Semsar Siahaan

Nama :
Semsar Siahaan
 
Lahir :
Medan, Sumatera Utara,
11 Juni 1952
 
Wafat :
Tabanan, Bali,
23 Februari 2005
 
Pendidikan :
SD France Freshern, Beograd (Yugoslavia),
FSRD ITB
 (1977-1981, tidak selesai)
Kuliah seni lukis di Prancis,
San Francisco Art Institute (SFAI), San Fransisco, Amerika Serikat
 
Kegiatan Lain :
Salah seorang pendiri Serikat Buruh Merdeka dan Aliansi Jurnalistik Independen (AJI)
 
 
 
 
 
 
 
 
 


Perupa
Semsar Siahaan
 
 
 
Lahir di Medan, Sumatera Utara, 11 Juni 1952. Anak kedua dari enam bersaudara. Dibesarkan dalam keluarga militer, ayahnya Mayjen (Purn) Ricardo Siahaan adalah seorang petinggi militer yang pernah menjadi atase militer di Beograd, Yugoslavia. Karena mengikuti sang ayah yang sedang bertugas, pada usia 9 tahun sudah belajar melukis di bawah bimbingan gurunya di SD France Freshern di Beograd, Yugoslavia).
 
Tahun 1977-1981, mempelajari seni patung di FSRD ITB, namun tidak sampai selesai karena diberhentikan setelah ia melakukan aksi membakar patung karya dosennya, Soenaryo, yang berjudul ‘Irian Dalam Torso’ karena dianggapnya sebagai seni kemasan yang mengeksploitasi orang Papua. Ia pun lalu pergi ke Prancis. Di sana dia mendalami seni lukis. Menyempatkan diri kuliah di San Francisco Art Institute (SFAI), San Fransisco, Amerika Serikat, dibawah bimbingan pelukis Amerika Bruce Mc Gaw dan Ursula Schenider.
 
Tahun 1979, Semsar sudah memperlihatkan kecenderungan membuat karya-karya yang bersifat eksperimental. Karyanya yang kontroversial pada masa itu adalah ‘Oleh-Oleh Dari Desa I’, di buat dengan material yang mudah hancur, seperti menggunakan pelepah pohon pisang, daun pisang dan kemenyan. Karya ekperimennya yang lain sempat menimbulkan kehebohan yaitu ‘Oleh-Oleh Dari Desa II’ yang bertema kritik seni rupa modern Indonesia, yang di tandai dengan pembakaran karya dosennya tersebut.  Selain itu Ia juga dikenal sebagai perupa yang kritis dan sering melakukan aksi protes. Pada saat kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1981, dia pernah membakar karya lukisnya sendiri karena dianggap hanya bersifat suvenir.

Pada tahun 1984, setelah menyelesaikan kuliah di San Francisco Art Institute (SFAI), San Fransisco, Amerika Serikat, Semsar kembali ke Tanah Air. Ia pun menunjukkan integritas dan dukungan pada gerakan mahasiswa dan buruh yang prodemokrasi dengan menggelar pameran lukisan yang disertai diskusi keliling di sejumlah kampus di Pulau Jawa. Ketika itu, lagi-lagi membakar puluhan lukisannya di hadapan para aktivis.
 
Ketika Tempo, Editor dan Detik dibreidel penguasa Orde Baru, ia pun ikut bergabung demonstrasi. Saat itu, dia bahkan pasang badan melindungi seorang perempuan yang dianiaya aparat. Dia cedera berat, kakinya patah dan harus dirawat berbulan-bulan di rumah sakit dan menjadi cacat. Juga di kenal sebagai salah seorang pendiri Serikat Buruh Merdeka dan Aliansi Jurnalistik Independen (AJI) yang didirikannya bersama dengan para aktivis pers lainnya di Indonesia.
 

Keberanian Semsar dalam menentang pemerintahan pada masa itu tak cukup sampai di situ, ia melakukan aksi yang tergolong nekat yaitu memanjat kubah planetarium malam menjelang pagi untuk memasang spanduk ‘Manifesto politik berkeseniannya’, tanpa seizin pihak terkait, ia juga melukis mural anti-Soeharto dan anti-militerisme di tembok luar Teater Arena TIM.

 
Pada Bienalle Seni Rupa Jakarta IX di, ia juga menggelar pameran seni instalasi yang terbilang berani, ia mengali halaman belakang TIM laksana liang kubur dan mengisinya dengan patung-patung mayat dan setelah itu membakar karya-karya tersebut, sehingga membuat penikmat dan pengamat seni rupa terperanjat dan sulit percaya.
 
Tercatat sejak tahun 1979, Semsar telah mengikuti sebanyak 12 kali pameran bersama dan pameran tunggal di Bandung, Jakarta dan Australia. Pamerannya tersebut antara lain meliputi karya patung, lukisan dan seni rupa pertunjukan. Tahun 1991, ia memberi ceramah keliling di Sydney, Melbourne, Wollongong, Canberra, Hobart dan Adelaide. Selain itu, ia juga di undang sebagai perupa tamu di University of New South Wales, Australia.
 
Pada tahun 1997, saat situasi politik dalam negeri dalam keadaan galau ditandai dengan penculikan terhadap beberapa aktivis, Semsar meninggalkan tanah air, pergi ke Kanada. Setelah dibujuk sahabat ayahnya, sekalian untuk berobat. Di negeri tersebut, ia sempat menjadi tamu terhormat The University of Victoria.
 
Sepulang dari Kanada, ia memilih tinggal menetap di Dusun Kesambi, Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, 16 kilometer di utara kota Tabanan, Bali. Di sana ia mempunyai tanah yang di belinya dari seorang petani. Di atas tanah seluas lebih 3000 meter tersebut kemudian di bangun sebuah studio. Namun nasib berkata lain, pada saat sedang melihat-lihat tukang bangunan mengerjakan studio sekaligus huniannya tersebut, ia mengalami serangan jantung. Semsar meninggal di Rumah Sakit Umum Daerah Tabanan, Rabu 23 Februari 2005 pukul 01.00 Wita. Jenazahnya disemayamkan di Galeri Cipta, TIM, yang kemudian dimakamkan di kebun milik penyair WS Rendra (alm), Citayam, Depok, Jawa Barat.
 
(Dari berbagai Sumber)

You may also like...

Leave a Reply