Rasinah

Nama :
Rasinah
 
Lahir :
Indramayu, Jawa Barat,
 3 Februari 1930
 
Wafat :
Indramayu, Jawa Barat,
 7 Agustus 2010
 
Aktifitas Lain :
Pengajar tari
 
Pencapaian :
Lifetime Achievement Award dari Festival Topeng Nusantara 2010
     

Seniman Tari
Rasinah
 
 
 
Pada tahun 1975 ia kecewa karena kurangnya perhatian terhadap kesenian, itu sebabnya ia berhenti menari. Namun tahun 1994, dengan dorongan, promosi dan dukungan dana dari para peneliti, ia mulai tampil lagi. Dalam kariernya yang bangkit lagi, ia muncul dikota-kota besar Jawa dan Bali dan juga tampil di Eropa dan Jepang.
 
“Jadilah penari seperti saya, yang rajin dan bekerja keras. Anak-anak muda sekarang, setelah satu jam saja mereka sudah capek. Saya humori saja, karena nanti kalau mereka sudah bisa, mereka akan enak sendiri. Sekarang saya punya 25 orang murid, usianya dari kelas 2 sampai SMA. Mereka datang kesini setiap hari Minggu, dan saya tidak memaksa mereka untuk bekerja lebih keras. Dulu bapak saya bertindak keras kepada saya, beliau selalu marah-marah kalau sedang membimbing saya. Sejak lama cucu saya ikut mengajar dan dia mengajar teori juga. Saya berharap cucu saya bisa meneruskan warisan ini, supaya saya bisa istirahat. Saya akan berhenti mengajar tari dan juga menari kalau sudah ada yang bisa melanjutkan kesenian tradisional Cirebon”, pesannya.
 
“Sekarang, anak-anak muda lain keinginannya, dulu, acara wayang berlangsung sampai malam, dan sindennya sederhana. Tetapi walaupun sederhana, penonton menyukainya. Sekarang, khusus ada pesinden pesanan, yang melantunkan lagu-lagu dangdut. Sekarang, orang lebih suka menanggap orang-orang baru sesuai selera masa sekarang”, katanya.

Menurutnya, tidak banyak perubahan teknik dalam tari topeng, yang berubah adalah batas waktu untuk menari. Sekarang tarian itu dipercepat. Dan dulu hanya ia sendiri yang menari. Sekarang banyak penari-penari baru yang menari bersama saya”, paparnya. “Saya siap membimbing mereka agar mereka dapat menari dengan lancar. Tetapi, saya hanya tampil dengan mereka pada awal pertama menari”, tambahnya. “Perubahan penampilan pentas tari topeng memang juga banyak. Dulu pentas tari topeng hanya memakai lampu petromax. Sekarang, pakai listrik. Dan kalau jaman dahulu, saya yang mendandani diri saya sendiri dirumah”, kenangnya.

 
Mengenai kostum juga tidak banyak berubah. Mungkin para penari pemula ingin warna-warna yang lebih ngejreng. Dulu ia tidak boleh pakai kostum berwarna, tapi hanya diperbolehkan warna hitam, karena di desa Pekandangan, semua harus mengenakan kostum berwarna hitam. Ini adalah lambang dalam sejarah. Merah boleh, karena ada juga kerbau merah. Tetapi sebetulnya pada zaman dahulu, tidak banyak baju yang berwarna-warni. Tetapi sobra (hiasan kepala) yang ia pakai sekarang lebih bagus, lebih terang. Saya tidak suka yang asli karena terlalu sederhana. Bukan hanya anak muda yang ingin perubahan.
 
Tidak ada perubahan dalam interaksi antara penari dan masyarakat. Tapi pada zaman dahulu, seniman sering berpentas, kendati tidak mampu beli apa-apa. Seorang penari bisa menari sampai tiga bulan dan manggung 100 kali, tetapi masih susah makan. Dijaman Belanda, kelompok penari hanya diberikan honor satu ringgit, atau dua setengah rupiah setiap kali manggung. Namun sekarang setiap grup menerima honor Rp 750.000,- sampai 2 juta rupiah.
 
Menurutnya, pengaruh media massa bagi perkembangan tari topeng sangat besar, diantaranya adalah minimnya undangan untuk menari karena penonton lebih memilih nonton dangdut.  
 
“Saya akan berhenti menari kalau sudah mati”, begitu pernah dikatakannya Pada Sabtu, 7 Agustus 2010. Wafat sekitar pukul 14.00 wib di RSUD Indramayu, Jawa Barat, dimakamakan keesokan harinya di pemakamaman kampung Cikaweni, Desa Pekandangan, Indramayu, Jawa Barat, Minggu, 8 Agustus 2010, pukul 09.00 wib. Orang tua yang agung! Mungkin ungkapan ini yang paling pas untuk melukiskan totalitas yang ditunjukkannya
 
 (Dari Berbagai Sumber)

You may also like...

Leave a Reply