Nasir

Nama :
H.M. Nasir T
 
Lahir :
Jakarta (Jatinegara),
 2 Februari 1936
 
Wafat :
Jakarta, 12 April 2006
 
Pendidikan :
SMP
 
Filmografi :
Si Gondrong (1971),
 Pinangan (1976),
Betty Bencong Slebor (1978),
Duyung Ajaib (1978),
Si Ronda Macan Betawi (1978),
Romantika Remaja (1979),
Kembang Semusim (1980),
Khana (1980),
Perjuangan dan Doa (1980),
Santet (1988),
Tamu Tengah Malam (1989),
Wanita Harimau (1989),
Si Manis Jembatan Ancol (1993)
 
Sinetron :
Ali Oncom,
Si Doel Anak Sekolahan I,
Suratan (1994),
Hantu Sok Usil (1997)

Seniman Teater Tradisional
Nasir
 
 
 
Bernama lengkap H.M. Nasir T. Lahir di Jakarta (Jatinegara), 2 Februari 1936. Pendidikannya hanya sampai SMP. Dikenal sebagai seniman lenong dan topeng Betawi. Lenong adalah kesenian teater tradisional atau sandiwara rakyat Betawi yang dibawakan dalam dialek Betawi yang berasal dari Jakarta. Kesenian tradisional ini diiringi musik gambang kromong dengan alat-alat musik seperti gambang, kromong, gong, kendang, kempor, suling, dan kecrekan, serta alat musik unsur Tionghoa seperti tehyan, kongahyang, dan sukong. Lakon atau skenario lenong umumnya mengandung pesan moral, yaitu menolong yang lemah, membenci kerakusan dan perbuatan tercela. Bahasa yang digunakan dalam lenong adalah bahasa Melayu (atau kini bahasa Indonesia) dialek Betawi.
 
Sedangkan topeng Betawi merupakan pertunjukkan gabungan yang melibatkan tarian, musik, narasi dan nyanian, seperti teater atau opera. Namun dalam pertunjukan ini para pemainnya mengenakan topeng sebagai bagian dari pertunjukan. Kesenian Topeng Betawi ini terdiri atas Topeng Blantek dan Topeng Jantuk. Pertunjukkan topeng biasanya dimaksudkan sebagai kritik sosial atau untuk menyampaikan nasehat-nasehat tertentu kepada masyarakat lewat banyolan-banyolan yang halus dan lucu, agar tidak dirasakan sebagai suatu ejekan atau sindiran.
 
Ia telah menggeluti dunia lenong dan topeng Betawi sejak berusia 14 tahun mewarisi profesi orang tuanya. Bersama H. Bokir (alm), ia mendirikan dan membesarkan Lenong dan Topeng Betawi Setia Warga. Selepas dari kelompok Lenong dan Tari Topeng Setia Warga, ia sempat mendirikan kelompok sejenis yang diberi nama Sinar Jaya. Pada pertengahan tahun 1970-an, ketika SM. Ardan (alm), D. Jayakusuma (alm), Soemantri Sosrosoewondo mengembangkan lenong di Taman Ismail Marzuki, semua seniman tanpa dibedakan latar belakang jenis seninya, direkrut dan diajak main lenong. Maka ketika itulah namanya dikenal luas oleh masyarakat.
 
Setelah itu, bersama H. Bokir (alm), Hj. Siti, serta H. Anen, ia berhasil membawa kebudayaan khas Jakarta sejak tempo dulu itu ke pentas kebudayaan nasional, melalui tayangan di Televisi Republik Indonesi pada 1970-an. Bahkan, bersama teman-teman dan saudaranya tersebut berhasil pula, ia mencetak generasi baru penerus Lenong dan Topeng Betawi, seperti Mandra, Anna, Munaroh, Omas dan sejumlah nama lain yang kemudian kian terkenal melalui tayangan sinetron di televisi swasta.
 
Selain aktif di dunia teater tradisi Betawi, ia juga aktif didunia film. Di film, ia kerap berperan sebagai pemeran pembantu. Pertama kali tampil di film dalam Si Gondrong (1971). Setelah itu ia bermain kembali dalam Pinangan (1976),  Betty Bencong Slebor (1978), Duyung Ajaib (1978), Si Ronda Macan Betawi (1978), Romantika Remaja (1979), Kembang Semusim (1980), Khana (1980), Perjuangan dan Doa (1980), Santet (1988), Tamu Tengah Malam (1989), Wanita Harimau (1989) dan Si Manis Jembatan Ancol (1993). Penggemar mobil bergardan ganda ini, juga tercatat bermain pada beberapa judul sinetron, diantaranya Ali Oncom, Si Doel Anak Sekolahan I, Suratan (1994) dan Hantu Sok Usil (1997).
 
Wafat di Jakarta, 12 April 2006, setelah sempat menderita penyakit asma. Jenazahnya kemudian dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Ceger, Jakarta Timur. Meninggalkan delapan putra dan putri dari dua orang istri. Semasa hidupnya ia termasuk tokoh kesenian Betawi yang menginginkan kebudayaan tradisionalnya merambah ke semua ‘panggung’ berkesenian, dari teater pinggir jalan, panggung hiburan sampai dengan dunia film dan televisi. Bahkan, ia menggugah minat seniman Betawi bukan lagi sekadar menjadi pemain, melainkan harus pula mampu merebut posisi sutradara dan produser.
 
(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...