Sandy Nayoan


Aktor Film
Sandy Nayoan
 
 
 
Anak ketiga dari lima bersaudara ini dilahirkan di Jakarta, 18 Oktober 1970. Pendidikannya di tempuh di Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia (UKI), Jakarta. Sejak tahun 1988 telah bermain dalam TV-Play (sinetron), yang di mulai dengan bermain dalam ’Kepak Sayap Burung Garuda’ (1988), lalu ’Jendela Rumah Kita’, ’Pernikahan Darah’ dan ’Selirih Bisikan Kasih’ (1991). Namun namanya baru berkibar setelah kemunculannya dalam sinetron ’Sengsara Membawa Nikmat’ (1991), dimana ia bermain sebagai pemuda Minang bernama Midun.
  
Memulai karier di dunia film layar lebar melalui film Tutur Tinular III’ (1992). Ketika film Indonesia mengalami keterpurukan, ia kemudian beralih kembali ke sinetron, bermain dalam beberapa judul sinetron, antara lain ’Ceplas-Ceplos’ (1993), ’Bunga-Bunga Kehidupan’ (1994), ’Tembang Sendu’ (1994), ’Pengantin Lari’ (1994), ’Aku Mau Hidup’ (1994), ’Menghitung Hari’ (1995), ’Masih Ada Kapal ke Padang’ (1995), ’Naga Bonar’ (1996), ’Sop Kambing’ (1997), dll. Tahun 2002, kembali bermain dalam film Peti Mati’ (2002), ’Valentine’ (2008)dan Rahasia Bintang’ (2008).
 
Atas peran aktifnya dalam dunia film dan sinetron, beberapa prestasi pernah ia peroleh, diantaranya meraih penghargaan sebagai Pemeran Utama Pria Sinetron pada Festival Sinetron Indonesia (1995), memdapatkan penghargaan sebagai Best Dressed Men oleh Yayasan Pembina Model Indonesia  (1997), memperoleh Piala VIDIA FSI (1997), menyabet penghargaan Anugrah Prestasi Aktor Terbaik (2000), meraih penghargaan dalam ajang Festival Film Bandung (2003) dll.
 
Sandy juga dikenal sebagai pengusaha yang bergerak di bidang perpupukan. Ia juga sering memberikan penyuluhan ke para petani di desa-desa terpencil. Aktif menjadi kader di salah satu partai politik dan sempat menjabat beberapa jabatan penting di bidang politik diantaranya Ketua Bidang Hubungan Internasional DKN Garda Bangsa, Ketua Bidang Pemilih Pemula DKN Garda Bangsa, Caleg DPR RI Dapil SULUT 2009, dll.
 
Meski sudah terjun ke dunia politik, Sandy masih tetap berkarya di bidang seni. Hanya saja untuk tawaran sinetron, ia kini lebih bersikap pilih-pilih soal skenario maupun sutradara yang menggarapnya. “Kalau bagus, saya ambil. Kalau malah menimbulkan efek negatif untuk image, saya tolak,” ujarnya.
 
(Dari Berbagai sumber)

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Nama :
Dwight George Nayoan
 
Lahir :
Jakarta, 18 Oktober 1970
 
Pendidikan :
Fakultas hukum Universitas Kristen Indonesia (UKI)
 
Profesi :
Aktor,
Pengusaha,
Kader Partai
 
Penghargaan :
Pemeran Utama Pria Sinetron Festival Sinetron Indonesia (1995),
Best Dressed Men dari Yayasan Pembina Model Indonesia (1997),
Piala VIDIA FSI (1997), Anugrah Prestasi Aktor Terbaik (2000),
Penghargaan dalam ajang Festival Film Bandung (FFB) (2003)
 
Filmografi :
Tutur Tinular III (1992),
Peti Mati (2002),
Valentine (2008),
Rahasia Bintang (2008)
 
Sinetron :
Kapak Sayap Burung Garuda (1988),
Jendela Rumah Kita (1988),
Pernikahan Darah (1988),
Selirih Bisikan Kasih (1991)
Sengsara Membawa Nikmat (1991),
Ceplas-Ceplos (1993),
Bunga-Bunga Kehidupan (1994),
Tembang Sendu (1994),
Pengantin Lari (1994),
Aku Mau Hidup (1994),
Bisikan Lara (1995),
1 Kakak 7 Ponakan (1995),
Menghitung Hari (1995),
Masih Ada Kapal ke Padang (1995),
Di Bawah Purnama Aku Berdoa (1996),
Naga Bonar (1996),
Sepanjang Jalan Kenangan (1997),
Cintaku Padamu (1997),
Sop Kambing (1997),
Tersanjung 1 (1998),
Tersanjung 2 (1999),
Dewi Fortuna (2000),
Anak Ajaib (2000),
Sejuta Rasa Sayang (2001),
Sang Pencinta (2001),
Wah Cantiknya 1 (2001),
ABG I (2002),
Bunga (2002),
Kecil-Kecil Jadi Manten (2003),
Senandung Masa Puber (2003),
ABG II (2003),
Menuju Puncak (2004),
Bidadari 3 (2004),
Fatimah (2007)

You may also like...

Leave a Reply