R. Soejadi (Pak Raden)


Animator
R. Suyadi
 
 
Lebih dikenal sebagai Pak Raden, karakter antagonis dalam serial sandiwara boneka Si Unyil yang ditayangkan di TVRI pada era 1980-an. Sudah sejak sekolah dasar ia tertarik dengan dunia menggambar. Ketertarikannya itu dimulai ketika ia melihat gambar-gambar dibuku pelajaran membaca. Tahun 1940-an, ia bersekolah di ELS (Europese Lagere School), sekolah yang sebenarnya hanya untuk kulit putih. Tetapi orangtuanya, Subekti Wirjokoesoemo, seorang Patih di Surabaya, Jawa Timur, tidak membolehkannya belajar menggambar.
 
Masa kecilnya dihabiskan dengan bersekolah di ELS (Europese Lagere School), setingkat SD yang khusus ditujukan untuk anak kulit putih dan pribumi dari golongan tertentu. Meneruskan sekolahnya di SMP lalu VHO (Voorbereindend Hoger Onderwijs), Geneskundige Hoge School (sekarang SMA 2), Surabaya, jawa Timur. Meneruskan kuliah di ITB jurusan senirupa (1952). Setelah lulus kuliah pada tahun 1961-1964 ia berangkat ke Paris, Perancis, untuk mengikuti sebuah program beasiswa yang di berikan oleh Pemerintah Perancis. Di sana ia bekerja sebagai tenaga animator di Les Cineast Associest dan pelukis animasi Les Film Martin Boschet. Ia kemudian memilih keluar dari pekerjaannya dan memutuskan bekerja penuh sebagai seniman perupa. Persisnya, ilustrator atau senirupa aplikasi.
Sekembalinya dari Perancis, penggemar wayang dan gamelan ini, bekerja di Teaching Aids Centre (TAC) sebagai kepala Graphic Art. Disaat yang sama, ia juga mengajar di Seni Rupa ITB sekitar tahun 1965-1975. Di samping itu, ia pun banyak membuat film animasi Pemilu dan Keluarga Berencana untuk Departemen Penerangan pada masa itu.
Keterlibatannya dalam serial sandiwara boneka Si Unyil sebenarnya lebih banyak sebagai art director yang membuat boneka, menyiapkan set panggung dan bertanggung jawab atas semua visualisasi di televisi. Sedangkan karakter Pak Raden yang ia mainkan menurutnya hanya sebuah kebetulan saja. Karakter yang kuat dalam tiap tokoh Disney, mengilhaminya untuk membuat karakter-karakter yang kuat pula pada setiap tokoh yang ada pada film boneka Si Unyil
 
Meski serial sandiwara boneka Si Unyil sudah tidak lagi diproduksi sejak tahun 1992 akibat tak ada lagi dana dan mulai ditinggalkan penontonnya, setelah sepuluh tahun mengudara yang dipenuhi oleh propaganda pembangunan orde baru, namun karakter Pak Raden masih bisa diterima publik. Buktinya masih saja ada undangan untuk mendongeng dengan membawakan karakter Pak Raden. Kesibukannya mendongeng membuatnya melanglang buana ke Amerika Serikat, Kanada dan Singapura.
 
Ia begitu bersemangat mendorong kaum muda dalam mengembangkan karya animasi, “Film animasi harus dikembangkan terutama yang mendorong kecintaan pada bangsa. Kita harus menciptakan tokoh yang membuat hati bahagia. Membuat tokoh yang disukai anak-anak, berarti kita ikut membahagiakan anak-anak dan dunia”, katanya dengan suara lantang.  
Bersama Helmy Yahya, R. Suyadi yang memilih hidup membujang ini tengah mempersiapkan untuk menghidupkan kembali sandiwara boneka Si Unyil.   Sejak tahun 2007, ia melakukan syuting program edukasi bersama Trans TV berjudul Laptop Si Unyil. Kini selain masih sibuk syuting, kadang ia juga mengisi hari-harinya dengan melukis. Sebuah kecintaan yang berbuah dedikasi dan semangat yang tak kunjung padam.
Karena jasa dan prestasinya yang menonjol sebagai pelopor bidang industri kreatif cluster animasi dan tokoh animator, ia mendapatkan penghargaan Ganesha Widya Jasa Utama dari Institut Teknologi Bandung (ITB) pada hari Rabu, 4 Juli 2012 lalu di kampus ITB, Bandung, Jawa Barat.     
(Dari Berbagai Sumber)

Nama :
Suyadi
 
Lahir :
Puger, Jember, Jawa Timur,
28 November 1932
 
Pendidikan :
ELS (Europese Lagere School)
SMP, Surabaya (1940),
SMA Geneskundige Hoge School, Surabaya (1949),
ITB jurusan senirupa (1952)
 
Karier :
Animator di Les Cineast Associest dan Les Film Martin Boschet (1961-1964),
Kepala Graphic Art Teaching Aids Centre,
Pengajar Senirupa ITB
 (1965-1975),
Art Director,
 Pemeran Pak Raden dalam Sandiwara Si Unyil,
Aktivis di Kelompok Pecinta bacaan Anak (KPBA)
 
Penghargaan :
Mendapat beasiswa dari Pemerintah Perancis
(1961-1964),
Anugerah Samartharupa (2009),
Ganesha Widya Jasa Utama dari ITB (2012)
 
 

You may also like...

Leave a Reply