Rhoma Irama

Nama :
Irama

Lahir :
Tasikmalaya, Jawa Barat,
11 Desember 1946

Pendidikan :
Universitas 17 Agustus, Jakarta (tidak selesai)

Aktifitas Lain :
Anggota DPR/MPR-RI
(1997-2002),
Ketua PAMMI,
Ketua AHDCI,
Anggota Komisioner Lembaga Manajemen Kolektif Nasional/LMKN pencipta

Pencapaian :
Gelar Indonesian Rocker dari majalah Entertainment, Amerika Serikat (1992),
Albumnya mendapat predikat A+ yang sangat istimewa dari majalah Entertainmant, Amerika Serikat (1992),
The South East Asia Superstar Legend, di Singapura (2007), Lifetime Achievement Award Anugrah Musik Indonesia (2007),
Dangdut Awards (2007)
Penghargaan
11 Golden Record,
Namanya diabadikan sebagai nama piala untuk 6 kategori permainan instrumen musik Dangdut,
Pencipta lagu Dangdut terlaris yang telah menciptakan lebih dari 500 lagu Dangdut,
Professor Honoris Causa dari Northern California Global University dan dari American University of Hawaii
(Amerika Serikat),
Anugerah Bhakti Musik Indonesia dari PAPPRI (2012),
PKS Award (2012)

Diskografi :
Begadang (1973),
Ke Bina Ria (1974),
Dangdut (1974),
Joget (1975),
Penasaran (1976),
Hak Asasi (1977),
Pemilu (1977),
Gitar Tua Oma Irama (1977), Berkelana (1978),
Rupiah (1978),
Begadang (1978),
Viva Dangdut (1990),
Janda atau Perawan
(duet dengan Elvy Sukaesih),
Penasaran
(duet dengan Elvy Sukaesih),
Hak Asasi (1977),
Sumbangan (1980),
Judi (1980),
Indonesia (1982)

Filmografi :
Oma Irama Penasaran (1976),
Gitar Tua Oma Irama (1977),
Darah Muda (1977),
Rhoma Irama Berkelana I (1978),
Rhoma Irama Berkelana II (1978),
Begadang (1978),
Raja Dangdut (1978),
Cinta Segitiga (1979),
Camelia (1979),
Perjuangan dan Doa (1980),
Melody Cinta Rhoma Irama (1980),
Badai di Awal Bahagia (1981),
Satria Bergitar (1984),
Cinta Kembar (1984),
Pengabdian (1985),
Kemilau Cinta di Langit Jingga (1985),
Menggapai Matahari (1986),
Menggapai Matahari II (1986),
Nada-Nada Rindu (1987),
Bunga Desa (1988),
Jaka Swara (1990),
Nada dan Dakwah (1991),
Tabir Biru (1994),
Dawai 2 Asmara (2010),
Sajadah Ka’bah
(Sutradara, 2011)

Musisi
Rhoma Irama

Terlahir dengan nama Irama, pemberian sang ayah yang kagum atas kelompok sandiwara Irama Baru yang pernah menghibur pasukan pimpinan ayahnya. Namun sejak kecil ia sering dipanggil Oma. Anak kedua dari empat belas bersaudara, putra dari pasangan Raden Burdah Anggawiya dan Tuti Juariah ini di lahirkan di Tasikmalaya, Jawa Barat, 11 Desember 1946.

Sejak kecil, ia sudah menunjukkan bakatnya dalam bidang bermusik. Bakatnya menurun dari ayahnya yang dikenal mahir bermain suling dan menyanyikan lagu-lagu Cianjuran. Pamannya, Arifin Ganda, juga turut andil dengan memperkenalkan lagu-lagu Jepang saat ia masih kecil. Salah satu prestasi musiknya yang cukup menonjol saat masih kecil adalah ketika ia menarik perhatian seorang musisi senior, Bing Slamet (alm), saat membawakan sebuah lagu barat pada pesta di sekolahnya. Karena itulah, di saat ia masih duduk di kelas 4 SD, Bing Slamet membawanya untuk tampil pada sebuah pertunjukan di Gedung Serikat Buruh Kereta Api (SBKA).

Pada waktu bersekolah di SMP, ia mulai serius bermusik dengan membentuk band Tornado, lalu bergabung dalam band Gayhand tahun 1963. Tak lama kemudian, ia pindah masuk Orkes Chandra Leka, sampai akhirnya membentuk band sendiri bernama Soneta yang dibentuknya pada 13 Oktober 1973 dengan beranggotakan delapan personel.

Bersama Soneta Group, ia sukses merombak citra musik dangdut (orkes melayu), yang tadinya dianggap musik pinggiran menjadi musik yang layak bersaing dengan jenis-jenis musik lainnya. Ia pun mencanangkan semboyan ‘Voice of Moslem’ (Suara Muslim) yang bertujuan menjadi agen pembaharu musik melayu yang memadukan unsur musik rock dalam musik melayu serta melakukan improvisasi atas aransemen, syair, lirik, dan kostum

Keseluruhan aspek pertunjukan orkes melayu pun kemudian turut dirombaknya, mulai dari penggunaan instrumen akustik yang digantinya dengan alat musik elektronik modern, pengeras suara TOA 100 Watt yang diganti dengan sound system stereo berkapasitas 100.000 Watt, pencahayaan dengan petromaks atau lampu pompa digantinya dengan lighting system dengan puluhan ribu Watt, begitu juga dengan koreografi serta penampilan yang lebih enerjik dan dinamis di atas panggung.

