Remy Sylado

Seniman Teater
Remy Sylado
 
 
 
Namanya biasa juga ditulis dengan angka 23761. Angka itu diambilnya dari chord pertama lirik lagu All My Loving karya The Beatles. Angka tersebut juga dibuat berdasarkan pengalamannya pada tanggal 23 bulan 7 tahun 1961, saat ia pertama kali ia mencium wanita. Angka itu kemudian dipakai pula untuk kelompok teater yang ia bentuk di Bandung ‘Dapur Teater 23761’.
 
Bernama asli Jubal Anak Perang atau disingkat Japi Tambayong. Remy Sylado adalah seniman komplit. Ia menulis puisi, novel, drama, esai. Ia juga berkecimpung dalam seni musik, seni rupa, dan terutama seni teater. Selain itu, ia juga sering tampil dalam sinetron-sinetron Indonesia. Sesuatu yang khas dari Remy Sylado adalah ia menyenangi warna putih. Ia sering tampil dengan pakaian serba putih, bahkan sepatu, ikat pinggang, topi, dan mobilnya pun berwarna putih.
 
Memuali kariernya sebagai wartawan majalah Tempo, sebelum menjadi redaktur harian Tempo, Semarang (1965) dan redaktur Aktuil (1970-1975). Seiring kesibukannya di majalah Aktuil, ia mengajar di Akademi Sinematografi Bandung (1971) untuk mata kuliah estetika, make-up, dan dramaturgi. Menguasai bahasa Arab, Ibrani, Mandarin, dan Yunani di Seminari Theologia Baptis, Semarang. Pernah menjadi Ketua Teater Yayasan Pusat Kebudayaan Bandung (1977).
 
Mulai bermain drama ketika masih SD di Semarang. Awal tahun 1980-an, Remy membentuk grup drama padepokan teater di Jakarta yang sebagian anggotanya adalah mantan anggota bengkel teater Rendra. Baginya, teater hanya upaya untuk bisa berfikir kritis dan rasional. Penghasilannya dari teater dimanfaatkan untuk menunjang kehidupan para anggotanya yang bermarkas dirumahnya, sebuah rumah panggung gaya Manado di Kavling PLN Cipinang Muara, Jakarta Timur.     
 
Pelopor ‘puisi mbeling’ (puisi yang sifatnya memprotes tetapi melalui pengungkapan yang sederhana, lucu dan penuh sindiran) ini juga dikenal sebagai seorang penulis. Sejak tahun 1970-an, Remy telah menghasilkan 50-an novel, 20 diantaranya novel anak-anak dan 30-an naskah drama. Kecuali itu, ia juga menulis buku Dasar-Dasar Dramaturgi (Prima, Bandung) Mengenal Teater Anak (Pondok Pers, Jakarta) dan Menuju Apresiasi Musik (Angkasa, Bandung).  Sampai dengan era 90-an, ia lebih banyak menulis novel, terutama novel-novel sejarah yang dilakukannya dengan sungguh-sungguh melalui riset yang mendalam. Bahkan untuk novel Paris van Java, ia melakukan riset ke perpustakaan di Utrecht, Belanda.
 
Dikenal juga sebagai seorang musisi. Lagu-lagu karyanya bercorak folk, rock, country dan dixie yang memang berbeda dengan musik pop Indonesia umumnya. Sampai awal 1985, Remy telah menghasilkan 13 album kaset. Tidak semua lagu ia nyanyikan sendiri, beberapa di antaranya dibawakan oleh penyanyi lain. Ia juga dikenal sabagai pelukis dan sering ikut pameran bersama. 
 
(Dari Berbagai Sumber)
 
 

Nama :
Yapi Panda Abdiel Tambayong /Jubal Anak Perang
 
Nama Samaran :
Remy Sylado,
Dova Zila,
Alif Danya Munsyi
 
Lahir :
Malino, Makasar,
Sulawesi Selatan
12 Juli 1945
 
Aktifitas Lain :
Wartawan Harian Tempo, terbit di Semarang, Jawa Tenga awal 1960-an,
Mendirikan Dapur Teater di Bandung, Jawa Barat (1969),
Redaktur Majalah Aktuil
 (1970-1975)
 
Pendidikan :
Akademi Kesenian Surakarta, Akademi Teater Nasional Indonesia (Solo),
 Akademi Bahasa Asing (Jakarta)
Belajar melukis di HBS Solo (1962)
 
Karya Novel (diantaranya):
Gali Lobang Gila Lobang (1977),
Kita Hidup Hanya Sekali (1977),
Orexas, dasar-dasar Dramaturgi
(studi/kajian 1981),
Cau-Bau Kan (1999),
 Kerygma
(Kumpulan Sajak 1999),
 Kembang Jepun (2003),
 Paris Van Java (novel 2003),
Sam Po Kong- Perjalanan Pertama (2004),
Kerygma dan Martyria (2004),
Boulevard De Clichy : Agonia Cinta Monyet (2006),
Pangeran Diponegoro : Menggagas Ratu Adil Jilid 1
(Novel, 2007),
Kamus Bahasa dan Budaya Manado (2007)
Menggagas Ratu Adil Jilid 2
(Novel, 2008),
Jalan Tamblong (Kumpulan Drama Musik, 2010),
Hotel Pro Deo (2010),
Sebuah Libretto
Sang FX,
Namaku Mata Hari (2010),
123 Ayat Tentang Seni (2012)
 
Karya Seni Akting :
Catatan-catatan Dasar Seni kreatif Seorang Aktor
(studi /kajian, 2000),
 Siau Ling (drama 2001), Kerudung Merah Kirmizi (2002)
 
Filmografi :
Pelarian (1973),
Dua Kribo (1977),
Mawar Cinta Berduri Duka (1981),
Tinggal Sesaat Lagi (1986),
Akibat Kanker Payudara (1987),
Dua Dari Tiga Laki-Laki (1989),
Blok M (1990),
Taksi (1990),
Gadis Metropolis (1992)
Bulan Diatas Kuburan (2015),
 
Sinetron :
Siti Nurbaya (1994),
Mahkota Majapahit (1994),
Bunga Sutra (1997)
 
Pecapaiann :
Piagam Apresiasi dari Walikota Surakarta (1989),
Novel Kerudung Merah Kirmizi memenangkan Khatulistiwa Literary Award (2002),
Anugerah Indonesia (2003),
Aktor Terpuji Festival Film Bandung (2003),
Museum Rekor Indonesia (2004),
Satya Lencana Kebudayaan RI (2004)
Karya Terbaik Pusat Bahasa dari Kementeran Pendidikan Nasional (2006),
Piagam Apresiasi dari PAPPRI (2006),
Piagam Apresiasi dari Gubernur DKI (2007),
One Man One Tree (2008),
Tirto Adhi Soerjo Award (2008),
Braga Award (2009),
Kartu Pers Nomer Satu (2010),
Achmad Bakrie Award (2013)

You may also like...