Oslan Husein

Nama :
Oslan Husein
 
Lahir :
Padang, Sumatera Barat,
 8 April 1931
 
Wafat :
Jakarta, 16 Agustus 1972
 
Pendidikan :
Daisan Kotogomikun Gakko (SD), Padang, Sumatera Barat,
SMP, Padang, Sumatera Barat
 
Aktifitas Lain :
Tentara pelajar,
Karyawan Departemen Pekerjaan Umum,
Mendirikan Orkes Teruna Ria bersama Moes DS (1959),
Membentuk grup Erosa bersama Erni Djohan dan Alwi (1970)  
 
Penghargaan :
Lagu legendaris Bengawan Solo karya Gesang Martohartono (alm) yang dibawakannya bersaman Orkes Teruna Ria dalam versi rock ‘n roll dinobatkan menjadi satu dari 150 Lagu Terbaik Indonesia Sepanjang Masa oleh majalah Rolling Stone Indonesia. (2009) Albumnya ‘Oslan Husein’  masuk dalam daftar 150 Album Terbaik Indonesia
 
Album :
Oslan Husein (1964),
Malin Kundang,
Bulan Dagoan Hanja Ada Satu,
Soundtrack film Harimau Tjampa (1953),
Soundtrack film Arini (1955),
Sondtrack film Daerah Hilang (1956)
 
Filmografi
Detik-Detik Berbahaya (1961),
1000 Langkah (1961),
 Kasih Tak Sampai (1961), Hadiah 2.000.000 (1962),
Antara Timur dan Barat (1963),
Maut Mendjelang Magrib (1963),
Madju Tak Gentar (1965),
Operasi Hansip 13 (1965),
Kini Kau Kembali (1966),
Belaian Kasih (1966),
 


Oslan Husein
 
 
 
Lahir di Padang, Sumatera Barat, 8 April 1931. Terkenal dengan panggilan Oslan. Anak ke empat dari tujuh bersaudara, ayahnya seorang pedagang kain Para Karambia bernama Husein. Masa kecilnya di habiskan di Padang. Mulai menyukai seni suara sejak masih duduk di Daisan Kotogomikun Gakko (sekarang Sekolah Dasar). Kemudian terus berlanjut hingga SMP. Menginjak SMA karena berbagai hal, ia tidak menyelesaikan sekolahnya hingga tamat. Karena masa SMAnya berdekatan dengan masa kemerdekaan Republik Indonesia. Ia kemudian bergabung menjadi Tentara Pelajar, di sana ia sering menyanyi untuk menghibur dan membangkitkan semangat kawan-kawannya.
 
Pengalamannya bernyanyi pertama kali, didapatinya saat ia mencoba mengamen dengan menyenandungkan ayat-ayat suci Al-Quran di depan gerbang sebuah pasar malam di Padang. Mendengar timbre suaranya yang memiliki karakter cukup unik, dengan ada sedikit warna genit pada gaya menyanyinya, membuat banyak orang yang tertarik dan memberinya uang padanya. Dari pengalaman tersebut ia yakin, bahwa dengan tarik suara bisa mendatangkan penghasilan. Selain itu, ia juga memiliki selera humor yang cukup tinggi.
 
Tahun 1950, ketika berusia 19 tahun, ia pergi merantau ke Jakarta. Di Jakarta ia tinggal di seputar daerah Kramat Sentiong, sambil mulai mencari-cari pekerjaan. Ia sempat bekerja pada Departemen Pekerjaan Umum (DPU). Kemudian ia bertemu dengan kawan lamanya yang bernama Alwi. Alwi-lah yang membawa dan mengenalkannya pada sebuah grup musik yang bernama Kinantan. Tiga tahun kemudian bersama grup musik tersebut, ia mulai bersentuhan dengan dunia film. Mereka menyanyikan lagu-lagu untuk film Harimau Tjampa (1953). Setelah itu ada beberapa film lagi yang soundtracknya dinyanyikan oleh Oslan. Diantaranya Arini (1955), dan Daerah Hilang (1956).
 
Oslan kemudian mendirikan orkes Teruna Ria, yang didirikannya bersama Moes DS pada tahun 1959. Bersama orkes-nya tersebut, ketenarannya sebagai penyanyi lagu daerah Minang semakin meningkat. Ombak buruih, Urang Tolong, Sinandi-Nandi dan Kaparinyo adalah beberapa lagu populer yang dinyanyikan Oslan bersama orkes Teruna Ria. Ketenarannya kala itu telah dapat disejajarkan dengan orkes-orkes terkenal lainnya seperti Orkes Gumarang dan Orkes Kumbang Tjari. Ia juga mempopulerkan sejumlah lagu hits berbahasa Indonesia, di antaranya lagu klasik yang juga terkenal di Malaysia dan Singapura, yakni Lebaran ciptaan pimpinan Orkes Widjaja Kusuma, M. Jusuf, Menimbang Rasa ciptaan Oslan sendiri, AndeTja AndeTji (Andeca Andeci) dan Stambul Cha Cha. Lagu Stambul Cha Cha didendangkannya dengan jenaka dalam bahasa campur aduk Indonesia, Betawi dan Minang.
 
Meski sebelumnya telah bersentuhan dengan dunia film, namun, ia baru muncul di layar putih pada tahun 1961 lewat film yang berjudul Detik Detik Berbahaya, sebagai Pemeran Pembantu bersama sahabat lamanya Alwi. Kemudian ia muncul kembali pada film Seribu Langkah (1961) dan Kasih Tak Sampai (1961). Dalam film Hadiah 2.000.000 (1962), ia di percaya menjadi pemeran utama, bersama Alwi. Tetapi setelah itu ia lebih banyak mendapat Peran Pembantu, di antaranya dalam film Antara Timur dan Barat (1963), Madju Tak Gentar (1965) dan Belaian Kasih (1966).
 
Sejak tahun 1967, ia lebih banyak muncul di panggung sebagai penyanyi dan pelawak bersama kawan duetnya Alwi. Lalu pada tahun 1970 bersama Ernie Djohan mereka membentuk grup Erosa (Erni-Oslan-Alwi). Bersama grupnya, ia menjadi pengisi tetap acara Siaran ABRI RRI Studio Jakarta.
 
Penyanyi dan aktor Oslan Husein wafat di Jakarta, 16 Agustus 1972, pada usia 41 tahun. Pada tahun 2009, lagu legendaris Bengawan Solo karya Gesang Martohartono (alm) yang dibawakannya bersama Orkes Teruna Ria dalam versi rock ‘n roll dinobatkan menjadi satu dari 150 Lagu Terbaik Indonesia Sepanjang Masa oleh majalah Rolling Stone Indonesia, dan berada di urutan ke-11. Sedangkan albumnya, Oslan Husein (1964) juga masuk dalam daftar 150 Album Terbaik Indonesia di urutan ke-37.
 
(Dari Berbagai Sumber)
 
 
 

You may also like...

Leave a Reply