Oka Rusmini


Penulis
Oka Rusmini
 
 
 
Bernama asli Ida Ayu Oka Rusmini, lahir di Jakarta, 11 Juli 1967. Di besarkan dengan kultur Bali yang kuat dan tumbuh dalam lingkungan kehidupan griya yang dituntut berperilaku lebih tertib, sopan dan beradab, serta harus pandai membuat perlengkapan upacara Agama Hindu dan sebagainya. Hal itu dikarenakan ia masih keturunan Brahmana. Kakek dari pihak ibunya adalah seorang lurah pada jaman Belanda yang mahir membaca kitab-kitab kuno dan  memiliki ilmu gaib. Kakek dari pihak ayahnya adalah pembuat pratima (arca-arca sakral). Nenek dari pihak ayahnya sangat hafal dengan sejarah griya yang juga suka bercerita tentang seluk beluk ilmu hitam.
 
Masa kanak-kanaknya lebih banyak dihabiskan di Jakarta. Menjelang remaja ia menetap di Denpasar, Bali. Ketika duduk di SMP 1 Denpasar, Oka telah aktif dalam kegiatan sastra di sekolahnya di bawah naungan Sanggar Cipta Budaya asuhan penyair GM Sukawidana yang juga merupakan guru Bahasa Indonesianya saat itu.  Sejak SMP dan SMA, ia juga gemar menulis cerpen dan cerbung remaja yang banyak dimuat di Bali Post. Bahkan novel Kenanga yang terbit pada tahun 2003, ditulisnya ketika ia masih SMA.  Namanya mulai dikenal publik sastra di Bali ketika ia rajin mengirimkan puisi-puisinya ke ruang sastra Bali Post yang diasuh Umbu Landu Paranggi. Puisi-puisi awalnya bisa dilihat dalam Rindu Anak Mendulang Kasih (1987), sebuah buku kumpulan puisi karya anggota Sanggar Cipta Budaya yang sempat pula mendapat perhatian serius dari Fuad Hassan.
 
Setelah menyelesaikan pendidikan di Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Udayana, ia kemudian bekerja sebagai wartawan di Harian Bali Post. Banyak karya-karya yang lahir dari tangannya. Karya-karyanya kerap bertema hal-hal yang dianggap fenomenal dan bahkan sering kali menjadi kontroversial, karena mengangkat sejumlah persoalan adat-istiadat dan tradisi Bali yang kolot dan merugikan perempuan, terutama di lingkungan griya, rumah kaum Brahmana. Ia dengan lugas mendobrak tabu, memaparkan persoalan seks dan erotika secara gamblang.
 
Metafora-metafora yang beraroma erotika tersebut bukanlah sesuatu yang membangkitkan syahwat kaum lelaki, melainkan lebih pada persoalan kehancuran tubuh (perempuan), ketertindasan, kekelaman, kepedihan tak terperikan, sakit hati dan dendam kesumat. Semuanya itu bisa di lihat dalam beberapa karyanya seperti pada petikan puisi Oka berjudul Mekatu (1999), dalam novelnya yang berjudul Tarian Bumi (2000) yang telah dicetak ulang dan terbit berbahasa Jerman dengan judul Erdentanz (2007) serta pada kumpulan cerpennya berjudul Sagra (2000). Termasuk antologi puisinya yang berjudul Pandora (Grasindo, Mei 2008) yang bisa menjadi semacam biografi tubuh perempuan.
 
Karya-karya Oka yang begitu keras mendobrak tabu tradisi dan dengan gamblang membicarakan tubuh serta erotika sempat memunculkan riak-riak pertentangan dari keluarga, sejumlah kawan, atau masyarakat yang membaca karyanya mungkin mereka merasa terganggu, tapi ia biarkan. Sebagai sastrawan, ia pernah menerima berbagai macam penghargaan sastra, antara lain Penghargaan Penulisan Karya Sastra 2003 dari Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional Indonesia. Cerpennya Putu Menolong Tuhan memenangkan Sayembara Mengarang Cerita Pendek Majalah Femina 1994. Sering diundang dalam berbagai forum sastra nasional dan internasional, antara lain Festival Sastra Winternachten di Den Haag dan Amsterdam, Belanda, dan tampil menjadi penulis tamu di Universitas Hamburg, Jerman, pada tahun 2003.
 
Penulis buku Monolog Pohon (1997), Kenanga (2003), Patiwangi (2003), dan Warna Kita (2007) ini menikah dengan penyair Arif Bagus Prasetyo. Kini ia beserta keluarga tinggal menetap di Denpasar, Bali.
 
(Dari Berbagai Sumber)
 
 
 

Nama :
Ida Ayu Oka Rusmini
 
Lahir :
Jakarta, 11 Juli 1967
 
Pendidikan :
Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Udayana
 
Penghargaan :
Penghargaan Penulisan Karya Sastra 2003 dari Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional Indonesia,
Cerpen Putu Menolong Tuhan memenangkan Sayembara Mengarang Cerita Pendek Majalah Femina 1994
 
Karya :
Antologi Doa Bali Tercinta (1983),
Antologi Rindu Anak Mendulang Kasih (1987),
Antologi Perjalanan Malam (1991),
Antologi Ambang (1992),
Antologi Teh Ginseng (1993),
Antologi Puisi Wanita Penyair Indonesia dan Dunia Ibu, Antologi Cerpen Wanita Cerpenis Indonesia,
Antologi Negeri Bayang-Bayang (1996),
Antologi Mimbar Penyair Abad 21 (1996),
Monolog Pohon (Buku Kumpulan Puisi, 1997),
Sagra (Kumpulan Cerpen, 2000),
Tarian Bumi (Novel, 2000),
Kenanga (Novel, 2003),
Patiwangi (2003),
Warna Kita (2007),
Pandora (Antologi Puisi, Grasindo, Mei 2008)

You may also like...