seniman Teater
Nano Riantiarno
 
 
Lelaki semampai ini biasa di panggil Nano, mulai berkesenian sejak tahun 1965 di Cirebon, Jawa Barat, ketika ia menjadi anggota TTA (Tunas Tanah Air). Sejak 1 Maret 1977 ia memimpin Teater Koma, grup teater yang telah mementaskan ratusan lakon baik di televisi, Panggung TIM maupun Gedung Kesenian Jakarta. “Drama saya merupakan hiburan”, katanya. Dengan suasana penuh musik dan nyanyi, dramanya yang telah berhasil menyedot banyak penonton antara lain ‘Opera Ikan Asin’ saduran karya Bertolt Brecht, ‘Opera Salah Kaprah’ olahan dari The Comedy of Errors karya Shakespeare, ‘Kenapa Leonardo’ karya Evald Flisar. Kecuali naskah olahan karya asing, ia juga mementaskan cerita buatannya sendiri, misalnya ‘Rumah Kertas’, ‘Maaf-Maaf-Maaf’ dan ‘Opera Kecoa’.
 
Di luar panggung, ia menulis skenario film, paling tidak sudah ada 17 judul yang ia buat, misalnya, ‘Dr. Siti Pertiwi’, ‘Sang Juara’, ‘Gaun Pengantin’ dan ‘Jakarta-Jakarta’. Untuk yang disebut terakhir, pada Festival Film Indonesia Ujung Pandang (1978), ia berhasil mendapatkan Piala Citra. Dramawan yang juga pernah menjabat redaktur majalah Zaman ini mulai main drama di sekolah menengah, di Cirebon, kota kelahirannya, 1964. Suatu Kali, untuk pementasan Caligula pemeran utamanya sakit. “Saya disuruh menggantikannya. Selama 10 hari saya dilatih keras. Akhirnya saya berhasil,” katanya. Sejak itu ia terus menekuni dunia panggung dan lupa pada cita-citanya menjadi professor. Lepas SMA, ia masuk Akademi Teater Nasional (ATNI) Jakarta. Kemudian ia bergabung ke dalam grup Teater Populer, pimpinan Teguh Karya.
 

Tahun 1975, untuk mengenal kehidupan teater rakyat dan kesenian tradisi di pelbagai tempat, anak kelima (dari tujuh bersaudara) M. Soemardi ini melakukan perjalanan keliling Indonesia. Juga berkeliling Jepang atas undangan Japan Foundation (1987 & 1997). Mendapat undangan dari Goethe Institut untuk mengikuti Berliner Fetspiele, dan Theatre Treffen Funfzig di Berlin. Mengunjungi negara-negara Skandinavia, Inggris, Perancis, Belanda, Italia, Afrika Utara, Turki, Yunani, Jerman, Kamboja, Thailand, Tiongkok, Cekoslowakia dan Slovemia dalam kurun waktu 1986-2013.
 
Partisipan pada International World Festival 1987 dan New Order Seminar 1988, yang keduanya di gelar Australia National University, Canberra, Australia ini, pernah memperbincangkan teater Indonesia di Cornell University, Ithaca, Amerika Serikat (1990), berbicara mengenai teater Indonesia di kampus-kampus universitas di Sydney, Monash-Melbourne, Adelaide dan Perth (1992). Pada 1996, ia menjadi partisipan aktif pada Session 340, Salzburg Seminar di Austria dan beberapa kali menjadi juri Festival Film Indonesia, Festival Sinetron Indonesia dan Festival Teater Jakarta.


Kenapa Leonardo (2008)

 
Pernah menjadi anggota Komite Artistik Seni Pentas untuk KIAS (Kesenian Indonesia di Amerika Serikat, 1991-1992), anggota Board of Artistic Art Summit Indonesia (2004 & 2007) dan ketua kelompok kerja film indonesia, Direktorat Film Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Konseptor dari Jakarta Performing Art Market/PASTOJAK (Pasar Tontonan Jakarta I – 1997), yang diselenggarakan selama sebulan penuh di TIM ini, juga pernah menyutradari Sampek Engtay di Singapura (2001), dengan pekerja dan para pemain dari Singapura. Salah satu pendiri Asia Art Net/AAN (1998), sebuah organisasi seni pertunjukan yang beranggotakan sutradara-sutradara Asia ini, pernah menjabat sebagai artistic founder dan evaluator dari PPAS/Practise Performing Arts School di singapura. Evaluator di akademi Seni Kebangsaan Kuala Lumpur, Malaysia dann pengajar di Akademi Kesenian Melayu Riau           
  
Menikah dengan Ratna Madjid, yang juga seorang aktor teater dan penggiat seni. Dikaruniai tiga orang putra orang putra, Satria Rangga Buana, yang kini menjadi aktor Teater Koma, dan Rasapta Candrika, yang juga ikut membantu dalam setiap pementasan Teater Koma dan Gagah Tridarma Prastya.  Bersama Teater Koma, seniman teater yang berdomisili di bilangan Bintaro, Jakarta Selatan ini, yakin teater bisa menjadi salah satu jembatan menuju keseimbangan bathin dan jalan bagi terciptanya kebahagiaan yang manusiawi. Jujur, bercermin lewat teater, diyakini pula sebagai salah satu cara untuk menemukan kembali peran akal sehat dan budi-nurani. Sikap saling menghargai perbedaan, saling menghargai sesama.  
 
