Nungki Kusumastuti

Seniman Tari
Nungki Kusumastuti
 
 
 
Manja itulah ia ketika kecil. Karena aku dianggap anak ragil. Adiknya memang lahir setelah ia agak besar. Karena merasa sudah tidak akan punya adik lagi, ia selalu ingin menang sendiri. Bapaknya, Dr. Sayid Warsito dan ibunya, Siti Retnorini sepertinya juga sedikit mengistimewakannya, dibanding kakak-kakaknya.
 
Sebagai keluarga Jawa, bapak-ibunya sedikit mewajibkannya untuk bisa menari, dan konon kabarnya, beliau-beliau di masa muda juga pernah senang menari. Ia masih ingat, ibunya dulu itu senang menari Serampang, kalau pas kumpul-kumpul dengan kawan-kawannya. Sedangkan eyangnya juga orang yang dekat dengan dunia tari. Maka dipangillah guru tari ke rumah. Tetapi itu baru terjadi ketika bapak sudah pindah ke Banjarmasin. Waktu itu umurnya sudah lima tahun. Ia senang belajar menari Jawa di rumah, apalagi di sekolah juga ada kurikulum tari. Sebagai seorang anak, waktu itu ia paling suka jika menari di sekolah dan berdiri di baris terdepan. Gurunya sudah pasti  bukan guru tari yang benar-benar menguasai banyak tarian. Dia kebetulan adalah tentara yang kebetulan bisa menari. 
 
Di Banjarmasin sampai berusia sembilan tahun, laluspindah ke Jakarta. Tahun 1968, kelas empat SD, ia meneruskan les tari. Kakaknya kebetulan juga ikut les. Tetapi kami sepakat untuk tidak menari Jawa. Mereka maunya tari bali. Entah, ia sendiri tidak begitu sadar mengapa memilih tari Bali dan tidak suka tari Jawa.
 
Sanggar Diahtantri, yang berada dibelakang Sarinah, akhirnya menjadi tempat yang menyenangkan. Waktu latihan setiap hari minggu. Jadi bapak-ibunya bisa mengantarkannya.  Ia berlatihantari Bali sampai SMP. Kadang ia diajak manggung di Bali, tempat asal tarian yang selama ini ia pelajari. Tetapi kegiatan itu, tidaklagi ia lakukan ketika mulai masuk SMA.
 
Ngabur dari sekolah adalah hal yang paling sering ia lakukan. Waktu itu, aku sekolah di SMA Santa Ursula dekat gereja Kathedral. Pergi ke Pasar Baru dengan pakaian seragam sekolah sangat biasa. Dan itu, ia lakukan bersama kawan-kawan satu kelompok, di saat jam pelajaran. Pelajaran yang sering ia tinggalkan adalah bahasa Inggris, makanya ia sangat menyesal, karena ia tidak bisa berbahasa Inggris dengan baik. Hampir setiap pelajaran bahasa Inggris, sudah dipastikan ia ngabur ke Pasar Baru. Kesempatan utuk keluar sekolah cukup mudah. Padahal kalau Santa Ursula itu, penjagaannya sangat ketat. Tetapi kami ia berhasil melewati suster galak yang menjadi penjaga pintu gerbang keluar. Ia selalu beralasan bahwa suster kepala yang bernama Fransisco menyuruh kami pergi ke Pasar baru, karena ia akan melakukan suatu kegiatan dan suster penjaga percaya, apalagi suster percaya kalau ia adalah salah seorang murid yang cukup aktif di berbagai kegiatan sekolah, jadi tidak terlalu dicurigai macam-macam.     
 
Kalau teman-teman lain menuju gedung laboratorium, ia berbelok kekanan minggat, biasanya aku ke Pasar Baru, makan bakmie atau sekedar jalan-jalan. Nanti ketika jam pelajaran di laboratorium selesai, ia juga sampai di sekolah kembali. Jadi ia tidak pernah terlambat ikut masuk kelas. Sampai suatu saat, ia benar-benar kaget dan tidak bisa berbuat apa-apa karena ketahuan membolos. Akibatnya ia harus dihukum tinggal dalam ruangan tertutup, jelasnya ia  dipenjara kecil-kecilan tetapi ia tetap tenang-tenang saja, begitu susternya keluar, diruangan itu ia malah tertidur.
 
