Nasjah Djamin

Nama :
Noeralamsyah
 
Lahir :
Perbaungan,
Sumatera Utara,
 24 Desember 1924
 
Wafat :
Yogyakarta,
 4 September 1997
 
Pendidikan :
HIS,
 Mulo (tidak tamat),
Sekolah art dan setting untuk pentas film dan televisi di Tokyo, Jepang, (1960-1963)
 
Karier :
Kuli Kasar di Lapangan Terbang Polonia Medan,
Bekerja di Bukaka,
Ilustrator Balai Pustaka (1949),
Karyawan bagian senirupa bagian Kesenian Jawatan Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayan Yogyakarta (1952),
Redaktur Majalah Budaya
(1955-1962)
 
Penghargaan :
Naskah drama Sekelumit Nyanyian Sunda meraih predikat juara ketiga sayembara menulis drama Bagian Kesenian Departemen P & K (1958),
 Naskah drama Sekelumit Nyanyian Sunda meraih Hadiah Sastra Nasional BMKN
 (1957 / 1958),
Novel Gairah untuk Hidup dan untuk Mati yang merupakan cerita bersambung dalam majalah Minggu Pagi nomor
1—24 tahun 1967 berhasil memperoleh Anugerah Seni dari pemerintah RI (1970),
Novel Bukit Harapan, meraih hadiah Sayembara Penulisan Roman DKJ (1980),
Novel Ombak Parangtritis  meraih hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K sebagai buku fiksi remaja terbaik (1983)
 
Karya :
Si Pai Bengal
 (cerita anak, 1952),
Hang Tuah
 (cerita anak, 1952),
Titik Titik Hitam
 (drama, 1956)
Jembatan Gondolayu (1957),
Sekelumit Nyanyian Sunda (kumpulan cerpen, 1962),
Hilangnya si Anak Hilang
(novel, 1963),
Seklumit Nyanyian Sunda
(kumpulan drama, 1964),
Helai-Helai Sakura Gugur
(novel, 1964),
Di Bawah Kaki Pak Dirman (kumpulan cerita, 1967),
Malam Kuala Lumpur
 (novel, 1968),
Sebuah Perkawinan
(kumpulan cerita, 1974),
Yang Ketemu Jalan
(novel, 1981),
Dan Senja pun Turun
 (novel, 1982),
Hari-Hari Akhir si Penyair
(esai, 1982),
Tresa Atas Tresna
 (novel, 1983),
Bukit Harapan (novel, 1984),
Tiga Puntung Rokok
(novel, 1985),
Ombak dan Pasir
(novel, 1988),
Ibu (novel, 1988)


Penulis
Nasjah Djamin
 
 
Dilahirkan di Perbaungan, Sumatera Utara, 24 Desember 1924. Anak ketujuh dari delapan bersaudara. Kedua orang tuanya berasal dari Minangkabau, Padang, Sumatera Barat. Ayahnya bernama Haji Djamin dan ibunya bernama Siti Sini. Ayahnya bekerja sebagai mantri candu dan garam di Deli. Ia dan kedua orang tuanya tinggal di daerah perkebunan di daerah Deli. Di antara saudara-saudaranya, hanya ia yang mempunyai bakat seni. Bakat seninya yang pertama kali tumbuh adalah melukis. Ia senang sekali melukis pemandangan sekitar perkebunan serta pedati dan kusirnya.
 
Meski orang tuanya hanya berprofesi sebagai pegawai rendah, namun, hal itu tidak menjadikannya untuk berdiam diri. Ia berhasil menamatkan sekolah HIS (Hollandas Inlandse School). Ia juga berhasil melanjutkan sekolah Mulo tahun 1941, meski tidak sampai tamat. Setelah keluar dari Mulo, ia memutuskan untuk bekerja. Awalnya bekerja sebagai kuli kasar di lapangan terbang Polonia, Medan. Dengan bekal kepandaian melukis, ia kemudian bekerja di kantor Bukaka, sebuah kantor propaganda Jepang.
 
Salah satu pendiri Angkatan Seni Rupa di Medan (1945) ini kemudian bergabung dengan Sanggar seniman Indonesia muda Yogyakarta (dibawah asuhan S. Sudjojono, Afandi dan Soedarso, 1947-1948). Lewat perkenalannya dengan para seniman sastra yang kerap kumpul bersama para pelukis di jalan Garuda, ia akhirnya sedikit demi sedikit mulai tertarik dalam kegiatan tulis menulis.
 
