Rachman sabur

Nama :
Rachman Sabur
 
Lahir :
Bandung, Jawa Barat,
12 September 1957
 
Pendidikan :
Program Studi Keaktoran ASTI (STSI) Bandung (1985),
Program S1 STSI Surakarta jurusan Tari (1992)
 
Karier :
Pengajar jurusan teater STSI Bandung,
Kepala Studio Teater STSI Bandung (1994-2002),
Pembantu Ketua Bidang Kemahasiswaan STSI Bandung (2004-2008)
 
Karya Teater :
Tuhan dan Kami (1988),
Ritus Topeng Ritus (1989),
Metateater (1991),
Teater Musik Kaleng (1996),
Merah Bolong Putih Doblong Hitam (1997),
KataKitaMati (1998),
Tiang ½½ Tiang (1999),
Dom dan Orang Mati (2000),
 Bersama Tengkorak (2001),
Relief Air Mata (2004),
Ritual Bumi (2006)


Rachman Sabur
 
 
 
Rachman Sabur dikenal sebagai seorang aktor, sutradara, penulis dan akademisi. Lahir di Bandung, Jawa Barat, pada 12 September 1957. Saat ini ia mengajar di almamaternya, jurusan Teater STSI Bandung. Masih aktif menulis cerita pendek, sajak dan naskah teater.  Telah menyutradarai kurang lebih 45 lakon karya sendiri dan karya dramawan dari dalam dan luar negeri yang di mainkannya bersama Teater Payung Hitam yang dipimpinnya. “Teater merupakan upaya memanusiakan manusia”, ujarnya dalam sebuah wawancara.
 


Kaspar, Art Summit 2001

Lakon-lakon yang pernah digarapnya antara lain : Bila Malam Bertambah Malam (Putu Wijaya) dan Darim Mencari Darim (Arifin C. Noer). Sedangkan untuk lakon asing adalah : Menunggu Godot (Samuel J. Beckett), Inspektur Jendral (Nikolai Gogol), Labyrinth (D. Goerdon) dan Kaspar (Peter Handke). Kreativitas penyutradaraannya selama 26 tahun ini diekspresikan selain lewat Teater Payung Hitam, juga menyutradarai untuk produksi Studio Teater STSI Bandung. Tahun 1993, mengikuti Festival Teater ASEAN di Bangkok, Thailand. Tahun 1997, memberikan workshop Kaspar di Perth, Australia dan mengikuti kolaborasi Teater Indonesia Philipina-Jepang, di Sibuya, Jepang ditahun yang sama. Tahun 2003, mengikuti Festival Laokoon / Spring Festival di Hamburg, Jerman. Tahun 2005, mengikuti Kolaborasi Teater di Belanda yang bekerjasama dengan Koos Hogeweg dari The Lunatics Theatre –Dutch, dan pada tahun 2006 ikut serta dalam Oerol Festival and Therschelling Holland.

 
Sejak tahun 1995 sampai sekarang, ia lebih memilih untuk memproduksi lakon karangannya sendiri. Pementasan, yang dimainkan oleh Teater Payung Hitam atau juga sering di sebut kelompok Payung Hitam lebih mengarah pada bentuk pertunjukan teater non verbal yang mengangkat tema-tema lingkungan sosial yang terjadi di negeri ini. Kelompok Payung Hitam yang ia dirikan tahun 1982 ini merupakan salah satu kelompok teater di Bandung yang cukup potensial setelah Studi Teater Bandung. “Kelompok Payung Hitam merupakan kelompok teater serius yang bekerja dengan persiapan dan tanggung jawab kesenian yang cukup sehat”, kata Jakob Sumardjo.
 
(Dari Berbagai Sumber) 

You may also like...

Leave a Reply