Nunung WS

 Nama :
Nunung WS
 
Lahir :
Lawang, Jawa Timur,
9 Juli 1948
 
Profesi :
Pelukis
 
Pendidikan :
Akademi Seni Rupa Surabaya (AKSERA)
 
Prestasi :
Penghargaan dari DKJ pada pameran besar seni lukis Indonesia (1978)


Seniman Lukis
 Nunung WS
 
 
 
 
Bertolak dari karya-karya yang diciptakan, ternyata Nunung bukanlah penganut aliran abstrak murni. Ia lebih cenderung mengabstraksikan obyek-obyeknya seperti : pemandangan, perahu, gunung/bukit atau sosok manusia atau modelnya sebagai media penyampaian ide yang lahir akibat penghayatannya terhadap apa saja  yang dijadikan observasinya.
 
Nunung tidak menempuh metode awal melukis secara realis atau naturalis, yang lazim dilakukan oleh para mahasiswa atau calon pelukis dengan menempuh latihan teknik awal yang melukis dengan cara naturalis/realis dan harus tepat benar dengan setiap obyek yang dilukisnya untuk mendapatkan pengalaman teknik : pembentukan, anatomi, volume, benda, perspektif, ritme garis, komposisi, nuansa warna dan seterusnya. Nampaknya Nunung menganggap proses semacam itu sangat mengikat dirinya serta akan menghabiskan waktu yang sangat panjang, padahal yang diinginkan adalah hakekat dari objek yang memiliki sari pati kejiwaan dengan kata lain yang diinginkan adalah jiwa dari setiap objek yang dihadapinya. Kiranya hal itu yang melatar-belakangi hampir seluruh karya-karyanya.
 


Tanpa Judul 1989 (55 cm X 75 cm)

“Saya mencoba mengekspresikan kembali apa yang pernah saya lihat, hayati, serta saya rasakan di alam ini lewat warna, karena warna adalah sangat menarik bagi saya, oleh sebab itu didalam melukis, saya tidak terikat dengan bentuk-bentuk yang ada selalu akan mengikat diri pada sesuatu. Karena itu pula saya mencoba masuk ke dalamnya melalui penghayatan dan abstraksi terhadap bentuk itu sendiri, sehingga dengan bebas saya berekspresi lewat sapuan-sapuan warna yang saya inginkan, keinginan untuk melepaskan diri dari keterikatan bentuk yang ada semakin jelas pada karya-karya saya akhir-akhir ini”.

 
Proses seperti ini ia awali sejak tahun 1980-an dimana pada saat itu masih terasa adanya penyederhanaan dari bentuk-bentuk yang nyata tanpa meninggalkan arti atau persepsinya terhadap objek visualnya. Bentuk dan warna yang ingin ia ungkapkan sudah ada di alam bawah sadar. Sehingga bentuk dan warna itulah keluar diatas kertas atau kanvas sebagai makna piktorial.
 
Pada proses seperti ini, warna menjadi sangat penting. Warna tidak hadir sebagai warna belaka, tetapi warna hadir sebagai ekspresi dan ungkapan rasa pribadi yang dalam. Ia merasai adanya konflik-konflik psikologis yang dapat diubah menjadi warna.
 
Seluruh penjelasan terhadap metode kerja Nunung WS dalam proses penciptaan karya-karyanya mungkin benar bagi dia sendiri selaku kreator, seperti halnya perkataan Affandi, “Kondisi serta posisi kejiwaan seperti itu dapat berlaku bagi setiap pelukis. Hal yang penting bagi semua pelukis yang berkualitas adalah : pencapaian total dan lugas seluruh ide-ide yang dikandungnya terekam tuntas keatas kertas atau kanvas dalam wujud lukisan yang merupakan hasil final visualisasinya”.***
 
(Seni Rupa Indonesia Modern, Dalam Kritik dan Esei)

You may also like...

Leave a Reply