(Dari Berbagai Sumber)
 

Nama :
Norbertus Riantiarno
 
Lahir :
Cirebon, Jawa Barat,
6 Juni 1949
 
Pendidikan :
SD, Cirebon (1960),
SMP, Cirebon (1963),
SMA, Cirebon (1967),
Akademi Teater Nasional Indonesia, Jakarta (1968),
Sekolah Tinggi Filsafat Driyakara, Jakarta (1971),
International Writing Program, Universitas Iowa, Amerika Serikat (1978)
 
Aktifitas Berkesenian :
Penulis dan asisten sutradara teater/film  (1968-1977),
Pendiri dan pemimpin Teater Koma  (1977 s/d sekarang),
Pendiri dan Redaktur majalah Zaman (1979-1985),
Anggota Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta (1982-1985),
Pendiri Asia Art Net – AAN (1998),
Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta (1985-1990),
Pendiri dan Pimpinan Redaklsi majalah Matra (1986-2001)
Pengajar Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia/ISI Surakarta, Jawa Tengah (2004 s/d sekarang),
Anggota BP2N/Badan Pertimbangan Film Nasional (2007-2009)
Pengajar Pasca Sarjana Universitas Dr. Soetomo Surabaya, Jawa Timur
 (2009 s/d sekarang)
 
Aktifitas Seni :
Bergabung dengan Teater Populer pimpinan teguh Karya (1968),
Mendirikan Teater Koma (1977),
Menyutradarai dan Menulis naskah Teater Koma (1977)
 
Naskah Teater (Panjang) :
Rumah Kertas (1977),
Maaf, Maaf, Maaf
(1978, 2005),
J.J – Jian Jdan Juhro (1979
Kontes 1980 (1980),
Citra Menguak Takdir (1981),
Bom Waktu(1982),
Balada Harijadi (1984),
Opera Kecoa (1985, 1990),
Opera Julini (1986),
Balada Komputer (1986),
Merah Putih (1986),
Pesta Burung-Burung (1987),
Sampek Engtay (1988, 1999, 1997, 2002, 2005, 2013),
Opera Primadona (1988)
Dunia Fantasi (1988),
Banci Gugat (1989),
Suksesi (1990),
Pialang Segitiga (1990),
Konglomerat Burisrawa (1990),
RSJ – Rumah Sakit Jiwa
 (1991, 1992),
Opera Ular Putih (1994),
Semar Gugat (1995),
Cinta Yang Serakah (1996),
Opera Sembelit (1998),
Kala (1997),
Samson Delilah (2000),
Opera Primadona (2000),
Republik Bagong (2001),
Kala (2001),
Presiden Burung-Burung (2001),
Trilogi Opera Kecoa (2003),
Republik Petruk (2009),
Tanda Cinta (2009),
Rumah Pasir – Lakon HIV/AIDS (2010),
Demonstran (2014)
 
Sinetron :
Cermin (1977)
Gigi Busuk (1978),
Anak Kandung (1979),
Potret (1980),
Matahari-Matahari (1981),
Gelas Retak (1982),
Ibu (1982),
Benang-Benang Rapuh (1983),
Lingkaran Putih (1984),
Tiga Merpati (1984),
Anak Kandung (1985),
Karina (1987),
Rembulan Teluka (1989),
Jumilah Kembang Kota Paris (1989),
Meniti Pelangi (1992),
Teh dan Soda (1993),
Onah dan Impiannya, Suryakanta Kala (1994),
Kupu-Kupu Ungu (1998),
Opera Salon (2001),
Cinta Terhalang Tembok (2002) ,
Komedi Nusa Getir (2003),
Kabaret, Gado-Gado Politik (2008),
 
Filmografi :
Gaun Pengantin
(Skenario, 1974),
Kawin Lari (Skenario, 1974),
Ranjang Pengantin
(Skenario, 1974),
Jinak-Jinak Merpati
(Skenario, 1975),
Surat Undangan
 (Skenario, 1975),
Perkawinan Dalam Semusim (Skenario, 1976),
Jakarta-Jakarta
(Skenario, 1977),
Kasus – Kegagalan Cinta (Skenario, 1978),
Puber (Skenario, 1978),
Dokter Siti Pertiwi Kembali Ke Desa (Skenario, 1979),
Acuh-Acuh Sayang
(Skenario, 1981),
Dalam Kabut dan Badai (Skenario, 1981),
Amalia SH (Skenario, 1981),
Halimun (Skenario, 1982),
Gadis Hitam Putih
 (Skenario, 1985),
Pacar Pertama
(Skenario, 1986),
Sama Juga Bohong
 (Skenario, 1986),
Dorce Ketemu Jodoh
 (skenario, 1990),
Cemeng 2005 – The Last Primadona (Penulis & Sutradara, 1995)
Hilang Identitas Di Metropolitan – Sebuah Animasi Didaktik
(Penulis & Sutradara, 2007)
 
