Roestam Effendi


Penulis
Roestam Effendi
 
 
Lahir di Padang, Sumatera Barat, 13 Mei 1903. lahir dari pasangan Soelaiman Effendi dan Siti Sawiah. Ayahnya merupakan seorang fotografer, dan juga salah satu tokoh NIP (Nationalis Indische Partij). Mengenyam pendidikan dasar di Hollands Inlandsche School (HIS) di Padang. Setamat dari sekolah dasar, ia masuk Kweekschool (sekolah calon guru) di Bukittinggi. Setelah tamat, ia meneruskan ke Hogere Kweekschool voor Inlandse Onderwijzers (HKS), Sekolah Guru Tinggi untuk Guru Bumiputra di Bandung (1924), namun lulus. Ia kemudian menjadi guru kepala di Perguruan Islam Adabiah II di Padang. Sebagai guru kepala, ia merasa memiliki kemerdekaan untuk berbuat besar daripada rekan-rekannya yang bekerja pada pemerintah Belanda. Oleh karena itu, di samping bebas menulis, ia juga sempat terjun di dunia jurnalistik dan politik.
 
Ketertarikannya akan dunia sastra itu sendiri telah muncul sejak ia duduk di bangku sekolah. Ketika itu ia sudah banyak menaruh minat pada soal-soal kebudayaan dan pernah bercita-cita hendak memperbaharui dunia sandiwara yang saat itu lebih bersifat komedi stamboel. Keterikatannya pada soal-soal kebudayaan, khususnya sastra, disamping dibuktikan melalui kerajinannya membaca hasil-hasil kesusastraan Melayu, seperti hikayat, syair pantun, dan talibun juga melalui kegigihannya mempelajari kesusastraan Belanda dan kesusastraan asing lainnya. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika sewaktu masih muda ia sudah mengenal sastra asing, seperti karya Lodewijk V. Deysel, Helena Swart, Goner, Henriette Rolland Hoist, van der Schalk, Shakespeare, Dickens, dan Vondel. Semua itu kemudian dijadikannya sebagai pedoman untuk tulisan-tulisannya.
 
Pada masa awal kepengarangannya, dalam menulis ia sering menggunakan nama samaran ‘Rahasia Emas’, ‘Rantai Emas’ dan ‘Rangkayo Elok’. Nama-nama samaran itulah yang dipergunakannya dalam sajak-sajaknya yang dimuat oleh sebuah majalah di Padang, Asjraq. Salah satu Tokoh dalam pergerakan nasional sejak tahun 1920 ini, menerbitkan karya ‘Percikan Permenungan’ (kumpulan sajak, 1926). Beberapa karya sajaknya yang masuk dalam kumpulan sajaknya tersebut secara tidak langsung banyak yang anti kolonial. Pada tahun 1926, ia kembali membuat karya dalam bentuk drama yang terkenal sampai saat ini, ‘Bebasari’, yang juga memuat kritik terhadap kolonialisme Belanda. Bahkan naskah ini sempat dilarang oleh pemerintah Belanda ketika ingin dipentaskan oleh siswa MULO Padang dan para mahasiswa kedokteran di Batavia (Jakarta). Pelarangan itu disebabkan karena karya ini dianggap sindiran terhadap pemerintah Hindia-Belanda. Namun di kalangan para sastrawan, karya dramanya tersebut di anggap sebagai bentuk drama yang pertama dalam kesusastraan Indonesia modern.
 
Tahun 1928-1947 ia bermukim di Belanda, tinggal bersama kelompok Perhimpunan Indonesia (PI) yang diketuai Muhamad Hatta. Di PI, ia diperbantukan di redaksi dan administrasi majalah Perhimpuan Indonesia. Karirnya di PI terus menanjak, sehingga ia dipercaya untuk mengendalikan PI di Belanda bersama Abdul Madjid dan Setiadji. Aktifitas dan popularitasnya kemudian menarik perhatian Moskow, yang akhirnya melalui CPN (Partai Komunis Belanda) mencalonkannya untuk menjadi anggota Tweede kamer der Staten General (Majelis Rendah). Ia pun akhirnya resmi menjadi anggota dari CPN, yang mengantarkannya menjadi orang Indonesia pertama yang menduduki kursi di parlemen Belanda. Saat itu, ia tampil sebagai anggota termuda dari semua anggota Parlemen (1933-1946).
 
Selain aktif di politik, selama di Belanda, ia juga berhasil menempuh pendidikan di beberapa lembaga pendidikan keguruan, yakni, di Lagere Acte voor Onderwijs dan MO voor Ekonie, keduanya di Den Haag, Belanda. Hohe Schule für Journalistik, di Berlin, Jerman dan di Lenins Universiteit di Moskow. Di belanda ia juga sempat membuat karya dalam bahasa Belanda berjudul Van Moskow naar Tiflis: mijn reis door de nationale Sowjet-republieken van de Kaukasus (1937), Indonesia Vrij (1940), Recht voor Indonesië!: een beroep op democratisch Nederland (1937) dan Quo vadis Nederland? (Blaricum: Alcoholstichting Blaricum, 1945).
 
Tahun 1947, ia kembali ke Indonesia, wafat di Jakarta pada 24 Mei 1979.
 
(Dari Berbagai Sumber)
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Nama :
Roestam Effendi
 
Lahir :
Padang, Sumatera Barat,
13 Mei 1903
 
Wafat :
Jakarta, 24 Mei 1979
 
Aktifitas Lain :
Guru Kepala Perguruan Islam Adabiah II, Padang, Sumatera Barat,
Anggota kelompok Perhimpunan Indonesia,
Redaksi dan Administrasi Perhimpunan Indonesia,
Anggota Parlemen di Belanda (1933-1946)
 
Pendidikan :
Hollands Inlandsche School, Padang, Sumatera Barat,
Kweekschool/sekolah calon guru, Bukittinggi,
 Sumatera Barat,
Hogere Kweekschool voor Inlandse Onderwijzers/HKS (Sekolah Guru Tinggi untuk Guru Bumiputra di Bandung, 1924)
Lagere Acte voor Onderwijs Den Haag, Belanda,
MO voor Ekonie, Den Haag, Belanda,
Hohe Schule für Journalistik, Berlin, Jerman
 Lenins Universiteit,
Moskow, Rusia
 
Karya :
Percikan Permenungan (kumpulan sajak, 1926)
Bebasari (1926),
Van Moskow naar Tiflis: mijn reis door de nationale Sowjet-republieken van de Kaukasus (1937),
 Indonesia Vrij (1940),
 Recht voor Indonesië!: een beroep op democratisch Nederland (1937),
Quo vadis Nederland? 
(Blaricum: Alcoholstichting Blaricum, 1945)

You may also like...