Rusdy Rukmarata

Nama :
Rusdy Rukmarata
 
Lahir :
6 Agustus 1962
 
Pendidikan :
Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia
(tidak selesai),
Universitas Nasional
 (tidak selesai),
London Contemporary Dance Schoo, Inggrisl (1985-1986)
 
Aktifitas Berkesenian :
Pendiri grup tari Cipta Asana,
Pendiri grup teater Era Duaribu,
Pendiri grup tari Eksotika Karmawibhangga Indonesia Productions/EKI dance Company (1996)
 
Pencapaian :
Pandita Utama Buddha Dharma Indonesia (1993)
 

Seniman Tari
Rusdy Rukmarata
 
 
 
 
Pria kelahiran 6 Agustus 1962, anak pasangan pebalet dan konduktor ini awalnya tidak tertarik dengan kegiatan menari. Perpindahan musim tahun ajaran baru dari bulan Januari menjadi Juni kala ia duduk di bangku SMA-lah yang menandai periode perkenalannya dengan seni tari. Ketika itu SMA-nya mengadakan pentas seni dan semua murid di kelasnya waktu itu ikut berpartisipasi, mau tak mau ia pun harus ikut. Bersama teman-temannya, ia kemudian membuat sebuah pertunjukan yang menampilkan kegiatan tari. Untuk pentas menari itu, sekolahnya mendatangkan penari Linda Karim sebagai pengajar selama hampir satu bulan. Usai pentas, Rusdy melan­jutkan latihannya pada Linda dan bergabung dengan grup penari pria bentukan Linda yang memang sudah eksis tampil.
 
Bersama Linda Karim, Rus­dy pun mantap melangkahkan kakinya sebagai penari. Per­tunjukan pertamanya bersama kelompok tari Linda dipentas­kan di TIM. Kala itu ia berusia 16 tahun juga ikut diperkenalkan oleh Linda pada komunitas tari di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dan mempelajari tari tradi­sional Melayu, Minang, dan lain-lain. Dari Linda Karim, ia pun belajar pada banyak guru tari. Nama-nama terkenal di dunia tari sudah pernah menjadi gurunya; mulai dari Maya Tamara, Farida Oetoyo, Supriyatin, Margie Kalhorn, hingga Rudy Wowor. Tawaran demi tawa­ran pun mengalir padanya bersama kelompok tari bentu­kannya, Cipta Asana yang arti­nya tempat untuk bercipta. Namanya semakin me­lonjak ketika ia diwawancarai oleh stasiun TVRI diawal tahun 80-an untuk program Temu Remaja. Ia pun ditantang untuk membuat koreografi dan ditampilkan di stasiun televisi tersebut. Ia-pun membuat koreografi tentang Indonesia berdasarkan lagu Sakura-nya Fariz RM
 
Menjelang akhir masa SMU-nya, ia sudah memu­tuskan untuk menjadi penari profesional. Kedua orang-tu­anya mendukung penuh keinginannya asalkan ia menyele­saikan sekolahnya dan memilih sekolah yang tepat untuk mendukung keinginannya itu. Selepas SMA, ia sempat melanjutkan pendidikan di jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia dan Universitas Nasional, namun akhirnya ia tinggalkan, setelah ia memperoleh beasiswa dari British Council untuk belajar tarian kontemporer dan koreografi di London Contemporary Dance School, Inggris, selama 1 tahun pada 1985. Di sekolah itu, ia merupakan satu-satunya siswa yang berasal dari Indonesia. Ia lulus program pendidikan selama satu tahun tersebut dengan hasil amat sangat memuaskan
 
Sepulang dari London, ia merasa yakin, tari adalah jalannya. Ia kemudian membentuk kelompok teater tari Era Duaribu. Pernikahannya dengan penari Herwindra Aiko Senosoenoto juga membuka kesempatan karena ia langsung masuk dalam suatu komunitas umat Buddha Nicheren Syosyu Indonesia. ia pun dianugerahi sebagai Pandita Utama Buddha Dharma Indonesia (1993).
 
Membentuk komunitas tari Eksotika Karmawibhangga Indonesia Productions yang lebih populer dengan sebutan EKI Dance Company pada tahun 1996 di bilangan Manggarai, Jakarta Selatan. Komunitas ini tak cuma sebatas kelompok tari tapi juga sebuah wadah yang secara profesional mengelola seni dalam arti luas, mulai dari pendidikan dan pementasan seni hingga set panggung macam tata lampu, tata suara maupun properti. Dalam setiap pementasan EKI Dance Company, ia kerap kali tampil dengan adik iparnya Takako Leen Senosoenoto.
 
Dari awal membentuk EKI Dance Company, ia sadar bahwa balet dapat menjadi media penyampaian suatu pesan perubahan. Untuk lebih mengefektifkannya, ia kemudian menggabungkan dengan cabang-cabang kesenian lainnya seperti: seni suara. Atau bahkan pewayangan khususnya denga para dalang. Karena itu dalam EKI Dance Company ini bergabung pula nama-nama seperti pemusik Dian AGP dan dalang Sujiwo Tejo. Pementasan EKI Dance Company menjadi lebih beragam dengan melibatkan unsur seni tari, musik, pedalangan bahkan ia pernah melibatkan pula penyair Sitok Srengenge dalam suatu pementasan.
 
Bersama EKI Dance Company, Rusdy mengembangkan pertunjukan drama musikal yang masih asing di Indonesia, bahkan nyaris tidak ada. Tema pertun­jukan banyak EKI Dance Company menyorot fenomena dan keresahan jaman seperti masalah gay, aborsi, seks bebas dan belakangan ia merasa asyik membongkar masalah-masalah sosial kota besar. Seperti masalah rumah tangga, perselingkuhan suami-istri dll. Dengan tema yang tajam, Rusdy mengaku tidak takut dicekal karena ia memi­liki dasar yang kuat sewaktu membuat pertunjukan ter­sebut. Motivasi mengangkat tema yang fenomena ini bukan untuk pamer ataupun agresi. Bersama kelompoknya, ia tercatat pernah mementaskan ‘Nona dan Tuan’ di Makassar Art Forum pada 1999, ‘Madame Dasima’ di TIM Jakarta (2001), ‘Love Lost’ dalam acara NAISDA Dance College End Year Production di Sydney Australia (2001) dan ‘Jakarta Love Riot’ di Gedung Kesenian Jakarta.
 
Di EKI Dance Company, ia membawa fi­losofi tari Martha Graham dan Bob Force (koreografer kaba­ret di Chicago), bahwa gera­kan itu adalah feeling, bukan akrobatiknya. Penonton diberi hal yang baru sehingga bisa lebih ekspresif dari sisi gera­kan bukan akrobatiknya. Itulah kunci sukses ayah 4 orang anak ini, dan ini kunci bagi setiap penari pemula yang telat belajar balet, tegasnya.
 
(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...