Niniek L. Karim

Seniman Teater
Niniek  L. Karim
 
 
Mulai berteater ketika ia masih mahasiswa. Ketika ada festival antar kampus dan hanya lima kampus yang ikut serta, jadi bukan festival yang hebat. Tapi teater Populer mengajak ia untuk ikut bergabung. Ia merasa cukup beruntung, dapat kesempatan untuk bergabung dengan Teater Populer yang mempunyai disiplin yang kuat, kontemporer, dan realistis. Secara tidak langsung grup ini mengembangkan pribadi-pribadi yang ikut menjadi optimal. Seperti Nano Riantiarno sebagai penulis skenario dan Slamet Rahardjo sebagai pemain yang bagus.
 
Ia mulai berteater ketika dunia elektronik belum begitu maju, sehingga tidak bisa bermain dengan lampu-lampu atau lighting. Pengandalan lebih kepada kostum dan musik. Sekarang, dengan mulai  masuknya ilmu audio-visual, dengan masuknya metode layar-layar, semakin lama semakin berkembang kemajuan di bidang ini.
 
Dan memang, kita tidak bisa melepaskan dunia teater dari dunia tari. Banyak tarian yang yang lebih bersifat teater, dan dalam suasana ini, telah menyatu dengan teater. Memang sulit untuk berbicara tentang teater murni, karena teater sekarang sudah campur dengan musik dan dengan tari. Ini dalam beberapa hal adalah menggembirakan. “Namun saya rindu juga dengan sesuatu yang masih murni. Ada kekhawatiran, bila semua sudah menjadi satu, apalagi yang spesifik apalagi yang unik walaupun saya percaya bahwa kita semua masih punya keunikan masing-masing”, katanya.

Selain dikenal sebagai pemain teater dan film, dunianya yang lain adalah sebagai pegajar di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, tempatnya pertama kali ia mengenal seni peran, ketika masih mahasiswa. Pada awalnya ia memainkan peran-peran untuk fragmen 5 sampai 10 menit dalam acara Psikologi Anda di TVRI, membantu pembawa acara Prof. Dr. Multono Gondosaputro, pada tahun 70-an.


Monolog 10 Tahun Kemudian (2008)

 
Sedangkan bermain teater yang sesungguhnya, baru dialaminya dalam pementasan ‘Paman Suteja’ karya Anton Chekov, di bawah penyutradaraan Chairul Umam, atas nama Teater Psikolog Universitas Indonesia. Pementasan ini memberi penghargaan Pemeran Utama Terbaik dalam Festival Teater antar Kampus se-Jakarta, dengan juri yang melibatkan para anggota Teater Populer. Dari sini, Teguh Karya mengajaknya untuk bergabung bersama Teater Populer, dan ikut bermain dalam ‘Perempuan Pilihan Dewa’ karya Bertolt Brecht, yang disutradarai Slamet Rahardjo pada tahun 1976.
 
Bermain dalam ‘Matahari Sore Bersinar Lembayung’ karya N. Riantiarno untuk Teater Universitas Indonesia atau berbagai pementasan Teater Remaja Jakarta yang disutradarai Aldisar Sjafar selama 70-an itu. Namun catatan penting atas permainannya didapat dari pemeran dalam ‘Dag Dig Dug’ karya Putu Wijaya, produksi Teater Populer yang disutradarai Slamet Rahadjo pada tahun 1978 dan ‘Pilihan Pendengar’ karya Franz Xavier Kroetz, suatu monolog tanpa dialog pada tahun 1987, yang disutradarai oleh Manuel Lutgenhors.
 
Selain berteater ia juga memainkan sejumlah peran dalam film dan sinetron. Mendapat penghargaan Piala Citra sebagai Pemeran Pembantu Terbaik dalam film ‘Ibunda’ yang disutradarai oleh Teguh Karya, tahun 1986 dan film ‘Pacar Ketinggalan Kereta’ yang juga disutradarai oleh Teguh Karya pada tahun 1988. Film layar lebar Teguh Karya yang terakhir itu juga memberinya penghargaan Best Supporting Actress dalam Asia Pacific Film Festival 1990 di Taipei. Ia mendapat Piala Vidya untuk Pemeran Utama Terbaik dalam sinetron lepas ‘Dalam Bayangan Ibu’ karya Sam Sarumpaet, di tahun 1998., Ibu dua anak ini memberi catatan, “Saya ingin pengalaman fisik maupun emosional orangtua yang kehilangan anak ini difahami secara riil oleh masyarakat, sehingga mau peduli, dan meredam kecenderungan kalangan tertentu untuk mengulanginya.
 
(Dari Berbagai Sumber)
 
 
 

Nama :
Sri Rochani Soesetio Karim
 
Lahir :
Mataram, Lombok,
 Nusa Tenggara Barat
14 Januari 1949
 
Pendidikan :
Fakultas Psikologi
Universitas Indonesia
 
Profesi :
Pengajar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
 
Filmografi :
Pondok Cinta (1985),
Beri Aku Waktu (1985),
Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1985),
Bila Saatnya Tiba (1985)
Ibunda (1986),
Pacar Ketinggalan Kereta (1988),
Perempuan Berkalung Sorban (2009),
Ketika Cinta Bertasbih (2009),
Ketika Cinta Bertasbih 2 (2009),
Emak Ingin Naik Haji (2009),
Bahwa Cinta Itu Ada (2010),
Red Co – Bex (2010),
Dalam Mihrab cinta 2 (2010),
12 Menit Kemenangan Untuk Selamanya (2014),
Merry Riana : Mimpi Sejuta Dolar (2014),
Ayah Menyayangi Tanpa Akhir (2015)
 
Sinetron :
Parmin (1994),
Bayangan Cermin Palsu (1995),
Indonesia Berbisik (1995)
 
Pencapaian :
Pemeran Utama Terbaik Festival Teater Kampus (1976),
Piala Citra sebagai Pemeran Pembantu Terbaik dalam film Ibunda (1986),
Best Supporting Actress dalam Asia Pacific Film Festival di Taipei dalam film Pacar Ketinggalan Kereta (1990),
Anugerah Kebudayaan Kategori Anugerah Seni dari Kementerian Kebudayan dan Pariwisata (2014)

You may also like...