Tahun 1949 bekerja di Balai Pustaka sebagai illustrator. Di Balai Pustaka ia sering mendengar diskusi antar-pengarang, seperti Idrus dan Chairil Anwar. Keadaan itu membuat Nasjah semakin membuatnya tertarik pada kesusastraan. Hal itu kemudian dibuktikannya dengan tulisan-tulisan yang diciptakannya selama ia bekerja di Balai Pustaka, seperti, puisinya yang berjudul Pengungsi. Karya lain yang diciptakan adalah cerita bergambar bagi anak-anak, Hang Tuah (1952) dan Si Pai Bengal(1952), yang kemudian diterbitkan oleh Balai Pustaka.
 
Setelah berhenti bekerja di Balai Pustaka, ia kembali ke Yogyakarta. Pada tahun 1952, ia bekerja sebagai pegawai pada Bagian Kesenian, Jawatan Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta, bekerja di bagian seni rupa. Di samping itu, ia juga menjadi redaktur majalah Budaya (1955-1962). Di tempat tersebut ia semakin aktif menulis. Karya yang ditulisnya selama bekerja di majalah itu, antara lain, Titik-Titik Hitam (1956), Sekelumit Nyanyian Sunda (1957), dan Jembatan Gondolayu (1957). Ketiganya merupakan drama. Selain menulis di majalah Budaya, ia juga menulis di di majalah Minggu Pagi dan surat kabar Kedaulatan Rakyat.
 
Mulai menulis novel pada tahun 1950. Novel pertama yang dihasilkannya adalah Hilanglah Si Anak Hilang. Karya itu kemudian diterjemahkan oleh Farida Soemargono Labrousse ke dalam bahasa Prancis dengan judul Le Depart de L’Enfant Proddigue (1979). Karya novel lain yang telah ditulisnya adalah Helai-Helai Sakura Gugur (1964), Malam Kuala Lumpur (1968), Yang Ketemu Jalan (1981), Dan Senja pun Turun (1982), Tresna Atas Tresna (1983), Tiga Puntung Rokok (1985), serta Ombak dan Pasir (1988).
 
Karya cerita pendeknya terkumpul dalam tiga kumpulan cerita pendek, yaitu Sekelumit Nynyian Sunda(1962), Di Bawah Kaki Pak Dirman (1967) dan Sebuah Perkawinan (1974). Sedangkan karya puisinya yang pernah di terbitkannya antara lain Berat (dalam majalah Seniman, 1947), Bunga dan Pengungsi (dalam majalah Seniman, 1948), serta Yati Kecil (dalam majalah Budaya, 1954).
 
Atas peran aktifnya di dunia sastra, pendiri Teater Indonesia ini tercatat meraih beberapa penghargaan antara lain karyanya berupa judul drama Sekelumit Nyanyian Sunda (1958), memenangkan juara ketiga sayembara menulis drama Bagian Kesenian Departemen P & K 1958 dan sekaligus memperoleh Hadiah Sastra Nasional BMKN 1957 / 1958. Novelnya Gairah untuk Hidup dan untuk Mati yang merupakan cerita bersambung dalam majalah Minggu Pagi nomor 1—24 tahun 1967 berhasil memperoleh Anugerah Seni dari pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1970. Novelnya, Bukit Harapan, meraih hadiah Sayembara Penulisan Roman DKJ 1980. Novelnya yang lain, Ombak Parangtritis (1983) meraih hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K sebagai buku fiksi remaja terbaik tahun 1983.
 
Penulis yang pernah memperdalam pengetahuan mengenai art dan setting untuk pentas film dan televisi di Tokyo, Jepang, pada tahun 1960-1963 ini, menulis merupakan dorongan batin. Ia pernah berpendapat, mencipta itu merupakan keharusan meskipun untuk sementara ciptaannya itu disimpan dalam lemari. Karya-karya yang ditulisnya merupakan sumbangan yang berharga bagi perkembangan kesusasteraan Indonesia. Setelah menikah pada tahun 1967, Nasjah Djamin tinggal menetap di Yogyakarta bersama istrinya, Umi Naftiah dan anak-anaknya. Nasjah Djamin wafat di Yogyakarta pada 4 September 1997, dalam usia 73 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Bukit Saptorenggo, Imogiri, Yogyakarta.
 
(Dari Berbagai Sumber)
 
 
 

You may also like...

Leave a Reply