Nurul Arifin

Nama :
Nurul Qomaril Arifin
 
Lahir :
Bandung, Jawa Barat,
18 Juli 1966
 
Pendidikan :
SMA Cikutra, Bandung (1986)
FISIP UI jurusan Politik.
 
Penghargaan :
Putri Logo Jabar (1982),
Putri Disko Jabar (1983),
Putri Fotogenik Jabar (1983),
Remaja Berbusana Terbaik (1984),
Nominasi Pemeran Utama Wanita Terbaik FFI 1987 dalam film Nagabonar,
Nominasi Pemeran Utama Wanita Terbaik FFI 1988 dalam film Istana Kecantikan,
Pemeran Pembantu Wanita Terbaik FFI 1989 dalam film Pacar Ketinggalan Kereta,
Nominasi Pemeran Utama Wanita Terbaik FFI 1990 dalam film Dua dari Tiga Laki-laki,
Nominasi Pemeran Utama Wanita Terbaik FFI 1992 dalam film Catatan Si Emon,
Artis Terlaris 1989,
Artis Peduli AIDS dari Buletin Sinetron,
Artis Peduli AIDS dari Rumah Sakit. MH. Thamrin,
Fun Fearles Female 2002 dari majalah Cosmpolitan,
Penghargaan Utama dari BNN sebagai artis peduli Narkoba.
 
Filmografi :
Hati yang Perawan (1984),
Madu dan Racun (1985),
Nagabonar (1986),
Kelabang Seribu (1986),
Lupus (1987),
Harga Diri (1987),
Saskia (1987),
Mana Bisa Tahan (1987),
Dua Dari Tiga Laki-Laki (1988),
Kipas-Kipas Cari Angin (1988),
Pacar Ketinggalan Kereta (1988),
Hidup Semakin Panas (1988),
Antri Dong (1988),
Jangan Bilang Siapa-siapa (1988),
Ketika Cinta Telah Berlalu (1988),
Kanan Kiri OK I & II (1988),
Curi-Curi Kesempatan (1988),
Demi Cinta Belahlah Dadaku (1989),
Catatan Si Emon (1989),
Kemesraan (1989),
Si Kabayan Saba Kota (1989),
Pelangi di Nusa Laut (1990),
Surat Untuk Bidadari (1991),
Istana Kecantikan (1991),
Ayahku, Bangsaku (1991),
Gelora Cinta (1991),
Gema Kampus 66 (1991),
Jangan Ada Dusta (1991),
Dari Pintu ke Pintu (1991),
Gampang-Gampang Susah (1991),
Bahwa Cinta Itu Ada (2010)
 


Aktris Film
Nurul Arifin
 
 
 
 
Nurul Qomaril Arifin lahir di Bandung, tanggal 18 Juli 1966. Putri dari pasangan Moh. Yusuf Arifin, purnawirawan baret hijau Kodam Siliwangi dan Anne Maerle ini sejak kecilnya mudah tersentuh oleh penderitaan orang lain. Ia tak segan-segan mengulurkan tangan membantu. Walaupun termasuk anak yang tenang dan baik, ia mempunyai kemauan yang keras. Setiap kali mempunyai keinginan atau kemauan, ia akan memforsir dirinya sehingga keinginannya tercapai. Tapi Nurul sadar betul bahwa jika menginginkan sesuatu ia harus bekerja keras. Tak heran ia terkenal sangat disiplin.
 
Sehari-harinya sepulang sekolah, ia langsung masuk kamar dan belajar. Karena itu Nurul sering juara di SD dan SMP-nya. Tapi kalau disekolah Nurul agar berbeda. Di sekolah ia tergolong siswa yang aktif dalam berbagai kegiatan. Baik itu olahraga, teater dan lainnya. Berteater disekolahnya akan menjadi bekal yang berguna ketika ia menjadi aktris.
 
Mrnghabiskan masa sekolahnya di Bandung, Nurul yang berkacamata sejak SD ini juga memulai karrnya dari Bandung. Seperti layaknya remaja lain yang aktif dan kreatif, Nurul juga mengikuti berbagai kegiatan untuk mengisi waktu luangnya.
 