Mata pelajarannya yang paling bagus adalah hukum dan tata negara. Sehingga sewaktu itu, ia bercita-cita menjadi seorang ahli hukum. Karena aku memang tertarik dengan masalah-masalah seperti itu. Tetapi pada saat yang sama, ia ujga berfikir betapa enaknya kalau sekolah tari. Karena bingung menentukan masuk mana, setamat SMA, muncul pikiran kalau perlu dia dobel saja, waktu itu sekitar tahun 70-an, sekolah hukum yang ngetop pada waktu itu konon kabarnya Universitas Padjajaran, waktu itu Universitas Padjajaran diprioritaskan untuk orang-orang Bandung dan sekitarnya. Jengkelnya setengah mati dan ia juga tidak berminat masuk Universitas Indonesia. Akhirnya ia ingin sekolah tari, semula ditentang orang tua dan morang tuanya bertanya, “kalau sekolah tari mau jadi apa?” Ia  tidak mau hanya jadi penari saja, karena jika hanya menjadi penari, tidak perlu kuliah, cukup berlatih di sanggar saja, memang waktu itu ia sok tahu mau jadi peneliti tari, alasannya peneliti tari di Indonesia itu jarang. Dan katanya Institut Kesenian Jakarta/IKJ membuka jurusan penelitian tari. Tetapi penerimaan mahasiswa baru sudah tutup, untung ada gelombang kedua, dan ia lulus. Tentang penelitian tari yang aku sebut tadi memang ada di IKJ tetapi jurusan itu sangat baru. Kebetulan yang punya ide penelitian tari itu ibu Edy Sedyawati. Ketika ia sudah menyelesaikan Diploma III, ibu Edy bertanya apakah ia masih berminat menjadi peneliti tari. Walau harus siap menjadi kelinci percobaan.
 
Menikah dengan Febrimansyah Lubis ditahun 1988, dikaruniai seorang putri, Nurizka Aliya Hapsari. Awalnya, berdomisili di bilangan Pondok Bambu, Jakarta Timur, tak tahan akan kemacetan disana, mereka pindah ke bilangan Ragunan, Jakarta Selatan, tepat dibelakang kantor Kementerian Pertanian. 
  
 (Dari Berbagai sumber)  

Nama :
Siti Nurchaerani Kusumastuti
 
Lahir :
Banda Aceh,
Nangroe Aceh Darussalam,
29 Desember 1958
 
Pendidikan :
SMA Santa Ursula (Jakarta),
D-3 Penataan Tari IKJ
(1977-1981),
S-1 Antropologi Tari IKJ
(1983-1987),
S-2 Antropologi UI
(2000-2002)
 
Karier :
Pengajar Fakultas Seni Pertunjukan IKJ
(1987 s/d sekarang),
Sekretaris Jurusan Tari Fakultas Seni Pertunjukan IKJ (1987-1990),
Wakil Ketua Dekan I Bidang Akademik Fakultas Seni Pertunjukan IKJ
(2003-2007)
 
Aktifitas Lain :
Anggota Dewan Kesenian Jakarta
(1994-1998 & 1998-2002),
Pimpinan Produksi, Humas, Ketua Bidang dana pertunjukan grup Padnecwara (1997-2004),
Manajer IKJ Dance Company (1998-2004),
Direktur Indonesian Dance Festival 2004, 2006 & 2008,
Ketua Bidang Program Forum Apresiasi Seni pertunjukan ke Sekolah (1998 s/d sekarang)
 
Filmografi :
November 1828 (1978),
Rembulan dan Matahari (1979),
Perempuan Dalam Pasungan (1980),
Seputih Hati Semerah Bibirnya (1981),
Bercanda Dalam Duka (1982),
DiBalik Kelambu (1982),
Malioboro (1990),
Ketika Dia pergi (1992),
Wanita Yang Berlari (2003),
Mengejar Matahari (2004),
Berbagi Suami (2006),
Anak-Anak Borobudur (2007),
Radit dan Joni (2008),
Ketika Cinta Bertasbih 2 (2009),
Bebek Belur (2010),
Cinta Tapi Beda (2012),
Finding Srimulat (2013),
Sebelum Pagi Terulang Kembali (2014),
Bulan Diatas Kuburan (2015)
 
Sinetron :
Losmen (1985),
Benang Mas (1994),
Bengkel Bang Jun (1995),
Kaca Benggala (1995),
Sapugara (1995),
Kerinduan (1996),
Suami_suami Takut Istri (1996),
Jalan Kehidupan (1996),
Tutur Tinular (1997),
Masih Ada Waktu (1997),
Tirai Kasih Yang Terkoyak (1997),
Jalan Kehiduoan (1997),
Kau Selalu Dihatiku (1997),
Kasih (2008),
Elang (2008),
Saya Terima Nikahnya
 
Pencapaian :
Duta Wisata Eropa, Amerika (Face of Indonesia),
Mendapat Penghargaan dari Kementerian Pariwisata Republik Indonesia sebagai Penyelenggara Festival Terbaik d Indonesia bersama dengan Maria Darmaningsih dan Ina Suryadewi (2014) 

You may also like...

Leave a Reply