Ristata Siradt

Nama :
Ristata Siradt

Lahir :
Laras, Simalungun,
Sumatera utara, 9 Juli 1932

Pencapaian :
Gelar Sastrawan Terbaik Sumatera Utara dari Dewan Kesenian Medan (1982),
Naskah drama garapannya yang berjudul Neraca dipentaskan secara kolosal pada penutupan MTQ Nasional XVII di Tebing Tinggi (1984)


Penulis
Ristata Siradt

Lahir di Laras, Simalungun, Sumatera Utara, 9 Juli 1932. Tumbuh dalam lingkungan keluarga buruh perkebunan tembakau, ayah dan ibunya berasal dari Jawa Timur. Saniman, ayahnya, berasal dari Ponorogo sedang ibunya, Giah, berasal dari Trenggalek. Ayahnya adalah seorang yang gemar memainkan gamelan dan ibunya pandai mengalunkan tembang-tembang Jawa. Kekentalan darah seni kedua orangtua itulah yang kemudian mengaliri buluh-buluh nadinya. Meski demikian, ia tidak begitu tertarik pada seni gamelan dan tembang Jawa. Ia justru lebih menyukai sobekan-sobekan Sumatera Shimbun, Koran lokal terbitan Pemerintah Pendudukan Jepang. Sejak saat itu, kepekaan Ristata pada sastra semakin terasah.

Sampai ia dewasa dan kemudian menjadi guru bahasa di SMP Negeri IV Tebing Tinggi, Sumatera Utara, kegemarannya pada sastra terus berlanjut. Tak sekadar menulis cerita pendek, novel ataupun drama, ia bahkan bergelut dengan potongan-potongan guntingan koran yang dikumpulkannya dari hari ke hari. Memang, telah sejak tahun 1950-an I gemar mengumpulkan aneka buku sastra dan guntingan koran tentang sastra. Dengan masa pengumpulan sekitar 50 tahun tanpa henti, bisa dibayangkan berapa banyak koleksi buku dan data sastra yang dimilikinya.

Selain sastra, ia juga mengumpulkan kliping beragam tulisan, baik itu tentang kritik seni, sejarah bahkan sampai politik, ikut di kumpulkannya. Kliping-kliping tersebut ia peroleh dari berbagai media seperti Kompas, Republika, Waspada, Analisa dan majalah seperti Horison. Berbagai pojok kota ia datangi untuk mendapatkan aneka kliping itu. Ada kalanya pula ia berburu aneka Koran di berbagai tempat. Koran, majalah dan kertas tersebut diusahakannya sendiri. Sedikit demi sedikit Koran dan majalah itu dibeli dengan sisa uang pensiunnya sebagai guru.

Dengan pisau silet yang sudah tinggal separuh, sebuah penggaris, satu set spidol aneka warna, serta sebotol lem kanji dan sebuah kuas, ia menekuni dunia klipingnya itu. Tulisan-tulisan itu kemudian ia tempel pada sehelai kertas buram, lalu ia jilid sendiri. Jilidan yang amat sederhana namun rapi itu kemudian ia simpan dalam tujuh lemari kayu yang sudah mulai keropos, di rumahnya yang terletak di Jalan Tengku Hasyim. Untuk memelihara agar jilidan dan bundelan itu tidak rusak, iapun mengikatnya dengan tali rafia.

Ia mengklasifikasikan bundel tulisan-tulisan itu menurut caranya sendiri. Ada bundel khusus tentang provinsi-provinsi di Indonesia. Selain itu ada pula bundel-bundel yang berisi kumpulan sajak dan cerpen karyanya dan penulis-penulis lain seperti Idrus, Pramoedya Ananta Toer, Mochtar Lubis sampai Danarto. Bahkan di kamar tidur, ia juga menyimpan tumpukan dan bundelan sebuah harian nasional yang belum sempat ia periksa. Sayang bundelan-bundelan itu sudah mulai lapuk dimakan usia dan ngegat.

Asil ketekunannya itu ternyata berguna bagi banyak kalangan seperti mahasiswa dan peneliti. Dalam seminggu, rata-rata tiga mahasiswa datang ke rumahnya mencari bahan skripsi. Tak hanya itu harta tak ternilai berupa aneka buku dan kliping itu juga mengundang banyak peneliti dari luar negeri. Pada awal September 2002 misalnya, seorang peneliti Malaysia, Abdur Razzaq Lubis dari Asian Public Intellectuals bahkan membutuhkan waktu berjam-jam mempelajari aneka kliping miliknya sebelum memutuskan untuk menfoto copy ratusan lembar naskah yang ada. Abdur Razzaq Lubis sengaja datang ke Tebingtinggi untuk mencari data dan tulisan tentang Mandailing.

Atas dedikasinya pada dunia sastra, tahun 1982, Dewan Kesenian Medan menganugerahinya gelar Sastrawan Terbaik Sumatera Utara. Lalu pada tahun l984, naskah drama garapannya yang berjudul Neraca dipentaskan secara kolosal pada penutupan MTQ Nasional XVII di Tebing Tinggi.

Hebatnya, meski kesastrawanannya diakui secara nasional, sampai akhir hayatnya ia tetaplah pribadi yang bersahaja dan murah hati. Bahkan pengabdiannya pada sastra dan dokumentasi tetap tak berkurang seperti kebiasaannya lari pagi yang juga tak pernah berhenti.

(Dari Berbagai  Sumber)

You may also like...