Ratna Indraswari Ibrahim

Nama :
Ratna Indraswari Ibrahim
 
Lahir :
Malang, Jawa Timur,
 24 April 1949
 
Wafat :
Malang, Jawa Timur,
28 Maret 2011  
 
Pendidikan :
Fakultas Ilmu Alam Universitas Brawijaya, Malang
 (tidak selesai)
 
Aktivitas Lain :
Ketua Yayasan Bhakti Nurani Malang,
Direktur I LSM Entropic Malang (1991),
Pendiri Forum Kajian Ilmiah Pelangi
 
Penghargaan :
Tiga kali cerpennya masuk dalam antologi cerpen pilihan Kompas (1993-1996),
Cerpen pilihan harian Surabaya Post (1993,)
Predikat Wanita Berprestasi dari Pemerintah RI (1994),
Juara tiga lomba penulisan cerpen dan cerbung majalah Femina (1996-1997),
Karyanya masuk dalam Antologi Cerpen Perempuan Asean (1996)
 
Karya Kumpulan Cerpen :
Kado Istimewa (1992),
Pelajaran Mengarang (1993),
Aminah di Suatu Hari Menjelang Pati (1994),
Lampor (1994),
Laki-Laki yang Kawin dengan Peri (1995),
Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan (1997),
Namanya Masa (2000),
Lakon Di Kota Senja (2002), Waktu Nayla (2003),
Sumi dan Gambarnya (2003)
 
Karya Novel :
Bukan Pinang Dibelah Dua (2003)
Lemah Tanjung (2003)


Penulis
Ratna Indraswari Ibrahim
 
 
 
Dikenal sebagai pribadi yang tegas, sama sekali bertolak belakang dengan kondisi difabel seluruh anggota badannya, tangan dan kaki. Dibalik kursi rodanya, Ratna secara faktual bertindak sebagai pemimpin dan benar-benar disegani. Seperti karakter dalam cerpen dan novelnya, yang umumnya mengisahkan perempuan yang sedang berjuang menghadapi proses subordinasi yang sedang dihadapi karakternya.
 
Lahir di Malang, Jawa Timur, 24 April 1949. Anak kelima dari 10 bersaudara ini mengaku bahwa bakat mengarangannya menurun dari simbah buyutnya yang menjadi pawang cerita di Minang. Pada sekitar usia tigabelas tahun ia mengalami penyakit rachitis (radang tulang) yang mengakibatkan Kedua kaki dan tangannya tidak berfungsi, sehingga ia harus duduk di atas kursi roda. Keterbatasan fisik seperti ini bukan menjadi hambatan baginya untuk mengembangkan pribadinya.
                  
Pernah berkuliah di Fakultas Ilmu Alam Universitas Brawijaya, Malang, namun tidak ia rampungkan. Dalam proses kepenulisannya, ia banyak mendapat inspirasi dari historiografi, yakni menceritakan kejadian-kejadian masa lampau, baik berunsur sejarah atau legenda. Namun karena cacat fisik yang tidak memungkinkan dia menulis langsung, ia hanya mendiktekan kepada para asistennya untuk mengetik, baru kemudian merevisinya.
 
Dengan perjuangan teknis seperti itulah cerpen dan novelnya lahir, dan memiliki karakter yang sangat khas dengan kewanitaannya. Karyanya antara lain : berupa kumpulan cerpen yang di muat dalam antologi Kado Istimewa (1992), Pelajaran Mengarang (1993), Lampor (1994), Laki-Laki yang Kawin dengan Peri (1995), Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan (1997), Lakon Di Kota Senja (2002) dan Waktu Nayla (2003).
 
Kumpulan cerpennya yang lain : Aminah di Suatu Hari, Menjelang Pati (1994), Namanya Masa (2000) dan Sumi dan Gambarnya (2003). Karya-karya cerpennya tersebut banyak dimuat di berbagai media massa seperti Kompas, Horison, Basis, Suara Pembaruan, Kartini, Sarinah, Jawa Pos dan banyak lagi. Ia juga menerbitkan novel yaitu Bukan Pinang Dibelah Dua (2003) dan Lemah Tanjung (2003).
 
Atas peran aktifnya dalam dunia sastra, tercatat beberapa kali ia meraih beberapa penghargaan, antara lain, tiga kali berturut-turut cerpennya masuk dalam antologi cerpen pilihan Kompas (1993-1996), cerpen pilihan harian Surabaya Post (1993) serta juara tiga lomba penulisan cerpen dan cerbung majalah Femina (1996-1997). Karyanya juga terpilih masuk dalam Antologi Cerpen Perempuan ASEAN (1996).
 
Disamping rajin menulis, sejak 1977 dia juga aktif menjadi ketua Yayasan Bhakti Nurani Malang dan Direktur I LSM Entropic Malang (1991). Karena aktivitas sosialnya inilah dia mendapat kesempatan mengikuti berbagai seminar internasional, seperti Disable People International di Sydney, Australia, (1993), Kongres Internasional Perempuan di Beijing, RRC (1995), Leadership Training MIUSA di Eugene Oregon, Amerika Serikat (1997), Kongres Perempuan Sedunia di Washington DC, Amerika Serikat (1997), serta pernah mendapat predikat Wanita Berprestasi dari Pemerintah RI (1994).
 
Tahun 2001, ia membentuk Forum Kajian Ilmiah Pelangi yang bermarkas di rumahnya, Jl. Diponegoro 3.A Malang, Jawa Timur. Forum ini mampu menjadi oase, kantong budaya, karena mengakomodasi berbagai elemen masyarakat dalam diskusi persoalan aktual setiap bulannya. Akhir 2010 lalu, Ratna dikunjungi sejarawan asal Belanda, Dr Harry Poeze, periset empat dekade sejarah Tan Malaka, tokoh perintis kemerdekaan. Selain mengunjungi Ratna, Harry juga menggelar diskusi tentang kisah hidup Tan Malaka yang ternyata pernah berada di Malang, di ruang tamu rumahnya.
 
Pada hari Senin, 28 Maret 2011, pukul 09.55 wib, cerpenis, novelis dan budayawan in wafat dalam usia 61 tahun di RSU Dr. Syaiful Anwar, Malang, Jawa Timur, akibat stroke yang kesekian kalinya komplikasi dengan penyakit jantung dan paru-paru. Jenazah disemayamkan di rumah duka Jalan Diponegoro 3, Kelurahan Klojen, Kecamatan Klojen, dan dimakamkan keesokan harinya di TPU Samaan, Kelurahan Samaan, Kecamatan Klojen.
 
(Dari Berbagai Sumber) 
 
 

You may also like...

Leave a Reply