Dengan konsep ‘Voice of Moslem’ pula, lirik-lirik lagu Soneta senantiasa diisi pesan moral yang sarat nilai-nilai Islami. Ia percaya bahwa musik bukanlah sekedar sarana untuk hura-hura belaka, namun merupakan sebuah pertanggungjawaban kepada Tuhan dan manusia, dengan kekuatan untuk mengubah karakter seseorang, bahkan karakter sebuah bangsa.

Dalam berbagai kesempatan, bersama Soneta ia kerap di undang tampil di luar negeri seperti di Kuala Lumpur (Malaysia), Singapura dan Brunei, membawakan lagu-lagu hasil ciptaannya sendiri, seperti ‘Begadang’ (1973), ‘Ke Bina Ria’ (1974), ‘Joget’ (1975), ‘Penasaran’ (1976), ‘Hak Asasi’ (1977), ‘Gitar Tua Oma Irama’ (1977), ‘Berkelana’ (1978), ‘Rupiah’ (1978), dan beberapa lagu lainnya. Penampilannya di luar negeri tersebut, selalu di sambut hangat penggemarnya.

Ia semakin mengukuhkan predikat dangdut sebagai musik yang bisa diterima semua kalangan lewat lagunya ‘Viva Dangdut’ yang ia ciptakan tahun 1990. Duetnya dengan Elvy Sukaesih mengantarkan keduanya kepada puncak popularitas. Lagu-lagu mereka seperti ‘Janda Atau Perawan’ dan ‘Penasaran’ masih dikenal hingga saat ini. Bahkan, ia mendapat gelar Raja Dangdut, sementara Elvy yang menjadi Ratu Dangdut. Ia juga berhasil mewujudkan impiannya untuk berduet bersama penyanyi idolanya sedari kecil, seorang Mahabintang dalam dunia musik India yang telah menjual dua milyar rekaman, Latha Mangeshkar, yang namanya tercantum di Guinness Book of Records.

Tahun 1992, ia mendapatkan pengakuan dari dunia musik Amerika, saat majalah Entertainment edisi Februari mencantumkannya sebagai ‘Indonesian Rocker’. Album berisikan lagu ia mendapat ulasan sebagai alunan musik yang seolah datang dari planet lain, dan mendapatkan predikat A+ yang sangat istimewa. Terkadang ia berseberangan dengan pemerintah saat melakukan kritik sosial untuk menggugat kebijakan yang dianggapnya kurang sesuai dengan kaidah agama, seperti legalisasi PORKAS dan SDSB. Lagu-lagu seperti ‘Pemilu’ dan ‘Hak Asasi’ (1977), ‘Sumbangan’ dan ‘Judi’ (1980), serta ‘Indonesia’ (1982) sarat kritik dan sentilan, sehingga sempat diinterogasi pihak militer di era Orde Baru, dan dicekal tampil di stasiun TV.
Atas dedikasinya di bidang musik, penyanyi yang sempat berkuliah di Universitas 17 Agustus Jakarta ini, tercatat beberapa kali menerima penghargaan diantaranya menerima penghargaan ‘The South East Asia Superstar Legend’ di Singapura (2007), ‘Lifetime Achievement Award’ pada penyelenggaran perdana Anugrah Musik Indonesia (AMI) ‘Dangdut Awards’ (2007), pernah memperoleh 11 Golden Record dari kaset-kasetnya, namanya juga diabadikan sebagai nama piala untuk 6 kategori permainan instrumen musik Dangdut, serta mendapat predikat pencipta lagu Dangdut terlaris yang telah menciptakan lebih dari 500 lagu Dangdut. Kiprah dan dedikasinya juga diakui dunia, terbukti dengan gelar Professor Honoris Causa dalam bidang musik yang diterimanya dari dua universitas yang berbeda, Northern California Global University dan dari American University of Hawaii, keduanya dari Amerika Serikat.

Selain dikenal sebagai penyanyi, ia juga pernah bermain dalam beberapa judul film diantaranya ’Oma Irama Penasaran’ (1976), ‘Gitar Tua Oma Irama’ (1977), ‘Darah Muda’ (1977), ‘Rhoma Irama Berkelana I’ (1978), ‘Rhoma Irama Berkelana II’ (1978), ‘Begadang’ (1978), ‘Raja Dangdut’ (1978), ‘Cinta Segitiga’ (1979), dll. Lewat Film ‘Nada dan Dakwah’ (1991), ia juga mendapatkan nominasi aktor pemeran utama terbaik untuk FFI 1992.

Di luar dunia seni, ia yang setelah berhaji mengganti namanya dengan menambahkan gelar Raden dan Haji di depan namanya juga terlibat dalam dunia politik. Dimana semasa Orde Baru, ia sempat bergabung dengan salah satu partai politik, sebelum akhirnya terpilih sebagai anggota DPR/MPR-RI untuk periode 1997-2002. Kini ia masih tetap eksis bersama Soneta dan aktif memimpin PAMMI (Persatuan Artis Musik Melayu Indonesia) serta AHDCI (Asosiasi Hak Cipta Musik Dangdut Indonesia) yang didirikan untuk memperjuangkan hak atas pembagian royalti yang lebih baik untuk para pencipta musik Dangdut.

(Dari Berbagai Sumber)
 

You may also like...