Penari

Nama :
Takako Leen
 
Lahir :
Jakarta, 7 Januari 1972
 
Pendidikan :
Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Nasional Jakarta (tidak selesai)
 
 


Penari
Takako Leen
 
 
 
Lahir di Jakarta, 7 Januari 1972. Kecintaannya pada dunia tari bermula ketika ayahnya sering mengajaknya melihat pertunjukan balet klasik seperti Swan Lake, Sleeping Beauty, dan Giselle di laser disk. Saat berumur tujuh tahun, ia sempat mempelajari tarian Bali. Namun, baru tiga tahun belajar, sanggar tarinya bubar dan ia berhenti menari. Sempat pula belajar tari di Sanggar Balet Cicilia, pimpinan Ade Siregar. Bergabung dengan kelompok tari Cipta Asana setelah di ajak Rusdy Rukmarata, penari yang pernah mencicipi pendidikan di London Contemporary Dance School, Universitas London, Inggris. Saat berumur 15 tahun, ia memutuskan berhenti belajar tarian balet klasik dan mulai belajar tari kontemporer.
 
Kecintaannya kepada tari semakin di buktikannya takala ia di hadapkan pada pilihan yang sulit ketika ujian kuliahnya, saat menjadi mahasiswa semester III Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Nasional Jakarta, berbarengan dengan jadwal pementasan operet ‘Sketsa Manusia Masa Kini’ di Teater Terbuka, Taman Ismail Marzuki. Ia memilih menari, ia diberi kesempatan ujian susulan, tetapi ia menolak, bahkan ia berhenti kuliah. Ayahnya tidak keberatan, tetapi ia berpesan, ia harus serius dan membuktikan bahwa dengan menari ia bisa hidup dan berguna untuk orang banyak.
 
Pernah berguru balet kepada Iko Sidharta dan beberapa penari senior seperti M. Supriyatin, Elly Rarantha dan A. Bachtiar, Chichi Kadijono dan Rudy Wowor. Ketika kakaknya Aiko dan Rusdy mendirikan Eksotika Karmawibhangga Indonesia (EKI) Dance Company pada tahun 1996, Takako sudah memantapkan diri menjadi penari profesional.
 
Sejak tahun 1996, tinggal di asrama kelompok tari Eksotika Karmawibhangga Indonesia (EKI) Dance Company di bilangan Manggarai, Jakarta Selatan. Disana ia berlatih tari selama delapan jam per hari. Di luar itu, penganut agama Buddha aliran Niciren Syosyu ini memanfaatkan waktunya dengan berbelanja dan berjalan-jalan ke mal. Sisa waktu lainnya ia manfaatkan untuk membaca dan memburu informasi perkembangan seni tari di internet. Karena menurutnya, di Indonesia sulit mengikuti perkembangan seni tari dunia, setiap pementasan tari atau tari musikal di Singapura pasti ia tonton. Ia juga bermimpi bisa menonton musikal Cats di Broadway, yang belum pernah ia lihat secara langsung.
 
Menari bukan satu-satunya keahlian Tatako, penari utama EKI Dance Company ini pernah memerankan beragam karakter mulai dari Madame Dasima, Narcissi dalam musical MK sampai Freakin’ Crazy You. Mengaku sangat menyukai stage act. Artinya, dia juga bisa acting dan nyanyi. Sejak gabung di EKI tahun 1996, ia mendapat gojlokan seni teater dari dalang edan Sujiwo Tejo dan pelajaran vokal Anette Frambach.
 
Jika kesibukan sang penari yang langganan manggung di Zaragosa, Spanyol, itu mereda, ia kerap menghabiskan waktu bersama 15 anjing ras miliknya. Ia juga selalu mempunyai waktu untuk kerapihan kamarnya di asrama EKI Dance Company, karena ia dikenal sebagai pencandu kebersihan. Penari keturunan Jepang yang juga pintar ber-tap dance dan pernah bermain sinetron dan masih senang melajang ini berharap bisa mewujudkan mimpinya untuk mementaskan pertunjukan di Broadway.
 
(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...

Leave a Reply