Putu Oka Sukanta

Nama :
Putu Oka Sukanta
 
Lahir :
Singaraja, Bali, 29 Juli 1939
 
Pendidikan non formal :
Popular Theatre Workshop di Sri Langka dan Bangladesh
(1982 & 1983)
 
Kegiatan Lain :
Pendiri Yayasan Pengobatan Tradisional Indonesia,
Pimpinan Pusat Asosiasi Naturopath Indonesia
 
Penghargaan :
Deklamatir terbaik Bali (1958),
Pemenang ke II Lomba Dongeng Lingkungan Hidup di Jakarta (1982)
 
Karya :
I Belog (Cerita Anak-Anak Bali, 1980),
Selat Bali
(kumpulan puisi, 1982),
Salam atau Greetings (kumpulan Puisi
Dwi Bahasa, 1986),
Luh Galuh
(Kumpulan Cerpen, 1987),
Tas atau Die Tasche (Kumpulan Cerpen, 1987),
Luh Galuh
(Kumpulan Cerpen, 1988),
Keringat Mutiara
(Kumpulan Cerpen, 1991),
Matahari, Tembok Berlin (Kumpulan Puisi, 1992),
Kelakar Air, Air Berkelakar (novel, 1999),
Merajut Harkat
(novel, 1999),
Kerlap Kerlip Mozaik
(Novel, 2000),
Di Atas Siang Di Bawah Malam (Novel, 2004),
Rindu Terluka
(Kumpulan Cerpen, 2004),
Rindu Terluka
(Kumpulan Cerpen, 2005),
Keringat Mutiara
(Kumpulan Cerpen, 2006),
Lobakan
 (Cerita Seputar Tragedi 1965/1966 di Bali, 2009)


Putu Oka Sukanta
 
 
 
Lahir Singaraja, Bali, 29 Juli 1939. Mulai menulis sejak usia 16 tahun. Dirangsang oleh pelajaran mengarang. Guru bahasa Indonesianya mengajarkan agar Putu menuliskan apa yang dialaminya. Awalnya, menulis hal-hal yang nakal dan menyentil kebiasaan orang Bali. Selanjutnya Putu aktif menulis puisi, cerpen, novel, dan cerita anak-anak baik sewaktu masih di Bali, maupun sesudah pindah ke Yogyakarta dan Jakarta.
Pada tahun 1966, Putu dijebloskan ke penjara Salemba, Jakarta, karena dianggap sebagai anggota Lekra (salah satu organisasi PKI). Padahal, meskipun pernah bergaul dengan orang-orang Lekra, ia tidak pernah menjadi anggota organisasi tersebut. Selama masa pengawasan sesudah pembebasannya pada tahun 1976, karya-karyanya disensor. Meskipun demikian, Putu tetap menulis, sebagian tulisan Putu tidak beredar di Indonesia, tapi di Jerman dan Australia. Tulisannya sering dimuat dalam antologi dan pernah diterbitkan oleh Kalyana Mitra. Tak heran, Putu kurang dikenal di Indonesia. “
Pada tahun 1982 dan 1983, Putu sempat mengikuti Popular Theatre Workshop di Sri Lanka dan Bangladesh. Penulis yang pernah dinobatkan sebagai deklamatir terbaik Bali (1958) ini, pada bulan April dan Mei 1985, diundang untuk berceramah tentang sastra dan membacakan puisi di beberapa universitas di Australia (Flinders University, Monash University, ANU, Sidney University). Selain di Australia, Putu juga membacakan puisinya di Jakarta dan Malaysia (Dewan Bahasa dan Pustaka).
 
Beberapa karya Putu sudah ada yang terbitkan ke dalam bahasa asing. Cuplikan novelnya, Leftover Soul, ditampilkan dalam Manoa: A Pacific Joutnal of International Writing. Putu juga menjadi contributing editor dari Latitudes dan staf anggota senior dari sebuah majalah alternatif, Nirmala. Tulisan Putu juga terdapat dalam Indonesian Contemporary Progresive Poetry (Indonesia, 1963), The Prison Where I Live (London, 1996), Voice of Conciences (USA, 1995), Bali Behind The Seen (Australia, 1997), Black Cloud Over Paradise Isle (USA, 1997), Manageri IV (Indonesia, 1998), dan Silenced Voices (Hawaii, 2000).
 
Selain dikenal sebagai penulis, Putu juga mempunyai keahlian di bidang pengobatan tradisional. Keahlian itu di dapat semasa dipenjara Salemba, Putu belajar akupuntur dan akupresur dari seorang dokter cina yang ditempatkan dalam sel yang sama. Setelah bebas dari penjara, tahun 1978, Putu pun pergi ke Taipei dan Hongkong untuk memperdalam ilmunya. Minat Putu terhadap dunia pengobatan meluas ke pengobatan tradisional. Pada tahun 1980, Putu mendirikan Yayasan Pengobatan Tradisional Indonesia. Sayangnya, lantaran beberapa anggota yayasan tersebut adalah bekas tahanan politik, pemerintah Indonesia pada waktu itu membredelnya.
 
Pemenang ke II dongeng lingkungan hidup (1982) ini, menikah dengan Endah Lasmadiwati di tahun 1987. Tahun 1990, kembali masuk penjara akibat usahanya mengajarkan pengobatan tradisional pada rakyat kecil dicurigai oleh pemerintah. Sepanjang rezim Orde Baru berdiri, Putu memang tidak pernah luput dari pengawasan intel, bahkan ketika sedang di luar negeri.
 
Setelah bebas dari penjara lagi, Putu dan istrinya terus mengumpulkan tanaman herbal Indonesia untuk ditanam di yayasan mereka. Keahliannya dalam akupuntur dan tanaman obat telah membawanya keliling dunia di 23 negara. Kini Putu Oka Sukanta menjadi Pimpinan Pusat dari Asosiasi Naturopath Indonesia. Yayasan ini memfasilitasinya untuk mengadakan penelitian mengenai metode pengobatan tradisional bagi penderita HIV/AIDS. Putu-pun telah menulis 10 buku mengenai subjek ini.
 
(Dari Berbagai Sumber)
 
 

You may also like...

Leave a Reply