Putu Fajar Arcana

Nama :
Putu Fajar Arcana
 
Lahir :
Negara, Bali Barat, Bali,
10 Juli 1965
 
Pendidikan :
Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Udayana
 
Karier :
Wartawan mingguan Karya Bhakti Denpasar, Bali,
Wartawan harian Nusa Tenggara Denpasar, Bali,
Wartawan tabloid Ekbis Denpasar, Bali,
Wartawan majalah TEMPO,
Koresponden harian Kompas
 
Aktifitas lain :
Koordinator Sanggar Minum Kopi (awal 1990-an),
Penggagas berdirinya yayasan CAK Denpasar,
Pendiri Warung Budaya Denpasar (1998)
 
Pencapaian:
Naskah sinetronnya menjadi pemenang Sepuluh Terbaik di Bali (1993),
Salah satu dari 10 cerpenis Terbaik dalam Lomba Menulis Cerpen se-Indonesia yang diselenggarakan Bali Post Denpasar (2002),
Pemenang utama Lomba Menulis Cerpen se-Indonesia yang diadakan di Kota Batu, Jawa Timur (2002),
Cerpennya ‘Rumah Makam’ termasuk dalam kumpulan cerpen pilihan Kompas, Waktu Nayla (2003),
Cerpennya rmasuk dalam kumpulan cerpen pilihan Kompas, Sepi pun Menari di Tepi Hari (2004),
Naskah monolognya berjudul ‘Pidato’ termasuk dalam 12 naskah terbaik dalam lomba Naskah Monolog Anti Budaya Korupsi (2004),
Satu dari tujuh penyair Bali yang diundang Dewan Kesenian Jakarta untuk mengikuti Cakrawala Sastra Indonesia  di Taman Ismail Marzuki Jakarta (2004),
Penghargaan Widya Pataka untuk bukunya ‘Manusia Gilimanuk’ dari Pemerintah Daerah Bali (2012),
 
Karya :
Bilik Cahaya (Kumpulan Puisi Tunggal, 1997),
Manusia Gilimanuk,
Rumah Makam (2003),
Sepi pun Menari di Tepi Hari (Cerpen, 2004),
Pidato
 (Naskah Monolog, 2004),
Surat Merah Untuk Bali (Kumpulan Essai, 2007),
Gandamayu (2012)


Penulis
Putu Fajar Arcana
 
 
 
Pria yang akrab dipanggil ‘Can’ ini lahir di Negara, Bali Barat, Bali, 10 Juli 1965. putra pasangan I Ketut Nomer dan Ni Nyoman Loten. Mulai serius menekuni dunia tulis menulis ketika ia berkuliah di Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Udayana. Tahun 1989, ia mulai menekuni dunia jurnalistik. Pernah menjadi wartawan mingguan Karya Bhakti Denpasar, harian Nusa Tenggara Denpasar, tabloid Ekbis Denpasar dan majalah TEMPO. Kemampuannya di bidang sastra semakin terasah ketika ia bertemu dengan penyair Umbu Landu Paranggi saat bekerja di harian Kompas sebagai koresponden Bali.
 
Di luar dunia jurnalistik, ia pernah menjadi koordinator Sanggar Minum Kopi (SMK) Bali pada awal 1990-an, yang secara rutin menyelenggarakan Lomba Penulisan Puisi Se-Indonesia, serta Lomba Baca Puisi se-Bali. Juga pernah aktif di Kelompok Sapu Lidi dan menjadi penggagas kelahiran Yayasan CAK Denpasar yang menerbitkan Jurnal CAK sampai kini, serta menjadi pendiri Warung Budaya di Taman Budaya Denpasar tahun 1998. Ia juga kerap berkeliling untuk menjadi juri serta membangkitkan kehidupan sastra di daerah-daerah seputar Bali.
 
Sebagai penulis ia telah melahirkan banyak karya, antara lain : kumpulan puisi tunggalnya terbit tahun 1997 dengan judul ‘Bilik Cahaya’. Selain itu puisi-puisinya juga terkumpul pula dalam ‘The Ginseng’ (1993), ‘Dari Negeri Poci III’ (1994), ‘Mimbar Penyair Abad 21’ (1996), ‘Amsal Sebuah Patung’ (1996), ‘Bonsai’s Morning’ (1996), ‘Kembang Rampai Puisi Bali’ (1999), ‘Menagerie IV’ (2000), ‘Bali The Morning After’ (2000), ‘Gelak Esei dan Ombak Sajak’ (2000) ‘Malaikat Biru Kota Hobart’ (2004), ‘Mahaduka Aceh’ (2004) serta ‘Manusia Gilimanuk’ (2012)..Karya cerpennya termuat dalam ‘Antologi Para Penari’ (2002), ‘Bunga Jepun’ (2003) dan ‘Samsara’ (2005). Esai-esainya yang mengkritisi Bali sebagai tanah kelahirannya terkumpul dalam ‘Surat Merah untuk Bali’ (2007).
 
Ia juga meluncurkan novel ‘Gandamayu’ di Bentara Budaya Bali pada tahun 2012, yang diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas. Novel ini berangkat dari kisah perempuan dalam mitolog, yang merupakan interpretasinya atas wiracarita Mahabarata, terkait figur pendamping Siwa yang paradoks, yakni Dewi Durga yang menyeramkan di bawah pengaruh amarah dan menjelma menjadi Dewi Uma yang lembut penuh kasih.
 
Atas dedikasinya yang besar dalam dunia sastra, ia tercatat pernah beberapa kali meraih penghargaan diantaranya,  naskah sinetronnya keluar sebagai pemenang Sepuluh Terbaik tahun 1993 di Bali. Puisinya ‘Manusia Gilimanuk’ menjadi nominator peraih Borobudur Award tahun 1996, 10 cerpenis Terbaik dalam Lomba Menulis Cerpen se-Indonesia yang diselenggarakan Bali Post Denpasar (2002), pemenang utama Lomba Menulis Cerpen se-Indonesia yang diadakan di Kota Batu, Jawa Timur, di tahun yang sama. Mendapatkan penghargaan Widya Pataka untuk bukunya ‘Manusia Gilimanuk’ dari Pemerintah Daerah Bali (2012), selain menerima penghargaan, ia juga menerima hadiah berupa uang biaya cetak buku senilai Rp. 10 juta.
 
Karya cerpennya ‘Rumah Makam’ masuk dalam kumpulan cerpen pilihan Kompas 2003, ‘Waktu Nayla’. Tahun 2004, cerpennya kembali termasuk dalam kumpulan cerpen pilihan Kompas, ‘Sepi pun Menari di Tepi Hari’. Naskah monolognya berjudul ‘Pidato’ termasuk dalam 12 naskah terbaik dalam lomba Naskah Monolog Anti Budaya Korupsi 2004. Ia pun termasuk satu dari tujuh penyair Bali yang diundang Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) untuk mengikuti Cakrawala Sastra Indonesia 2004 di Taman Ismail Marzuki Jakarta.
 
Kini ia bekerja sebagai wartawan Kompas di Jakarta. Ia juga menjadi editor untuk beberapa buku terbitan Penerbit Buku Kompas. Perjalanan jurnalistiknya selama ini telah mengantarnya mencapai kota-kota di dunia seperti Athena, Yunani (2003), Paris, Perancis (2003/2007), Brussel, Belgia (2007), Koln, Jerman (2007), Luksemburg (2007), Singapura (2003/2004/2007), Bangkok, Thailand (2004), Rusia dan India.
 
(Dari Berbagai Sumber)
 
 
 

You may also like...