Roedjito

Nama :
Roedjito
 
Panggilan :
Mbah Djito
 
Lahir :
Purworejo, Jawa Tengah
21 Juni 1932
 
Wafat :
Jakarta, 26 September 2003
 
Pendidikan :
Fakultas Hukum Universitas Indonesia (tidak Lulus)
 
Profesi :
Skenografer
 


Seniman Lukis
Roedjito
                              
 
Dia adalah seorang tokoh terkemuka dalam jagat seni pertunjukan Indonesia. Seorang skenografer pertunjukan yang berperan besar di balik layar. Sebagai sutradara terkemuka pastilah Brecht cukup tergantung dan terbantu oleh penata panggungnya, meski tidak begitu jelas apakah dalam menulis sajak di atas sang penata pada panggung-panggung Brecht ikut menjadi bagian yang ia pikirkan atau tidak. Hampir dalam seluruh karier kesenimanannya, Roedjito selalu bekerja dan berada di temaram bahkan di gelap lampu-lampu panggung yang ia reka dan susun. Hampir tak ada teater modern Indonesia terkemuka yang panggungnya tak direka Roedjito. Kelompok-kelompok teater mulai Bengkel Teater Rendra sampai Satu Merah Panggung Ratna Sarumpaet, dari mulai Teater Mandiri Putu Wijaya sampai Teater SAE Budi S. Otong, pernah dipersiapkan tata panggungnya oleh Roedjito, seringkali dalam pementasan-pementasan mereka yang terbaik.
 

Lampu-lampu panggung mulai di nyalakan, dan Roedjito menghilang, hanya jejaknya, yakni garapan panggungnya, yang bertahan memberi ruang bagi peristiwa untuk dipergelarkan hingga lampu kembali padam diiringi tepuk tangan penonton. Baru setelah lampu-lampu kembali di padamkan, Roedjito akan kembali hadir ke tengah panggungnya. Tapi hampir mustahil menemukan Roedjito di bawah terang sorot lampu.
 

 
Mbah Djito megawali kiprahnya dalam latar kesenian, saat masih kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Ketika itu, ia bertemu dengan beberapa seniman, saperti sastrawan Asrul Sani, sutradara film Usmar Ismail dan pelukis Oesman Effendi. Bergaul dengan para seniman itu, membulatkan tekadnya untuk meningalkan bangku kuliah.
 
Kesederhanaan itulah prinsip mbah Djito dalam mengarungi samudera hidupnya. Tercermin nyata dari kondisi rumah yang dihuni, hanya seluas 2,5 x 3,5 meter persegi. Tapi dalam rumah kecil itu, bertumpuk tujuh ribuan buku dalam berbagai bahasa. Dia skenografer pertunjukkan terkemuka, yang memilih hidup sederhana. Baginya uang bukanlah segala-galanya. Ada atau tidak ada uang, dia selalu mengerjakan sesuatu dengan kesungguhan yang sama. Ia merupakan seniman berpenampilan bersahaja tetapi selalu memancarkan pikiran besar.
 
  (Dari Berbagai Sumber) 
 

You may also like...