Ratna Riantiarno

Nama :
Ratna Karya Madjid
 
Lahir :
Manado, Sulawesi Utara,
23 April 1952
 
Pendidikan :
SD Sumbangsih, Jakarta
 (1958-1964),
SMPN 1 Cikini, Jakarta
(1964-1967),
SMAN 3 Jakarta (1967-1970),
Akademi Sekretaris ISWI Jakarta (1970-1971)
 
Aktifitas Seni :
Bergabung dengan sanggar tari Yasa Sedaya (1968),
Bergabung dengan sanggar tari Yayasan Seni Budaya Saraswati (1969),
Bergabung dengan Teater Kecil pimpinan Arifin C. Noor (1969),
Menjadi Manajer pelaksana Indonesia Modelling Agency (1976-1978)
Mendirikan Teater Koma (1977),
Ketua Dewan Kesenian Jakarta (1993-2004),
Aktif di Forum Apresiasi Seni pertunjukan yang didanai Ford Foundation (1997-2007)
 
Karier :
Penari tetap di restoran Ramayana, New York, Amerika Serikat (1975-1976),
Bekerja di PT Chubb Lips Indonesia (1980-1987),
Bekerja di Majalah Pertiwi (1987-1988)
 
Pencapaian :
Juara I tari Bali se DKI,
Memperoleh grant dari pemerintah Amerika Serikat untuk kunjungan budaya selama sebulan dalam program The Role of Theatre in US Society (2000),
Golden Music Theatre Award dari yayasan Pendidikan Music (2002),
Penghargaan Femina kategori Wanita Berprestasi di Bidang Seni Teater (2007),
Tupperware She-Can Award sebagai wanita berprestasi di bidang Seni Teater (2011),
Pemeran Pembantu Wanita Terpuji dari Festival Film Bandung (2011),
Piala Vidia kategori Pameran Utama Wanita Terbaik dalam sinetron Pahala Terindah  – Festival Film Indonesia (2012),
Pemeran Pembantu Wanita Terpuji Festival Film Bandung lewat film Get Married 3 (2012),
Anugerah Seni dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (2013),
Penghargaan Akademi Jakarta (2014)   
 
Filmografi :
Jakarta-Jakarta (1977),
Petualang-Petualang (1978),
Jangan Ambil Nyawaku (1981),
Seputih Hatinya Semerah Bibirnya (1981),
Djakarta 1966 (1982),
Ponirah Terpidana (1983),
Akibat Buah Terlarang (1984),
Opera Jakarta (1985),
Seputih Kasih Semerah Luka (1988),
Ketika Senyummu Hadir (1991),
Cemeng 2005 (1995),
Petualangan Sherina (1999),
Brownies (2004),
Suster N (2007),
Perempuan Punya Cerita (2007),
Rindu Purnama (2011),
Get Married 3 (2011),
Test Pack You’re My Baby (2012),
Habibie & Ainun (2013),
Laura & Marsha (2013),
Jokowi (2013) 
 
Sinetron :
Pondok Pak Jon (1993-1995),
Onah dan Impiannya (1994),
Ali Topan Anak Jalanan (1997),
Kupu-Kupu Ungu (1998),
Serpihan Mutiara Retak (1998),
Opera Salon (2001),
Cinta Terhalang Tembok (2002),
Komedi Nusa Getir (2003),
Kejar Kusnadi (2006),
Kabaret : Gado-Gado Politik (2008),
Cinta Bersemi Di Kebun The (2011)
Pahala Terindah (202) 

Seniman Teater
Ratna Riantiarno
 
 
 
Bicara soal seni sepertinya tak habis-habisnya dikupas oleh salah satu tokoh teater yang bershio naga air ini. Umur memang tak membatasi orang untuk mencipta, berkarya ataupun menikmati seni. Perjalanan seninya dari awal hingga saat ini, ternyata berawal pada kecintaannya pada dunia tari, khususnya tari Bali.
 
Saat ia masih duduk di kelas 2 SD, ia sudah tertarik dengan dunia tari ini sampai akhirnya ia pun tertarik untuk belajar tari tersebut saat baru kelas 3 SD. Barulah saat ia belajar menari dan bahkan mulai sering menari di mana-mana bahkan sempat ke luar negeri untuk memperkenalkan kesenian Indonesia, secara tak sengaja, ia mulai tertarik dengan kegiatan sebuah teater. Tepatnya saat itu adalah Teater Kecil pimpin oleh Arifin C. Noer.  Melihat keunikan cara berteater, dimulai dari cara mereka harus berteriak-teriak, meditasi dan lain sebagainya membuatnya juga tertarik untuk ikut serta belajar seni teater. Maka belajarlah ia di teater tersebut. Bahkan di seni teater inilah, ia bertemu dengan suaminya yang saat itu menjadi anggota kelompok teater Teguh Karya.
 
