Sal Murgiyanto

Seniman Tari
Sal Murgiyanto
 
 
 
Selepas studi S-1 di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Yogyakarta, Ia menempuh program MA tari di Universitas Colorado, Boulder, Amerika Serikat, dari  tahun 1975 sampai tahun 1976. Tiba di Amerika Serikat dengan kemampuan berbahasa Inggris yang terbatas, dari latar belakang sebuah keluarga sederhana dan pramodern di pedalaman Jawa.
 
Pengalaman belajar dan tinggal di kampus Colorado University memberikan pelajaran dan pengalaman tersendiri. Dua hal penting dalam hidup ia raup, arti uang dan kebebasan didalam kehidupan modern. Pelajaran kedua yang ia peroleh di Amerika Serikat adalah bagaimana pentingnya kebebasan, yang merupakan tulang punggung demokrasi. Ia belajar tentang Abraham Lincoln, presiden Amerika abad-19 yang demi penghapusan perbudakan orang kulit hitam, bersedia berperang melawan bangsanya sendiri dan siapa saja yang menolak prinsipnya bahwa perbudakan bertentangan dengan cita-cita republik.
 
Manusia modern Amerika dengan rasionalitas universal bercita-cita menyempurnakan manusia melalui upaya manusia sendiri. Kesenian dalam masyarakat agraris pramodern dilakukan sebagai aesthetic celebration of life, kegiatan yang menyangkut berbagai aspek kehidupan bersama, berubah menjadi sarana untuk menampilkan keunikan pribadi. Orisinalitas, otentisitas, otonomi, kemerdekaan kreatif merupakan cap dalam arti modern. Hal-hal itulah yang ia bawa kembali pada tahun 1976 dan menjadi dasar kegiatan tari yang ia tangani di Institut Kesenian Jakarta dan Dewan Kesenian Jakarta. Masalahnya bagaimana mengadaptasi konsep-konsep tersebut bagi seniman tari Indonesia yang masih kuat meyakini nilai-nilai kehidupan agraris modern.
 
Sepulang dari Amerika Serikat tahun 1991, setelah ia melanjutkan kembali studinya, ia melihat praktek tumpang tindih antara ketiga konsepsi : pramodern, modern dan pascamodern disatu pihak, ditandai dengan maraknya wacana pluralisme dan toleransi budaya, kolaborasi dan pertunjukkan pentas lintas budaya (pameran KIAS, Kebudayaan Indonesia di Amerika Serikat) Ia terlibat dalam dua festival dunia : Indonesia Dance Festival (1992 – 2002) dan Art Summit Indonesia (1995, 1998 dan 2001), keduanya mengangkat tema multikulturalisme. Di lain sisi, globalisasi memacu seni pertunjukan Indonesia ke pasar. Ia juga terlibat didalam pertunjukan tari Samgita Pancasona dan Janda dari Dirah karya Sardono W. Kusumo, menyusun tari Candrakirana, tari Damarwulan, tari Sukrasana, tari Sumantri dan tari Narasoma.
 
(Dari Berbagai Sumber) 
 

Nama :
Matheus Saleh Murgiyanto
 
Lahir :
Surakarta, Jawa Tengah,
7 Juli 1939
 
Pendidikan :
ASTI Yogyakarta (1975),
Master of Art dari Univesity of Colorado, Departement of  Theatre and Dance,
Amerika Serikat  (1975-1976),
Ph. D dari Departemen Kajian Pertunjukkan Tisch School of Arts, New York University, Amerika Serikat (1991)
 
Profesi :
kritikus seni,
Pengajar Institut Kesenin Jalarta,
Pengajar Pasca Sarjana Universitas Gajah Mada, Pengajar Departemen Tari National Institute of Arts (Taipei),
 
Aktifitas Lain :
Anggota DKJ (1978-1985),
Konsultan Yayasan Kesenian Jakarta,
Ketua Masyarakat Kesenian Jakarta,
Ketua Pelaksana Indoesian Dance Festival
(1992, 1993 dan 1994),
Anggota World Dance Alliance Asia Pacific Centre
 
Karya Tulis :
Ketika Cahaya Merah  Memudar : Sebuah Kritik Tari (1993)
 
Pencapaian :
Indonesian Dance Festival Lifetime Achievement Awarad 2014

You may also like...

Leave a Reply