Radhar Panca Dahana

Seniman Teater
Radhar Panca Dahana
 
 
Ia seorang lelaki gesit yang tulisan maupun tutur sapanya sama-sama fasih. Kadang ia bicara meledak-ledak, itu karena energi dan semangatnya kukuh seperti gunung, apalagi kalau bicara masalah kebudayaan, terutama teater. Memulai debutnya sebagai sastrawan pada usia 10 tahun, lewat cerpennya ‘Tamu Tak Diundang’ di harian Kompas. Menjadi redaktur tamu majalah Kawanku di usia 12 tahun, Sejak itu ia menapaki karir jurnalistiknya, menjadi reporter lepas hingga pemimpin redaksi di berbagai media, seperti Hai, Kompas, Jakarta Jakarta, Vista TV, Kawanku hingga terakhir Indline.com. Ia termasuk seniman serba-bisa dengan berbagai kegiatan.
 
Pertama kali mengenal panggung teater saat berumur 14 tahun, ketika ia duduk di bangku SMP sebagai ekstrakulikuler di SMP 68 Cilandak, Jakarta Selatan. Ketika SMA, ia ‘keluar-masuk’ SMA karena masalah absensi, dari SMA 11 Jakarta (kini SMA 70 Jakarta), lalu SMA 46 Jakarta dan lulus di SMA GIKI Bogor (Jawa Barat). Sebagai pekerja teater ia menjadi aktor pertama kali memerankan tokoh perempuan Roberta dalam drama ‘Penyerahan 1979’, menyutradarai pertunjukkan teater untuk pertama kalinya ‘Gamang’ (1983) bersama grup lungsuran Toto Prawoto, Teater Gom Aquilla, pecahan dari Teater Gombong, Bulungan, Jakarta Selatan.
 


1 Hari 11 Mata Dikepala – Teater Kosng (2007)

Tahun 1985, ia mendirikan Teater Kosong, dengan anggota yang berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari Hansip, akuntan, anak SMA, penyanyi jalanan, preman, pengedar narkoba, santri, guru, pesilat, penganut agama sinkretik hingga imigran gelap asal Amerika Serikat. Ia mengontrak sebuah rumah petak di daerah Kukusan, Depok, jawa Barat, untuk menjadi tempat berlatih Teater Kosong. Disaat yang bersamaan ia nyantri sebagai anggota Bengkel Teater Rendra dan mendirikan teater lain di Bogor, Jawa barat, Teater Tealaga (Teater SLTA Tiga).
 
Ia menulis sendiri puluhan naskah teater. Sekarang, telah berpuluh-puluh  panggung telah ia jelajahi, berbelas buku telah ia tulis, lelaki kelahiran Jakarta ini sibuk mengurusi Federasi Teater Indonesia dan Bale Sastra Kecapi.

 
Peraih berbagai penghargaan nasional dan internasional, di antaranya Paramadina Award dan Le Prix Francophonie ini, profilnya pernah dibuat dan disiarkan oleh Stasiun TV NHK Jepang, dan kini juga mengasuh sebuah rubrik gagasan (Teroka) di Harian Kompas, mengisi tetap cerita komik ‘Mat Jagung’ di Koran Tempo, dan Kolom Perspektif di majalah Gatra. Ia juga pernah diundang untuk membaca Puisi ke beberapa festival sastra di Eropa maupun bicara dalam berbagai forum sastra Internasional seperti di Tokyo, Hongkong, Bangkok, Filipina, Jerman, Prancis, Belgia, Brunei, dan Belanda.
 
Bersama beberapa rekan ia membangun kembali PEN International Indonesia dan menjadi Sekjennya untuk waktu tak lama, untuk kemudian menyelesaikan studi sosiologinya di Ecole des Hautes Etudes en Science Sociales, Paris, Perancis. Sepak terjangnya yang beragam di dunia seni pernah juga ia menjadi pemain pantomim bayaran hingga pemain gitar sekaligus perkusi dalam kelompok musik Poci Jakarta maupun di dunia lainnya, jurnalistik, politik, akademik misalnya, tidak lain adalah caranya menghayati dan mensyukuri nikmat dan potenssi kemanusiaan yang telah diterimanya.
 
Berdomisili di bilangan Pamulang, Tangerang, Jakarta Selatan. Menikah dengan Krisniati Marchellina, dikaruniai tiga orang anak, Cahaya Prima Putradahana, Nurviva Segunda Putridahana dan Ahmad Royhan Sadewa.
 
(Dari Berbagai Sumber)

Nama :
Radhar Panca Dahana
 
Lahir :
Jakarta, 26 Maret 1965
 
Pendidikan :
SMPN 68 Cilandak,
 Jakarta Selatan
SMA GIKI Bogor,
 Jawa Barat,
Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik/FISIP Universitas Indonesia (1994),
Université de Frençh Comte, Besançon, Perancis
 (CLA, 1997-1998),
Ecole des Hautes Etudes en Science Sociales, Paris, Perancis (DEA, 1998-2000)
 
Aktifitas Lain :
Redaktur Tamu majalah Kawanku (1977),
Jurnalis dan editor majalah Jakarta-Jakarta (1988-1990),
Redaktur Pelaksana Vista FMTV (1992-1994),
Wakil Pimpinan Redaksi Vista TV (1994-1996),
Pendiri dan Presiden Federasi Teater Indonesia (2004 s/d sekarang),
Pendiri dan Sekjen PEN Indonesia (asosiasi penulis internasional yang berpusat di London, Inggris)
 
Karya :
Gamang (1983),
Pembunuhan Misterius (1984),
Kobong (1984),
Butek (1985),
Dantos (1987),
Metamorfosa Kosong (1998),
Le Monde est Temps (1999),
Simfoni Duapuluh
(puisi, 1985),
Lalu Waktu (puisi, 1994),
Ganjar & Leungli
(Novel, 1995),
Masa Depan Kesunyian (Cerpen, 1997),
Homo Theatricus
(Esai teater, 2001),
Ideologi Politik dan Teater Modern Indonesia
(esai, 2001),
Dusta dan Kebenaran dalam Sastra (esai, 2001),
Menjadi Manusia Modern (esai, 2002),
Lalu Batu (puisi, 2003),
Jejak Posmodernisme
 (esai, 2004),
Cerita-cerita dari Negeri Asap (Cerpen, 2006),
Inikah Kita: Mozaik Manusia Indonesia
(Esai, 2006),
Dalam Sebotol Coklat Cair (essai sastra, 2007),
Metamorfosa Kosong (kumpulan drama, 2007),
1 Hari 11 Mata Dikepala (2007),
Mat Jagung Kabut Manusia (komik, 2009)
Republik Reptil
 (Naskah Teater, 2010),
Lalu Aku (2011),
Manusia Istana
(puisi, 2012),
Teater Dalam Tiga Dunia (Kumpulan esai, 2012)
 
Pencapaian :
Terpilih satu diantara lima seniman muda masa depan Asia versi NHK (1996),
Duta Terbaik Pusaka Bangsa (2004),
Duta Lingkungan Hidup (2004)
Paramadina Award (2005),
Medali Frix de La  Francophonie dari 15 negara berbahasa Perancis (2007),
IKJ Award kategori Pengamat dan Pemerhati (2012),
Cendikiawan Berdedikasi dari Kompas (2014) 

You may also like...