Karena mulai tumbuhnya dunia film, maka banyak orang yang tadinya berkecimpung di dunia teater beralih ke dunia film, sehingga dirasanya bersama suami dunia teater sepi. Karena itulah, bersama suami dan teman-temannya ia memberanikan diri mendirikan Teater Koma pada tahun 1977. Dinamakan Koma karena dengan harapan tak akan pernah berhenti. Konsekuen dengan keinginannya ini, ia juga berujar kalau Teater Koma selalu berusaha manggung setidaknya dalam setahun dua kali. Bersama suaminya, ia pernah berkeliling dunia, hingga menetap selama dua tahun di New York, Amerika Serikat.
 


Teater Koma ‘DEMONSTRAN’ (2014)

Meski ia sangat mencintai dunia teater, orangtuanya kurang menyetujui perjalanan seninya tersebut. Namun, merasa mampu untuk berdiri sendiri, Ia-pun tetap berkarir dan bekerja seperti layaknya orang kebanyakam, menjadi salah satu tenaga penjualan di Toyota Astra. Ini dlakukan agar ia tetap bisa berteater dan tetap bisa punya uang sendiri sehingga tak bergantung pada orang tua. Namun, kecintaannya pada dunia tari pun tak pupus, Ia-pun tetap meneruskan kecintaannya tersebut dengan ikut menjadi penari di New York, Amerika Serikat, tahun 1975.
 

 
Di sanalah ia banyak melihat bagaimana teater menjadi salah satu seni yang bisa menghidupi orang-orang yang berkicimpung didalamnya. Bahkan seni teater-pun tak hanya diminati untuk ditonton, namun juga menjadi salah satu pelajaran disekolah-sekolah. “Kalau dibandingkan”, menurutnya, “Tiket pertunjukan teater di Jakarta dengan disana sungguh sangat berbeda, misalnya disini sekitar Rp. 100.000,- sedangkan di sana teater di suatu sekolah bisa mencapai US$. 200,- Tetapi semangat anak-anak di sana tak berkurang malah merekapun dengan tekun mau menabung untuk membeli tiket”, katanya. “Sayangnya”, menurut Ratna lagi, “Ini tidak seperti di Indonesia. Saat ini kehidupan teater di Indonesia sulit”.   
 
Karena peminatnya kurang, penonton Indonesia kurang terapresiasi dengan kesenian nasional secara umum dan khususnya seni teater. Sehingga para pekerja teater pun tak bisa mengandalkan hidupnya hanya dengan berteater saja. Namun, hal ini bukan menjadi halangan buatnya, meski ia sempat tidak disetujui karena kesukaannya pada dunia seni, ia tetap menekuninya sambil bekerja untuk membiayai kebutuhan hidupnya. Ini untuk membuktikan pada orang tuanya bahwa ia bisa tetap menekuni dunia seni tanpa tergantung orang lain.
 
Dengan ketekunannya itulah ia mantap menjalani dunia seni. Bahkan, ia juga ingin menulari kesenangannya pada generasi muda. Prihatin dengan minimnya ketertarikan generasi muda pada seni tradisional, di tahun 2002, ia menjadi Ketua Dewan Seni, sebuah organisasi yang didukung oleh Ford Foundation yang bernama Apresiasi Seni Pertunjukan. Organisasi inilah yang mempunyai tujuan idealis, yaitu memperkenalkan seni ke genarasi muda. Tujuan yang sederhana, namun tidak mudah. Mulai dari penolakan dari pengurus sekolah hingga kesiswanya secara langsung. Dengan keseriusannya, tak terasa generasi muda mulai menunjukkan ketertarikannya kepada seni.
 
Menurut ibu dari 3 orang anak lelaki ini (Satria Rangga Buana, Rasapta Candrika, Gagah Tridarma Prastya), sangat bahagia melihat mereka yang tadinya tidak perduli perlahan tertarik, dari yang tidak sama sekali sampai akhirnya mulai handal untuk berkreasi. Menurutnya lagi, dengan belajar berteater pun mereka belajar bagaimana berorganisasi, balajar dari yang tidak ada menjadi ada. Mulai dari hal-hal kecil soal teknis panggung sampai penyuguhan acara hingga mulainya sebuah acara diapresiasikan pada penonton. Apresiasi seni, itulah kiranya yang diusahakan olehnya. Berusaha agar semakin banyak orang terapresiasi akan seni dan bahkan tidak hanya menjadi penikmat seni tetapi juga menjadi pelakon seni. Untuk itu hal ini, tak jemu-jemunya ia berusaha dan melakoninya untuk seni.
 
(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...