Pandir Kelana

Nama :
Slamet Danusudirdjo
 
Lahir :
Banjarnegara, Jawa Tengah,
4 April 1925
 
Karier :
Instruktur Akademi Militer Nasional Magelang
(Jawa Tengah),
Pengajar Sekolah Staff Komando Angkatan Darat Bandung
 (Jawa Barat),
Deputi Asisten IV
Kepala Staf Angkatan Darat Bidang Kekaryaan,
Ketua BAPPENAS
(1966-1968),
Anggota Tim Walisongo, Dirjen Bea dan Cukai Departemen Keuangan RI (1972-1973),
Sekretaris Jenderal Depertemen Perhubungan RI (1973-1975)  
Anggota DPA (1983),
Sekretaris Menteri Koordinator Ekonomi, Keuangan dan Industri (1978-1984),
Rekror IKJ
                   
Karya Tulis :
Kereta Api Terakhir (1981),
Kadarwati: Wanita dengan Lima Nama (1982),
Ibu Sinder (1983),
Riintihan Burung Kedasih (1984)
Suro Buldog: Orang Buangan Tanah Merah Boven Digul (1986)
Bara Bola Api (1992),
Merah Putih Golek Kencana (1992),
Tusuk Sanggul Pudak Wangi (kelahiran Majapahit, 1989),
Subang Zamrud Nurhayati
 (Aceh Darussalam, 1992)
 
Penghargaan :
Bintang Mahaputra Utama (1973),
Bintang Gerilya


Penulis
Pandir Kelana
 
 
 
Lahir di Banjarnegara, Jawa Tengah, 4 April 1925. Bernama asli Slamet Danusudirjo. Ia adalah sedikit dari penulis sastra yang aktif dalam bidang kemiliteran. Dalam bidang tesebut, ia pernah mengikuti pendidikan perwira artileri di Belanda dan Belgia, serta Sekolah Staf Komando Angkatan Darat di Akademi Frunze, Moskow, Rusia. Pernah menjadi instruktur di Akademi Militer Nasional Magelang dan menjadi pengajar di Sekolah Staff Komando Angkatan Darat Bandung.
 
Selain berkarir di militer dengan pangkat terakhirnya Mayor Jendral, ia pernah memegang berbagai jabatan di birokrasi. Menjadi deputi Ketua BAPPENAS (1966-1968), pada saat bersamaan ia juga di tunjuk menjadi anggota Tim Walisongo yang menangani problem kongesti pelabuhan-pelabuhan utama pada Dirjen Bea & Cukai Departemen Keuangan RI (1972-1973). Menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Departemen Perhubungan RI (1973-1975), anggota DPA (1983) dan terakhir, ia menjadi Sekretaris Menteri Koordinator Ekonomi, Keuangan, dan Industri (1978-1984).
 
Dibalik Karir militer dan Birokratnya ia juga di kenal sebagai seorang penulis cerita dengan nama samaran ‘Pandir Kelana’. Nama ‘Kelana’ ia temukan dari cerita dalam bahasa Inggris yang berjudul The Wondering Jew. Sedangkan nama ‘Pandir’ berasal dari cerita Pak Pandir, pada saat ia di Kalimantan. Dari keduanya ia temukan nama Pandir Kelana.  
 
Ia mempunyai kesukaan menulis novel berlatar sejarah. Novel-novelnya, antara lain Kereta Api Terakhir (1981), Kadarwati: Wanita dengan Lima Nama (1982), Ibu Sinder (1983), Rintihan Burung Kedasih (1984), Suro Buldog: Orang Buangan Tanah Merah Boven Digul (1986), Bara Bola Api (1992), Merah Putih Golek Kencana (1992). Sedangkan novelnya yang didasarkan pada riset, yaitu Tusuk Sanggul Pudak Wangi (kelahiran Majapahit, 1989) dan Subang Zamrud Nurhayati (Aceh Darussalam, 1992).
 
Beberapa novelnya bahkan telah diangkat ke layar perak. Maka, tak mengherankan jika ia pernah menjadi Rektor Institut Kesenian Jakarta. Atas jasanya, Slamet memperoleh beberapa penghargaan dari pemerintah, antara lain Bintang Mahaputra Utama (1973) dan Bintang Gerilya.
 
(Dari Berbagai Sumber)
 
 

You may also like...