Paul Gutama Soegijo

Nama :
Paul Gutama Soegijo
 
Lahir :
Yogyakarta, 29 Januari 1934
 
Pendidikan :
Konservatorium Amsterdam pada jurusan instrumen biola (1957-1964),
Belajar komposisi  musik di Berlin, Jerman
 
Karya :
Gefuehlsstau atau Timbunan Rasa (2002),
Der Mond Im Wassertropfen (2000),
Opera Ken Arok (2004)
 
 


Paul Gutama Soegijo
 
 
 
Lahir di Yogyakarta, 29 Januari 1934. Lulusan Konservatorium Amsterdam, Belanda, pada jurusan instrumen biola (1957-1964). Ia juga mendalami teori musik dan menjadikan kedua subyek tersebut sebagai bidang utama.  Setelah menamatkan studinya di amsterdam, ia pindah ke Berlin, Jerman, belajar komposisi musik selama dua tahun dari Boris Blacher, dan sempat menjadi komponis musik kontemporer di sana dan mengawali kariernya pada tahun 1967. Turut ambil bagian sebagai asisten refractorry percussion dalam suatu nomor teater untuk dua pemain perkusi berjudul Karawitan dalam rangka tur konser solois asal Jepang Stomu Yamashta.
 
Bersama kelompok Banjar Gruppe yang ia dirikan tahun 1973, ia memainkan sejumlah komposisi berupa musik ’avant garde’ dan juga musik-musik baru berlatar gamelan ataupun yang non-Barat. Dalam mencari cara strukturisasi melodi dan lain-lainnya di dalam musik gamelan. Adik dari pematung G. Sidharta ini (alm), melakukannya dengan cara bersungguh-sungguh dalam mempelajarinya, dengan mendalami musik tersebut selama 15 tahun. Ia tertantang melakukannya sesudah ’kuyub’ dengan musik barat yang ia pelajari secara formal di sekolah.
 
Menurutnya, Gamelan Jawa seperti halnya berbagai jenis musik lain, mempunyai dasar teori sendiri. Paul mempelajari tradisi gamelan dan melakukan eksperimentasi dengan elemen-elemen Barat untuk membuat ’gamelan baru’. Ia mengakui perangkat analisa dan metodologinya berasal dari barat, namun ia menyadari bahwa dengan cara itulah ia bisa mengubahnya secara dialektis. ”Dengan cara itu poliphoni gamelan menjadi lain” ujarnya.
 
Dalam perjalanan bermusiknya, disamping menjadi pencipta karya-karya musik kontemporer Barat, ia telah melahirkan sejumlah karya yang berangkat dari gamelan atau non-barat. Pada satu periode, ia memberinya nama ’Musik Leluhur Baru’. Setelah itu di lanjutkannya dengan sejumlah pencapaian yang lain seperti, membuat komposisi musik untuk pemusik tunggal. Hal itu ia tunjukan dalam karyanya yang berjudul Gefuehlsstau atau Timbunan Rasa yang ia bawakan sendiri di malam pembukaan pameran seni rupa G Sidharta Soegijo, di Bentara Budaya Jakarta (2002). Dalam pentasnya ia menabuh berbagai alat musik kendang sampai jembe di tambah sejumlah racikan lain.
 
Selain itu, pada tahun 2004 ia juga membuat sebuah opera tentang Ken Arok, dengan berpegang pada acuan musiknya yang ia buat tahun 2000, Der Mond Im Wassertropfen, sebuah komposisi sepanjang 22 menit. Ia memilih Ken Arok sebagai tokoh sentral karena sosok Ken Arok sendiri adalah seorang penguasa yang didewa-dewakan, seorang petualang yang sangat menarik, serta di kenal sebagai keturunan rakyat jelata yang berani, cerdik sekaligus memunculkan mitos bahwa ia masih keturunan dewa. Namun, Paul justru tertarik untuk menampilkannya sebagai manusia biasa yang mampu menunggangi sistem yang korup di dalam melaksanakan impiannya.
 
Dalam membuat komposisi musik, ia melakukannya dengan cara menulis, tidak dengan mematut-matut bunyinya lewat instrumen musik tertentu. Baginya ’menulis’ adalah membuat abstraksi dari kenyataan. Lebih jauh lagi, barang siapa bisa membuat abstraksi dari pengertian, ia juga bisa membuat konsep yang benar-benar baru. Dengan kata lain, melakukan inovasi Apapun yang ia kehendaki ia buatkan tanda-tanda khusus, yang semua harus dimainkan oleh pemusik yang membawakan.
 
 Sempat menerima bantuan dana untuk  proyek perkusi dari pemerintah kota Berlin, Jerman. Sebagian besar hidupnya, ia habiskan di Berlin, Jerman. Dengan menetap disana selama puluhan tahun.
      
(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...