Rudolf Puspa

Nama :
Rudolf Puspa Heruana
 
Lahir :
Solo, Jawa Tengah,
29 Juni 1947
 
Pendidikan :
SD Pangudiluhur Bruderan Purbajan Solo, Jawa Tengah,
(1953-1960),
SMP Bintang laut, Solo,
 Jawa Tengah (1960-1962),
SMA Negeri II, Margoyudan Solo, Jawa Tengah  (1962-1966),
Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI)
 
Karier :
Karyawan PKJ-TIM
 (1968-1971)
 
Aktifitas Berkesenian :
Mendirikan Studi grup Drama Jakarta (1967),
Bersama L.K Ara mendirikan Teater Balai Pustaka (1968),
Mendirikan Teater Keliling (1974)
 
Aktifitas Lain :
Menjadi pelatih taeter di SMAN 11, SMAN 3, LabSchool (1979),
Membina ekstra kurikuler teater (SMAN 21, SMAN 53, SMAN 59, SMAn 92, SMAn 103, SMK Taruna Bangsa (Bekasi), Labschool, SMA Regina Pacis, MTsN 6, MTsN, 20, MTsN 24, Jaya Suprana School of Performing Arts)
Melatih taeter anak di Istana Anak-Anak – TMII,
Melatih teater di Sabah (Malaysia),
Ketua Persatuaan Teater Anak-Anak se-DKi Jakarta (1992-1995),
Pembimbing Pelatiha Teater di Pusat Bahasa Depdiknas/badan bahasa (1999),
Membidani berdirinya Teater Guru di SMA 25 (2002) 
 
Karya :
Jing Jong(1978),
Para Topeng (1979),
Wayang /Dalang Siapa Dalang (1979),
Suara Kartini – Naskah Pendek (1982),
Ken Arok (1989),
Konser Raya (1991),
 Sang Limbah – Sang Limbah (1992),
Reketek-Reketek – Naskah Pendek (1979),
Konser Raya (1991),
 The Expression (1996),
Seminar Kaki Empat (2002),
Napak Tilas (2002),
Klinik Jiwa (2002),
Yang Muda Bicara (2004),
Sepotong Asa Kala Senja (2004),
Tukang Ketoprak (2004),
We Are the World (2004),
Ruang Perpus (2005),
Reog Ponorogo (2005),
Silaturahmi (2006),
Si Malin Kondang (2006),
Akhlak Mulia (2006),
Fragmen Labschool (2006),
Quran dan Koran
Jas Merah (2010)
 
Karya Tulis :
Sang Pioner (2012)
 
Pencapaian :
Penghargaan Lingkungan Hidup dari Kementrian Lingkungan Hidup,
Teater Keliling Mendapatkan Rekor MURI sebagai kelompok teater terbanyak melakukan pentas (2010)


Seniman Teater
Rudolf Puspa
 
 
 
 
Lahir di Solo, Jawa Tengah, 29 Juni 1947, anak sulung dari suami yang berprofesi sebagai guru SMP. Rekaman masa bayi yang didengar dari ayahnya serta masa kecil yang masih di ingat sangat mempengaruhi kepribadiannya, yakni : ibunya mendekap bayi kecil tengah malam berjalan melalui rel kereta api tampa takut desingan peluru serdadu Belanda; menuju rumah sakit untuk berobat. Ternyata tak ada dokter jaga dan rumah sakit gelap gulita namun sang ibu tabah mendampingi sang bayi menangis sakit hingga pagi.
 
Ketika harus mengungsi ke kota Ambarawa ia menangis harus berpisah dengan anjing kampung kesayangannya. Suatu hari bapaknya yang tidak berani dengan anjing nekat menggendong anjing anaknya yang lama hilang. Sang anak gembira melihat anjing dan keberanian bapaknya mengorbankan perasaan demi anaknya. Ibunya wafat ketika ia masih usia remaja yang butuh kasih ibu. ‘Kasih’ menjadi suatu pencarian hidupnya yang merupakan daya tahan hidupnya hingga kini. Bapaknya adalah panis dan banyak menulis lagu serta memiliki kelompok konser klasik kecil-kecilan serta cerita bahwa ibunya pemain drama komedi yang disenangi disekolah juga menambah bakat seni mengakir dalam dirinya begitu kuat. Semua rekaman masa kecilnya itu membuat mudah terharu melihat kesengsaraan disekitarnya dan ingin menyuarakan kepada dunia. Itulah salah satu alasan memilih teater.
 

Pindah ke Jakarta (1967) dan kenal pelukis Nashar yang mengajarkan pelatihan penghayatan, menempa batin dan rasa untuk menjadi peka karena inilah daya utama bagi penciptaan karya seni. Nashar tidak bisa menunjukkan apa untungnya bagi teater dan kemudian dicarinya sendiri. Nashar menjadi orang tua keseniannya hingga wafat.
 
Berkuliah di Akademi Teater Nasional dan untuk memperdalam teater, ia kemudian memberanikan diri secara otodidak dan belajar secara perorangan dengan Teguh Karya (alm), Wahyu Sihombing (alm), Pramana PMD (alm), Kasim Achmad, D. Djajakusuma (alm) dan menjadi anggota aktif serta asisten Arifin C Noer (alm) di Teater Ketjil sejak 1968.

 
Beberapa naskah besar telah ditulis selama berkeliling yakni ‘Jing Jong’ (1978), ‘Para Topeng’ (1979), ‘Wayang, Dalang Siapa Dalang’ ( 1979), ‘Konser Raya’ (1991), ‘The Expression’ (1996), ‘We Are the World’ (2004). Naskah pendek, ‘Reketek-Reketek’ (1979), ‘Suara Kartini’ (1982), dan ‘Sang Limbah’ (1992), dan sejumlah naskah pendek untuk televisi di Balikpapan, Kalimantan Timur, naskah panggung yang diminta kelompok setempat untuk studi akting. Menulis naskah drama karena kebutuhan batiniah serta pemikirannya tentang apa yang ditangkap dalam perjalanan kelilingnya sering tidak menemukan karya pengarang naskah yang tepat. Beberapa saduran juga dilakukan seperti Bantal Ajaib (Yukio Misima), Badak-Badak (Eugene Ionesco), Komidi Don Yuan (Moliere), Romeo Juliet,  (W. Shakespeare), Saudagar Venesia (W. Shakespeare), Cinta Perilaku Panas/A Midsummer night’s dream (W. Shakespeare), Yang Mulia Sampar (Albert Camus), Lingkaran Putih (Bertholt Brecht), Tragedi Manusia (Imre Madach).
 
Pernah mengikuti The 6th Cairo International Festival for Experimental Theater di Kairo, Mesir (1974), Indian Oceans Arts Festival di Perth, Australia (1979), Singapura Drama Festival (1981), The International Festival for Young Professional Theater di Sibiu, Rumania (1994), First International Drama Festival di Lahore, Pakistan (1996), The 8th Cairo International Festival for Experimental Theater di Kairo, Mesir (1996), International Performing Arts di Bangkok, Thailand (1997),The 2nd Asian Theatrical Festival di Pusan, Korea Selatan (1997)  
 
Penulis buku ‘Sang Pioner’ yang terbit pada Desember 2012 yang berisikan perjalanan teater keliling selama 38 tahun ini, menikah dengan sesama penggiat teater Ir. Dery Syrna di tahun 1979. Dikaruniai 2 orang putri, Dolfry Indah Suri dan Sesarina Puspita.
 
(Dari Berbagai Sumber )
 

You may also like...