Ratna Sarumpaet


Seniman Teater
Ratna Sarumpaet
 
 
 
Lahir di Tarutung, Sumatera Utara, 16 Juli 1949. Lahir dari pasangan aktifis di eranya. Ayahnya, Saladin Sarumpaet, adalah Menteri Pertanian dalam PRRI/Permesta dan pendiri sekaligus sekjen Partai Kristen Indonesia/Parkindo pertama. Ibunya, Julia Hutabarat, adalah salah satu dari sedikit perempuan yang duduk sebagai anggota Konstituante dan merupakan tokoh penting pergerakan perempuan Tapanuli.
 
Sempat berkuliah di Fakultas Teknik Arsitektur, Universitas Kristen Indonesia/UKI selama 6 semester dan memutuskan untuk memilih teater sebagai pilihan kariernya. Tahun 1969, ia memutuskan keluar dari Fakultas Teknik Arsitektur, Universitas Kristen Indonesia, ia memilih teater sabagai jalan hidupnya.  Belajar berteater selama 10 bulan di Bengkel Teater Rendra dan selanjutnya ia belajar sendiri, sempat juga ia diizinkan oleh Teguh Karya (alm) untuk mengintip beberapa proses latihan Teater Populer.  
 
Mendirikan kelompok Teater Satu Merah Panggung di tahun 1974 bersama suaminya Achmad Fahmy Alhady. Tiga karya yang disutradarai olehnya di awal karier sebagai seniman teater adalah Rubayat Umar Khayam (1974), Romeo dan Juliet (1975) dan Hamlet (versi batak, 1986). Ia Banyak menulis naskah drama, naskah-naskah tersebut kemudian dipentaskan keliling kota, provinsi dan di mancanegara. Ia pernah aktif dalam dunia televisi dan film sebagai penulis skenario dan sutradara. Pernah bekerjasama dengan MGM, Los Angeles, Amerika Serikat sebagai editor film produksi kerjasama Amerika Serikat dan Indonesia.
 

Sejak tahun 1984 s/d sekarang, ia sering diundang untuk berbicara dalam berbagai kegiatan seni budaya di luar negeri. Antara lain pada kongres International Woman Playwright II di Adelaide, Australia tahun 1994, menjadi pembicara pada 4th International Woman Playwright Center di Galway, Irlandia, 1997. Pada tahun yang sama diundang melakukan presentasi tentang naskah-naskah drama yang ia tulis di Jerman dan Inggris. Ia juga memberikan pidato di Gedung Palais de Chaillot pada Peringatan 50 tahun Hak Azasi Manusia Sedunia (1998) bersama Dalai lama dan Ramos Horta pada acara yang dihadiri dan diundang khusus oleh Perdana Menteri Perancis, Lionel Jospin. Panitia peringatan ini, Amnesty International, juga mengukuhkannya dalam sebuah film dokumenter Les Derniers Prisonniers de Soeharto (The Last Prisoner of Soeharto) dengan sineas Bernard Debord yang ditayangkan di Stasion Televisi Arte di Prancis dan Jerman dan beberapa negara berbahasa Prancis lainnya. Film ini mengabadikan perjalanannya sebagai pejuang Hak Azasi Manusia.  
 


Titik Terang/Sidang Rakyat Dimulai (2013)

 
Memperoleh penghargaan Female Human Rights Special Award dari The Asia Foundation for Human Rights di Tokyo, Jepang (1998). Diundang oleh PEN International sebagai pembicara pada Sydney Writer Festival, Australia, dengan judul bahasan Dare to Speak Up. Juga hadir sebagai pembicara pada Writer In Prison-PEN International di Khatmandu, Nepal, pada 2000. Di tahun yang sama majalah sastra terkemuka di Amerika Serikat, MANAO, menerbitkan sebagian dari Marsinah Menggugat dalam sebuah buku sastra edisi musim panas. Karya monolognya Marsinah Menggungat ini secara tidak langsung menggiringnya ke Penjara orde Baru (1998). Namun karya monolog ini berhasil membuat kasus Marsinah dan namanya menjadi perhatian dunia. Marsinah Menggugat sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa dan hingga kini masih menjadi langganan pentas drama May Day di berbagai negara di dunia.    
 