Pentas Multimedia Kolosal :
Rama – Shinta (1994),
Opera Mahabrata (1995),
Opera Anoman (1998),
Bende Ancol (1999),
Rock Opera (2002),
Memandang Kandang : Anomali VS Neo Habitus (2005),
Ancol Paradis – Fantastique Multimedia Show (2011),
 
Pencapaian :
Pemenang Harapan Penulisan Naskah Drama Dewan Kesenian Jakarta untuk naskah Matahari Sore Bersinar Lembayung (1972),
Pemenang Harapan Sayembara Penulisan Naskah Drama Dewan Kesenian Jakarta untuk naskah Tali-Tali (1973),
Pemenang Harapan Sayembara Penulisan Naskah Drama Dewan Kesenian Jakarta untuk naskah Malam Semakin Malam (1974),
Pemenang Harapan Sayembara Penulisan Naskah Drama Dewan Kesenian Jakarta untuk naskah Lingkaran Putih (1975),
Piala Citra kategori Penulis Skenario Terbaik untuk film Jakarta-Jakarta pada FFI 1978,
Pemenang Naskah Drama Anak-Anak Depatemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk  naskah judul Jujur Itu (1978),
Pialan Vidia kategori Penulis Skenario Terbaik untuk sinetron Karina (1987),
Pemenang Sayembara Novel majalah Kartini untuk Percintaan Senja (1993),
Pemenang Sayembara Novelet majalah Femina untuk Ranjang Bayi (1993)
Anugerah Seni dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (1993),
Hadiah Sastra Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk naskah Konglomerat Burisrawa (1994),
Pemenang ke-2 Sayembara Penulisan Naskah Drama Dewan Kesenian Jakarta untuk naskah Opera Sembelit (1998),
SEA Write Award dari Raja Thailand untuk naskah Semar Gugat (1998),
Hadiah Sastra Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk naskah Semar Gugat (1998),
Piagam Penghargaan Menteri Pariwisata dan Budaya sebagai Seniman dan Budayawan Berprestasi (1999),
Skenario Film Terpuji untuk Sinetron Kupu-Kupu Ungu dari Forum Film Bandung (1999),
Miniseri Terbaik untuk sinetron miniseri Cinta Terhalang Tembok (2002),
Khatulistiwa Award kategori Prosa untuk novel Cermin Merah (2004),
Piagam penghargaan dari Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat atas jasa dan peranannya mengembangkan teater di Indonesia (2007),
Anugerah Federasi Teater Indonesia (2008),
Satya Lencana Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dari Presiden Republik Indonesia (2012),
Penghargaan Institut Kesenian Jakarta Seni Peran kategori Sutradara Terbaik (2012),
Penghargaan Anugerah Universitas Gajah Mada (2013),
Habibie Award bidang Ilmu Kebudayaan (2014),
Penghargaan Akademi Jakarta (2014)
 
Karya Tulis :
Opera Primadona
(Pustaka Kartini, 1988),
Percintaan Senja
(Pustaka Kartini, 1988),
Suksesi (Teater Koma, 1990),
Naskah Drama
Konglomerat Burisrawa (Teater Koma, 1990),
ime Bomb & Cockroach Opera
(Yayasan Lontar, 1992),
Teguh Karya & Teater Populer (Pustaka Sinar Harapan, 1993),
Drama Semar Gugat (Bentang Budaya, 1995),
Cinta Yang Serakah
(Bentang Budaya, 1996),
Sampek Engtay
(Pustaka Jaya, 1997),
Opera Sembelit
(Balai Pustaka, 1998),
Opera Ikan Asin
(Pustaka Jaya, 1999),
Republik Bagong
(Galang Press, 2001),
Menyentuh Teater
(MU:3 Books, 2003),
Cermin Merah (Grasindo,2004),
Trilogi Opera Kecoa (Matahari – Yogyakarta, 2004),
18 Fiksi Di Ranjang Bayi (Penerbit Buku Kompas, 2005),
Primadona (Gramedia Pustaka, 2005),
Cermin Bening
(Grasindo, 2005),
Maaf, Maaf, Maaf (Gramedia Pustaka, 2005),
Cermin Cinta
(Grasindo, 2006),
Degung Rindu (Yayasan KoMaadjid, 2008),
Cermin Kecoa & Tanda Cinta (Yayasan KoMadjid, 2008),
Kitab Teater (Grasindo, 2011)  

You may also like...