NH. Dini

Nama :
Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin
 
Lahir :
Sekayu, Semarang,
Jawa Tengah
29 Februari 1936
 
Pendidikan :
SMA Sastra Bojong (1956),
 Kursus Pramugari Darat GIA Jakarta (1956),
Kursus B-I Jurusan Sejarah (1957)
 
Karier :
Redaksi Budaya Majalah pelajar Gelora Muda (1954),
Karyawan Garuda Indonesia Airlines (1957-1960),
Bekerja sebagai penjaga orang tua dan relawan di Societe Protectrices des Animaux & Les Amis de La Nature (1977),
Menjadi anggota Badan Pembina di Dewan Kesenian Jakarta (1992),
Menjadi anggota Badan Pertimbangan Kesenian Jawa Tengah (1997),
Menjadi anggota Akademi Jakarta (2002)
 
Karya Tulis :
Dua Dunia (Kumpulan cerita pendek, NV Nusantara, Bukittinggi, 1956),
Hati Yang Damai
 (novel, NV Nusantara Bukittinggi, 1961),
Di Pondok Salju (1963),
Pada Sebuah Kapal
 (novel, PT. Dunia Pustaka Jaya, kemudian diambil alih oleh PT. Gramedia Pustaka Utama, 1972),
Keberangkatan
(novel, PT. Dunia Pustaka Jaya, kemudian diambil alih oleh PT. Gramedia Pustaka Utama, 1977),
 Namaku Hiroko
 (novel, PT. Dunia Pustaka Jaya, kemudian diambil alih oleh PT. Gramedia Pustaka Utama, 1977),
Sebuah Lorong di Kotaku (cerita kenangan, PT. Dunia Pustaka Utama, kemudian diambil alih PT. Gramedia Pustaka Utama, 1978),
 Pada Ilalang
 di Belakang Rumah
(cerita kenangan, PT. Dunia Pustaka Jaya, kemudian alih oleh PT. Gramedia Pustaka Utama, 1979)
Langit Dan Bumi
Sahabat Kami
(cerita kenangan, PT. Dunia Pustaka Jaya, kemudian diambil oleh PT. Gramedia Pustaka Utama, 1979),
 Sekayu
(cerita kenangan, PT. Dunia Pustaka, kemudian diambil oleh PT. Gramedia Pustaka Utama, 1981),
Pangeran dari Seberang  (biografi penyair Amir Hamzah, PT. Dian Rakyat, 1981),
Kuncup Berseri
 (cerita kenangan, PT. Dunia Pustaka Jaya, kemudian diambil alih oleh PT. Gramedia Pustaka Utama, 1982),
Tuileries
(kumpulan cerita pendek, PT. Sinar Harapan, 1982),
Segi dan Garis (kumpulan cerita pendek, PT. Dunia Pustaka Jaya, 1983),
 Orang-orang Tran
 (novel, PT. Pustaka Sinar Harapan, 1983)
Sampar
(novel terjemahan Albert Camus, La Paste, 1983),
Pertemuan Dua Hati (novel, PT. Gramedia Pustaka Utama, 1986),
 Jalan Bendungan
(novel, PT. Djambatan, kemudian diambil alih oleh PT. Gramedia Pustaka Utama, 1989),
Tirai Menurun
(novel, Gramedia Pustaka Utama, 1993),
Panggilan Dharma Seorang Bhikku (riwayat hidup Bhikku Girrakkito Mahatera, nirlaba, Yayasan Watugong Semarang dan Sangha Theravada, penerbitan eksklusif, tidak diperdagangkan, 1996),
Tanah Baru, Tanah Air Kedua (novel, versi baru Orang-Orang Tran, PT. Gramedia Widyasarana Indonesia/PT. Grasindo,1997),
Hati Yang Damai
 (novel, PT. Grasindo, 1998),
Cerita-Cerita Dari Perancis
 1 & 2 (legenda Perancis, PT. Grasindo, 2000), 
Kemayoran (cerita kenangan, PT. Gramedia Pustaka Utama, 2000),
Jepun, Negerinya Hiroko (cerita kenangan, PT. Gramedia Pustaka Utama),
La Barka
(novel, PT. Grasindo, 2001),
Monumen (kumpulan cerita pendek, PT. Grasindo, 2002),
Dua Dunia (kumpulan cerita pendek, PT. Grasindo, 2002),
Istri Konsul (kumpulan cerita pendek, PT. Grasindo, 2002),
Dari Parangik ke Kampuchea (cerita kenangan, PT. Gramedia Pustaka Utama, 2003),
Pencakar Langit
 (kumpulan cerita pendek, PT. Grasindo, 2003),
Janda Muda
(kumpulan cerita pendek, PT. Grasindo, 2003),
20.000 Mil di Bawah Lautan (novel terjemahan dari bahasa Perancis karya Jules Verne, Vinqt Mile Lieues sous Les Mers, Penerbit Enigma, Yogyakarta, 2004),
Dari Fontenay ke Magallianes (cerita kenangan. PT. Gramedia Pustaka Utama, 2005),
Sampar
(novel terjemahan Albert Camus, La Paste, Edisi II Yayasan Obor Indonesia, 2006),
    La Grande Bourne (cerita kenangan, PT. Gramedia Pustaka Utama, 2007)    
Argenteuil : Hidup Memisahkan Diri (cerita kenangan, PT. Gramedia Pusatak Utama, 2008),
Tukang Kuda, Kapal La Providence ( novel terjemahan Le Charretier de La Providence, Karya Georges Simenon, Kelompok Jakarta-Paris & Penerbit Kiblat Buku Utama, Bandung, 2008),
Pondok Baca Kembali ke Semarang (novel, PT. Gramedia Pustaka Utama, 2011) ,
Amir Hamzah, Pangeran Dari Seberang (novel, Gaya Favorit Press, 2011),
Dari Rue Saint Simon Ke Jalan Lembang (novel, Gramedia Pustaka Utama, 2012)
 