Silent Voices mengundangnya melakukan presentasi di Washington, Los Angeles, Madison, New York dan Hawaii, Amerika Serikat. Pada saat yang bersamaan, ia menjadi tamu Pemerintah Amerika Serikat mengunjungi beberapa Negara Bagian di Amerika Serikat sebagai tokoh reformasi dan demokrasi Indonesia. Atas undangan dari Woman Playwright International, ia hadir sebagai panelis dalam 5th International Woman Playwirght Conference pada tahun 2000. Pada tahun yang sama pula, PEN International mengundangnya untuk menjadi pembicara pada The 2nd Conference For Asia Women And Theater di Philipina. Naskahnya, Marsinah Menggugat, dipentaskan di puluhan negara di dunia oleh berbagai kelompok teater professional, dan dalam setiap pementasannya, ia hadir sebagai pembicara.
 
Ia juga mendirikan berbagai organisasi koalisi untuk demokrasi dan reformasi, antara lain : Siaga, Koalisi Nasional Untuk Demokrasi, Jejak dan lain sebagainya. Karena sikap kritis dan karya-karyanya, ia sempat di penjara oleh rezim Orde Baru pada 10 Maret-20 Mei 1998 atas tuduhan makar. Selain berteater, bersama Satu Merah Panggung, ia aktif dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan dan mendirikan Ratna Sarumpaet Crisis Centre. Tak mengherankan memang apabila melihatnya lebih dikenal sebagai aktivis. Tidak ada kata kapok dalam dirinya. Hidup baginya perjuangan dengan segala resikonya. Ia berkeyakinan, kesenian harus tumbuh. Kesenian adalah satu corong yang bisa digunakan untuk proses demokrasi.
 
Menikah dengan Achmad Fahmy Alhady di awal tahun 70-an. Setahun setelah pernikahannya, dua minggu sebelum kelahiran anak pertamanya, puteri pejabat penting Dewan Gereja Indonesia ini memutuskan untuk memeluk Islam. Dikaruniai 4 orang anak, Mohammad Iqbal, Fathom Saulina, Ibrahim dan Atiqah Hasiholan, serta dikaruniai 5 cucu laki-laki.
 
(Dari Berbagai Sumber)
 
 

Nama :
Ratna Sarumpaet
 
Lahir :
Tarutung, Sumatera Utara,
16 Juli 1949
 
Pendidikan :
Fakultas Tehnik Arsitektur  Universitas Kristen Indonesia/UKI Jakarta
 (tidak tamat),
 
Aktifitas Lain :
Pendiri Teater Satu Merah Panggung (1974),
Penulis skenario dan Sutradara (1977-1987),
Ketua Dewan Kesenian Jakarta  (2003-2006),
Pendiri beberapa organisasi koalisi untuk demokrasi dan reformasi (Siaga, Koalisi Nasiona Untuk Demokrasi, Jejak),
Pendiri Ratna Sarumpaet Crisis Centre
 
Pencapaian :
Female Human Rights Special Award dari The Asia Foundation For Human Rights di Tokyo, Jepang (1998),
Film Jamila & Sang Presiden Meraih Penghargaan The Network for the Promotion Asian Cinema dalam Festival Film Asiatica Mediale, Roma, Italia (2009),
Penulis Skenario Terbaik Festival Film Bandung 2010
 
Karya Karya Teater:
Rubayat Umar Khayam (1974),
Dara Muning (1993),
Marsinah : Nyanyian dari Bawah Tanah (1994),
Terpasung (1996),
Pesta Terakhir, (1996)
 Marsinah Menggugat (1997),
ALIA, Luka Serambi Mekah (2000),
Anak-Anak Kegelapan (2003),
Pelacur dan Presiden (2003),
Titik Terang/Sidang Rakyat Dimulai (2013)
 
Filmografi :
Jamilla dan Sang Presiden (Sutradara, 2009) 
 
Novel :
Maluku Kobaran Cintaku (2010)

You may also like...