Suatu hari, di bulan puasa, sehabis shalat dan mendengar ceramah subuh di mesjid Agung, dekat alun-alun Bandung,. Ketika berjalan pulang bersama teman-temannya, ia melihat poster pemilihan gadis Logo. Teman-temannya menyuruh Nurul ikut, tapi tidak tertarik karena merasa tidak cantik. Karena terus dipaksa akhirnya ia mau juga. Syarat untuk mengikuti kegiatan lomba itu ternyata harus membeli kaus bermerek Logo dan kemudian dipotret dengan mengenakan kaus tersebut. Hasilnya tak disangka, ia masuk final. Itulah momentum keterlibatannya didunia model dan peragawati.
 
Keterlibatannya didunia film dimulai ketika ia lulus test audisi calon bintang sebuah film. Tapi meskipun Nurul sudah bisa bermain film, ia harus terlebih dahulu mendapatkan izin dari kedua orangtuanya. Dan jadilah ia bermain film pertama kalinya dalam film Hati Yang Perawan arahan sutradara Chaerul Umam. Setelah film itu, Nurul banyak mendapatkan tawaran utuk bermain film. Tapi Nurul menolaknya karena kegiatan shooting rata-rata di Jakarta, sementara ia harus menyelesaikan SMA-nya dulu.
 
Dalam film Nagabonar, Nurul bermain gemilang. Namanya pun melambung. Dengan disiplin tinggi, Nurul rela melalui melalui masa-masa pertamanya sebagai aktris film dengan mondar-mandir Jakarta-Bandung. Menurut Nurul dunia film sangat menarik, karena ia banyak bekerja dengan orang yang berbeda-beda, ceritanya berganti-ganti dan lokasinya berpindah-pindah.
 
Pada awalnya Nurul ingin menjadi ahli hukum, Tapi karena sejak kecil ia sering diajak ayahnya menghadiri rapat-rapat politik, megakibatkan minatnya dibidang politik cukup besar. Nurul mengaku senang mengikuti perkembangan politik, tapi baru sebatas mengamati. Tapi yang jelas ia sudah mengambil ilmunya dengan kuliah di FISIP UI.
 
Mengaku tidak merasa cantik, Nurul menyadari betul keindahan tubuhnya. Tanpa berniat untuk mengeksploitasinya, ia selalu ingin mengekspresikan kebebasan dan kewajaran jiwanya dengan memilih pakaian-pakaian yang casual dan ia tidak terlalu memusingkan komentar orang lain terhadap penampilannya. Ia berprinsip dengan mengekspresikan apa yang sesuai dengan jiwanya, maka ia mersa jauh dari kemunafikan dan ketidakjujuran.
 
Meski dinobatkan menjadi aktris terlaris tahun 1989, dalam bermain film ia tidak pernah main-main. Dalam lima kali FFI, ia menjadi nominator peran-peran unggulan. “Saya ingin menjadi artis diantara Meriam Bellina dan Christine Hakim”, katanya. Obsesinya bukanlah hal yang mudah, mengingat biasanya sulit mempertahankan konsistensi pada artis-artis kebanyakan. Namun Nurul mampu membuktikannya dan ia terus belajar meningkatkan kemampuan aktingnya. Sikap inilah yang jarang dimiliki oleh artis yang sedang naik daun.
 
“Saya sudah terlanjur dibilang sebagai pemain berbakat, terutama setelah mereka nonton film Nagabonar. Oleh karena itu, saya belajar secara otodidak dilapangan. Saya menonton film orang lain dar pemaian yang bagus. Saya banyak berdiskusi dengan sutradara dan banyak membaca buku yang berkaitan dengan akting”, tegas penerima penghargaan dari Yayasan Pelita Ilmu sebagai Artis Peduli AIDS 1999.
 
Kerterlibatannya sebagai seorang aktivis adalah faktor kebetulan, meski cikal-bakalnya sudah nampak sejak ia belum menjadi apa-apa. Penderitaan korban AIDS, narkoba ataupun kekerasan terhadap perempuan membuatnya tertarik untuk terlibat aktif menjadi sukarelawan, hal inilah yang membuatnya menerima dua kali beasiswa dari Ford Foundation untuk mengikuti studi jender dan seksualitas tahun 1999 dan 2000.
 
Menikah dengan Mayong Suryo Laksono, seorang wartawan pada 28 Desember 1991. Telah dikarunia dua orang anak, Magnalia Madyaratri dan Melkior Mirari Manusaktri.
 
(Dari Berbagai Sumber)
 

You may also like...

Leave a Reply