Penghargaan :
Memenangkan lomba penulisan naskah sandiwara radio se-Jawa Tengah (1955),
Di Pondok Salju, memenangkan Hadiah Kedua Majalah Sastra (1963),
Mengunjungi Jepang atas undangan The Japan Foundation (1987),
Memenangkan hadiah pertama lomba mengarang cerita dalam bahasa Perancis, Le Monde dan Radio France Internationale (1988),
Menerima Hadiah Seni Untuk Sastra dari Depertemen Pendidikan & Kebudayan (1989),
Menerima penghargaan Bhakti Upapradana dari Pemprov Jawa Tengah (1991),
Mengunjungi Australia atas undangan Flinders Univesity, Adelaide (1991),
Mengunjungi Amerika Serikat atas undangan Organisasi lingkungan hidup Green Peace (1992),
Diundang oleh penitia Warana’s Writers Week ke Brisbane, Australia (1993),
Mendapat beasiswa selama 4 bulan untuk tinggal di Perancis dari pemerintah Perancis (1994),
Diundang mengikuti Simposium Kebudayaan Kawasan Asia Pasifik di Perth, Australia (1997),
Diundang pemerintah kota Toronto, Kanada untuk ikut sera dalam acara ‘Readings’ (1998),
Mendapat beasiswa selama 3 bulan untuk tinggal di Perancis  dari pemerintah Perancis (1999),
Mendapat Hadiah seni dari Dewan kesenian Jawa Tengah (2000),
Menerima penghargaan SEA WRITERS Award (2003),
Kanjeng Ratu Hemas, istri Sri Sultan Hamengku Buwono X membuatkan gedung Pondok Baca Nh. Dini di kawasan Yayasan Wredha Mulya, Sendowo, Yogyakarta (2005),
Diundang Ke Korea Selatan menghadiri Festival Penghargaan se Afrika-Asia-Timur Tengah di Jeonju (2007),
Menerima Hadiah Francophonie dari negara-negara yang menggunakan bahasa perncis sebagai bahas kedua (2008),
Diundang menhadiri Ubud Writers and Readers Festival, Bali (2009) ,
Achmad Bakrie Award (2011)


Sastrawan
NH. Dini
 
 
Bernama pena Nh. Dini atau N.H Dini, penulis novel dan biografi yang lahir di Sekayu, Semarang, Jawa Tengah 29 Februari 1936 ini diakui sebagai salah seorang penulis pertama yang mengetengahkan pengalaman wanita Indonesia secara blak-blakan ke dalam tulisan. Walaupun banyak kenangannya berpusat pada kehidupannya di Semarang dan kemudian di Paris, Ia kini tinggal di Yogyakarta. Tahun 1951, ia mulai menulis sajak dan prosa berirama dan dibacanya sendiri di RRI Semarang, Jawa Tengah.
 
