Raja Ali Haji


Raja Ali Haji
 
 
 
Pujangga dan sejarawan keturunan Bugis-Melayu ini adalah tokoh utama perkembangan bahasa melayu pada masa Kesultanan Riau. Ia peletak dasar-dasar bahasa melayu yang tertuang dalam Kitab Pengetahuan Bahasa. Kamus yang disusunnya ini juga menjadi cikal-bakal bahasa Indonesia. Ia juga menulis tema ilmu pengetahuan lainnya seperti sejarah, hukum, tata negara dan ilmu bahasa. Ia adalah orang dekat keluarga Kesultanan Riau Lingga pada masa Raja Abdullah Yang Dipertuan Muda IX beserta istrinya Raja Aisyah. Karyanya, Gurindam Dua Belas menjadi ikon Pulau Penyengat yang merupakan syair pantun dengan hikmah, keteladanan, kebijaksanaan dan pendidikan dalam tuntunan Islam.     
 
Pujangga termasyur dari Pusat Kebudayaan Melayu Riau-Johor ini, lahir di Selangor, Malaysia, tahun 1808. Bernama asli Tengku Haji Ali al-Haj bin Tengku Haji Ahmad bin Raja Haji Asy-Syahidu fi Sabillah bin Upu Daeng Celak. Putera pasangan Encik Hamidah binti Malik dan Raja Ahmad, Raja Bugis yang terkenal serta cucu dari Raja Haji Fisabillilah, bangsawan dari kesultanan Lingga-Riau. Ayahnya dikenal sebagai orang terpelajar yang juga termasuk pengarang Kesultanan Lingga-Riau yang terkenal dan rajin menuntut ilmu. Bakat menulis ayahnya menurun kepadanya.
 
Sejak masih remaja, Raja Ali sering mengikuti ayahnya berekspedisi ke sejumlah wilayah, termasuk ke Jakarta, perjalanan dagang serta naik haji ke Tanah Suci. Pengalaman bepergian ini secara langsung memberikan wawasan pengetahuan luas padanya. Menginjak usia 20 tahun, ia sudah diberikan tugas-tugas kenegaraan yang tergolong penting. Hingga usianya 32 tahun, bersama sepupunya, Raja Ali bin Raja Ja‘far, dipercaya memerintah di daerah Lingga, mewakili Sultan Mahmud Muzaffar Syah yang juga masih berusia muda. Pada masa itu, ia berhasil mengembangkan Riau menjadi pusat kebudayaan Melayu yang besar.
 
Di bidang sastra, ia terkenal akan karya-karya sastranya yang berbentuk prosa maupun puisi. Karya-karya sastranya berisi beragam tema, diantaranya hukum, sastra, bahasa, dan  keagamaan. Karyanya berjudul Hikayat Abdul Muluk merupakan karya sastrawan Riau yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1846. Sejak itu, muncul banyak karyanya yang kemudian dipublikasikan, termasuk Mahakaryanya Gurindam Dua Belas (1846), yang menjadi pembaru arus sastra pada zamannya.
 
Pada tahun 1854 ia juga menulis Kitab Pengetahuan Bahasa, sebuah kamus logat Melayu, Johor, Pahang, Riau, Lingga Penggal yang pertama, yang merupakan kamus ekabahasa pertama di Nusantara, yang kemudian menjadi pelopor perkamusan monolingual bahasa melayu. Ia juga menulis Syair Siti Shianah, Syair Suluh Pegawai, Syair Hukum Nikah, Syair Sultan Abdul Muluk dan buku yang berjudul Tuhfat al-Nafis (Bingkisan Berharga) yang berisi tentang sejarah Melayu.
 
Telah banyak hasil karya yang telah dihasilkannya, namun ia tidak pernah meninggalkan ciri khasnya, mengakar pada tradisi kesusastraan Islam serta Melayu, juga kesungguhannya dalam menyajikan sejarah masa lalu disesuaikan dengan tuntutan kondisi di zamannya. Pada setiap pesan etik yang disampaikan, ia juga kerap menyisipkan lukisan peristiwa nyata yang terjadi di masanya.
 
wafat tahun 1872 di Pulau Penyengat, Kepulauan Riau. Atas jasa-jasa terhadap perkembangan sastra melayu yang merupakan cikal-bakal bahasa Indonesia, pada 5 November 2004, pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan Gelar Pahlawan Nasional kepada dirinya lewat SK Presiden No.089/TK/Tahun 2004.
 
(Dari Berbagai Sumber)

Nama :
Tengku Haji Ali al-Haj bin Tengku Haji Ahmad bin Raja Haji Asy-Syahidu fi Sabillah bin Upu Daeng Celak
 
Lahir :
Selangor, Malaysia, 1808
 
Wafat :
Pulau Penyengat,
Kepulauan Riau, 1872
 
Penghargaan :
Gelar Pahlawan Nasional dari pemerintah Republik Indonesia (2004)
 
Karya :
Hikayat Abdul Muluk (1846),
Gurindam Dua Belas (1846),
Kitab Pengetahuan Bahasa (1954),
Syair Siti Shianah,
Syair Suluh Pegawai,
Syair Hukum Nikah,
Bustan Al Katibin,
Silsilah Melayu Bugis Beserta Para Rajanya,
Syair Sultan Abdul Muluk,
Tuhfat al-Nafis
 

You may also like...