Di tahun 1952, ia mengirimkan sajak-sajaknya ke siaran nasional RRI Kakarta, dan karyanya tersebut mulai diterbitkan di majalah Gajah mada dan Budaya di Jakarta. Cerita-cerita pendeknya mulai diterbitkan majalah Kisah, Mimbar Indonesia dan Siasat (1953). Menulis naskah sandiwara radio yang dimainkan oleh kelompoknya sendiri yang diberi nama Kuncup Berseri di RRI Semarang, Jawa Tengah (1953). Sempat membentuk sandiwara di sekolahnya, SMA Sastra Bojong dan diberi nama Pura Bhakti (1954).
 
Lima puluh tahun tanpa henti menekuni profesi pekerja seni di bidang penulisan. “Saya menyatakan betapa kemunafikan yang saya gambarkan di atas itu masih tetap saya alami. Saya ingat waktu novel saya Pada Sebuah Kapal diterbitkan tahun 1973, saya terima banyak protes dari kaum lelaki yang mengatakan bahwa bukunya tidak pantas diterbitkan karena berisi cerita seks saja. Padahal saya juga terima banyak surat dari kaum wanita yang berterima kasih karena buku itu betul-betul mengungkapkan pengalaman dan perasaan mereka. Sekarang perkembangan dunia penerbitan yang erat berhubungan dengan tulis-menulis bisa dikatakan sangat memadai. Semakin banyak orang menjadi pelopor berita atau penulis ulasan/artikel.”
 
Tahun 1970-an merupakan ledakan tampilnya sejumlah penulis perempuan, barangkali salah satu sebabnya ialah terbitnya berbagai majalah atau tabloid yang dikhususkan bagi wanita ataupun untuk masyarakat umum sehingga dibutuhkan lebih banyak bahan guna pengisiannya. Sejak awal masa menekuni bidang penulisan, saya tidak pernah merasa dibatasi “harus menulis ini atau itu”. Orang tua mendidik kami menjadi manusia yang sebaiknya memperhatikan kehidupan manusia lain dan alam seisinya di lingkungan kami. Ketika buku Pada Sebuah Kapal terbit pada awal tahun 1970-an banyak kaum lelaki yang menghujat pemaparan saya mengenai adegan percintaan. Itu disampaikan dalam bentuk artikel atau lewat orasi pada pertemuan-pertemuan di Taman Ismail Marzuki atau pada kesempatan serta tempat lain. Pada hal dasar penulisan saya selalu terkendali, menurut nurani dan kesopanan.
 
Beberapa dekade telah berlalu sejak awal karir saya. Perkembangan kata dalam penulisan semakin tidak terbatas. Ucapan dan ungkapan pengarang di dalam karya mereka semakin blak-blakan. Dari satu segi, kemerdekaan ini merupakan kemajuan – segala pengalaman manusia boleh dibicarakan secara jujur. Tetapi kadang bagi pembaca yang menyukai keindahan dan biasa menikmati novel atau puisi berbahasa asing klasik maupun modern, karya tulis para pengarang baru di tanah air ini terasa mentah. Satu kali dibaca, tidak ada keinginan untuk mengulangi lagi. Sebabnya ialah susunan kata dan kalimat yang disuguhkan hanya mengandung sesuatu yang mungkin bisa dimengerti, tapi tidak bisa dirasakan. Padahal sesuatu yang indah, yang menyentuh nurani hanya bisa dirasakan. Dan rasa itulah yang melandasi nurani hakiki manusia.
 
Keterusterangan memang diperlukan dalam penulisan karena itu adalah satu bentuk kejujuran. Sedangkan dalam menulis susastra, pengarang sebaiknya menuruti arahan yang dibisikan nurani keindahannya. Bila tidak, pembaca akan meninggalkannya.
 
Menikah dengan Yves Coffin, seorang diplomat yang bekerja di Konsulat Perancis di Kobe, Jepang (1960), namun akhirnya bercerai (1984).  Dari pernikahannya tersebut di karuniai 2 orang anak, Marie Claire Lintang dan Pierre Louis Padang Coffin, sutradara dan animator film Despcable Me dan Despicable Me 2.
 
(Dari Berbaai Sumber)

You may also like...

Leave a Reply